Bukan Cuma Mangga dan Pantai! Ini 5 Jejak Sejarah di Indramayu: Dari Museum di Tepi Sungai hingga Bunker Peninggalan Jepang
Khairunnisa RB• Minggu, 14 Juni 2026 | 19:58 WIB
Museum bandar cimanuk. Foto: Instagram @museum_mbc
RADAR BOGOR - Warga Bogor, ketika mendengar kata Indramayu, yang terlintas di benak Anda mungkin hanya mangga gedong gincu. Padahal Indramayu juga kaya akan wisata sejarah.
Ternyata kota pesisir utara Indramayu ini menyimpan lapisan-lapisan sejarah yang tebal dari era penyebaran Islam, masa kejayaan pelabuhan internasional abad ke-16, arsitektur kolonial Belanda, hingga bunker militer peninggalan Jepang yang masih berdiri kokoh di tepi pantai.
Kabupaten Indramayu memiliki setidaknya lima destinasi wisata sejarah dengan rating tinggi dan kredibilitas yang tidak bisa diremehkan. Ada Museum Bandar Cimanuk yang menyimpan peta kuno dan mata uang masa lalu.
Ada Gedung Landraad dengan pilar putih bergaya Indische Empire, hingga Situs Ki Resi yang konon menyimpan jejak tapak kaki manusia purba.
Bagi Anda warga Bogor yang biasa berwisata sejarah ke Kota Tua Jakarta atau Cirebon, sekarang saatnya mencoba ke timur laut. Hanya 3-4 jam berkendara, Anda bisa menyusuri peradaban Indramayu yang jarang diketahui orang banyak. Simak lima rekomendasi wisata sejarah dilansir dari Google Maps berikut ini.
1. Museum Bandar Cimanuk
Ketika Anda berdiri di tepi Sungai Cimanuk, membayangkan kapal-kapal dagang dari Eropa, Cina, dan Arab berlabuh di sini pada abad ke-16. Itulah suasana yang coba dihidupkan kembali oleh Museum Bandar Cimanuk.
Museum yang berlokasi tepat di kawasan kota tua Indramayu ini menjadi pusat dokumentasi visual tentang kejayaan masa lalu Indramayu sebagai kota pelabuhan internasional, sebuah fakta yang mungkin belum banyak diketahui orang.
Di dalam museum, Anda akan disambut koleksi yang sangat autentik, peta kuno Pelabuhan Cimanuk yang digambar tangan oleh kartografer Belanda, naskah-naskah kuno beraksara Jawa dan Arab, mata uang kuno yang pernah beredar di Pantura (termasuk uang Portugis dan Belanda), serta foto-foto eksklusif lanskap Kota Indramayu tempo dulu.
Jangan lewatkan sesi diskusi dengan komunitas sejarah lokal yang sering berkumpul disana, mereka bisa bercerita banyak tentang betapa strategisnya Indramayu di jalur rempah.
Datanglah pagi hari sebelum museum ramai pengunjung, dan jangan lupa mampir ke tepi Sungai Cimanuk yang hanya beberapa langkah dari museum.
Bagi Anda pecinta fotografi heritage, Gedung Landraad adalah surga kecil di tengah hiruk pikuk pusat Kota Indramayu.
Dibangun pada awal abad ke-20, gedung ini dahulu berfungsi sebagai pengadilan pemerintah Hindia Belanda untuk mengadili masyarakat pribumi, sebuah saksi bisu sistem hukum kolonial yang pernah berlangsung di Pantura.
Arsitekturnya bergaya Indische Empire Style, dengan pilar-pilar putih besar yang kokoh, jendela kayu raksasa setinggi orang dewasa, dan langit-langit yang menjulang tinggi memberi kesan megah sekaligus angker.
Saat ini, bangunan ini masih difungsikan untuk kegiatan pemerintahan, namun Anda tetap bisa memasuki area luar dan halaman gedung untuk berburu foto.
Waktu terbaik untuk datang adalah sore hari ketika sinar matahari keemasan menyinari pilar-pilar putih, hasil fotonya akan sangat dramatis, seperti sedang berada di Eropa abad 19.
Jangan lupa untuk melihat detail ukiran kayu di pintu dan jendela yang masih asli sejak pertama kali dibangun.
Karena gedung ini masih aktif digunakan, datanglah pada jam kerja dan minta izin terlebih dahulu kepada petugas jika ingin masuk ke area dalam.
Jauh sebelum Islam datang dan Belanda menjajah, Indramayu ternyata memiliki jejak peradaban kuno yang berkaitan dengan pengaruh Hindu-Buddha. Situs Ki Resi di Desa Bulak, Kecamatan Jatibarang, adalah buktinya.
Di sini Anda akan menemukan benda-benda cagar budaya yang sangat langka, batu candi dengan pahatan sederhana, struktur bata kuno yang tersusun rapi, dan yang paling misterius, Batu Tapak, yaitu batu yang memiliki cetakan mirip tapak kaki manusia purba.
Situs ini dirawat oleh juru pelihara setempat yang sangat ramah dan bersedia menjelaskan sejarah situs secara turun-temurun.
Menurut cerita, batu tapak tersebut diyakini sebagai jejak seorang tokoh spiritual yang pernah bermeditasi di kawasan ini pada masa pra-Islam.
Apakah itu mitos atau fakta? Anda bisa datang dan menilai sendiri. Suasana di sekitar situs teduh karena banyak pohon rindang, cocok untuk Anda yang ingin wisata sejarah sambil menikmati ketenangan desa.
Karena situs ini berada di area terbuka dan tidak terlalu ramai, disarankan datang pagi atau sore hari.
Ini adalah destinasi wisata sejarah yang paling sakral sekaligus paling penting di Indramayu. Makam Raden Aria Wiralodra (Wiralodra I) adalah kompleks pemakaman pendiri sekaligus bupati pertama Kabupaten Indramayu.
Beliau adalah tokoh legendaris yang membabat alas (membuka hutan) di sekitar Sungai Cimanuk pada tahun 1527 Masehi, yang kelak menjadi cikal bakal wilayah Indramayu yang kita kenal sekarang.
Kompleks makam ini dirawat sangat baik dan memiliki arsitektur gapura yang menyerupai bangunan keraton, sangat instagramable bagi pecinta fotografi budaya.
Bagi Anda yang berziarah, kompleks ini juga menyimpan berbagai pusaka yang biasanya dikeluarkan pada waktu-waktu tertentu, seperti malam 1 Syura atau Hari Jadi Indramayu.
Di area makam, Anda bisa mempelajari silsilah para bupati Indramayu dari masa ke masa. Suasananya tenang, khidmat, dan sangat terawat. Lokasi ini cocok untuk Anda yang ingin menggabungkan wisata religi dengan wisata sejarah.
Ini adalah destinasi sejarah militer yang paling unik dan mungkin paling Instagramable di Indramayu.
Pantai Eretan adalah lokasi bersejarah tempat pertama kalinya pasukan Angkatan Darat ke-16 Kekaisaran Jepang mendarat di Pulau Jawa, tepatnya pada 1 Maret 1942.
Peristiwa ini menandai runtuhnya kekuasaan Belanda di Jawa Barat dan dimulainya era pendudukan Jepang yang berlangsung hingga 1945.
Di sekitar kawasan pesisir Eretan Kulon dan Eretan Wetan, Anda masih bisa menemukan sisa-sisa bunker beton (pillbox) peninggalan militer Jepang.
Bunker-bunker ini dulunya digunakan sebagai benteng pertahanan dan pos pengintaian laut untuk mencegah serangan balik Sekutu.
Sekarang, bangunan beton bertulang ini berdiri kokoh di tepi pantai, sebagian tertimbun pasir, sebagian masih utuh dengan lubang-lubang bekas tempat senjata.
Anda bisa masuk ke dalam bunker untuk merasakan bagaimana dinginnya suasana di dalam sambil membayangkan para tentara Jepang dulu berjaga di sini. Setelah puas eksplorasi, Anda bisa langsung menikmati Pantai Eretan yang ombaknya tenang.