Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Ternyata Banten Menyimpan Negeri di Atas Awan, dan Warga Bogor Bisa Sampai Kurang dari 4 Jam

Kholikul Ihsan • Minggu, 28 Juni 2026 | 17:18 WIB
Gunung Luhur Citorek. Foto: Instagram @wisatabanten.co.id
Gunung Luhur Citorek. Foto: Instagram @wisatabanten.co.id

RADAR BOGOR - Setiap pagi di antara Mei dan September, sesuatu yang menakjubkan terjadi di sebuah bukit di pedalaman Lebak, Banten. Seperti negeri di atas awan.

Saat sebagian besar warga Bogor masih tidur atau baru menyeduh kopi pertama mereka, di ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut, hamparan kabut putih tebal bergulung-gulung pelan di antara lembah-lembah hijau. Warga Lebak Banten yang ada di sana menyebutnya Negeri di Atas Awan.

Fenomena itu bukan terjadi di Dieng, bukan di Bromo, bukan pula di tempat yang membutuhkan perjalanan berhari-hari. Itu terjadi di Gunung Luhur, Citorek, Kabupaten Lebak yang bagi warga Bogor Barat, jaraknya bisa ditempuh dalam waktu kurang dari empat jam perjalanan darat melalui jalur pedalaman yang asri.

Baca Juga: Rayakan 102 Tahun WKRI, Wanita Katolik Paroki Santo Andreas Sukaraja Bogor Gelar Misa Syukur

Inilah yang belum banyak disadari, kabupaten Lebak bagian timur berbatasan langsung dengan Kabupaten Bogor. 

Anda tidak perlu memutar lewat Merak atau Serang yang jauh dan memakan waktu. Cukup ambil jalur Jasinga atau Cigudeg ke arah barat, dan beberapa jam kemudian, Banten akan menyambut Anda dengan pemandangan yang sulit dipercaya bisa ada sedekat ini dari rumah.

Gunung Luhur Citorek

Nama Gunung Luhur sudah cukup sering muncul di linimasa media sosial, foto-foto hamparan awan putih tebal yang mengisi seluruh lembah hingga bukit-bukit hijau di sekelilingnya tampak seperti pulau-pulau yang mengambang di lautan. 

Baca Juga: Bupati Bogor Terima Tanda Kehormatan dari Kerajaan dan Kesultanan Nusantara

Tapi melihatnya di layar dan berdiri langsung di tepi bukit saat awan itu bergulung di bawah kaki Anda adalah dua pengalaman yang tidak bisa dibandingkan.

Dari Bogor, akses menuju Gunung Luhur ditempuh melalui rute Jasinga – Cigelung – Cipanas Lebak – Citorek, dengan total waktu perjalanan sekitar dua setengah hingga tiga setengah jam bergantung pada kondisi lalu lintas keluar kota. 

Jalur utama masuk kawasan Citorek sudah beraspal mulus, termasuk Jalan Wewengkon Adat Citorek yang menjadi koridor utama menuju area parkir Gunung Luhur. 

Tidak ada tanjakan ekstrim yang membutuhkan kendaraan khusus kendaraan keluarga biasa pun bisa melaluinya dengan nyaman asalkan kondisi rem dan ban dalam keadaan prima.

Baca Juga: Air Sebening Kaca, Warna Sehijau Zamrud: 5 Sungai Tercantik Ini Ada di Jawa Barat 

Momen yang paling diburu adalah sunrise antara pukul lima hingga delapan pagi, ketika matahari muncul perlahan dari balik perbukitan Halimun dan membelah lautan awan yang masih tebal dengan cahaya keemasan pertamanya.

Bagi yang tidak ingin terburu-buru, tersedia fasilitas yang sudah sangat lengkap, area camping ground dengan penyewaan tenda, warung-warung lokal yang buka dua puluh empat jam menyajikan kopi dan makanan hangat, toilet, mushola, hingga homestay sederhana milik warga setempat yang memungkinkan Anda menginap semalaman dan bangun tepat waktu untuk mengejar momen terbaik itu.

Satu catatan penting yang tidak boleh diabaikan, fenomena Negeri di Atas Awan di Gunung Luhur sangat bergantung pada cuaca. Datanglah di musim kemarau, idealnya antara Juni hingga Agustus untuk peluang terbaik menyaksikan lautan awan yang sempurna. 

Baca Juga: Tak Masuk Rencana, Andre Onana Kembali Dipinjamkan Menchester United ke Trabzonspor 

Pada musim hujan, kabut biasanya buyar menjadi hujan atau angin kencang sebelum sempat membentuk hamparan yang dramatis itu.

Puncak Pilar Lebak

Satu jam setelah puas menyaksikan sunrise di Gunung Luhur atau sebagai destinasi tersendiri jika waktu tidak memungkinkan untuk menginap, ada satu bukit lagi di kawasan yang sama yang sayang untuk dilewatkan begitu saja, Puncak Pilar di kawasan Cariang, Lebak.

Lokasinya berada satu jalur dengan arah Citorek, menjadikannya sangat logis untuk digabungkan dalam satu perjalanan. 

Baca Juga: Tahun Ini, Pemkot Bogor Bidik Perbaikan 2 Ribu Rumah Tidak Layak Huni

Konsepnya berbeda dari Gunung Luhur, bukan tentang fenomena awan, melainkan tentang pemandangan panorama lembah hijau yang terbuka lebar, perpaduan vegetasi hutan hujan tropis, jejeran pohon pinus, dan lanskap Kabupaten Lebak yang menghampar tanpa batas di cakrawala.

Yang membuat Puncak Pilar menjadi favorit kalangan penggemar konten visual adalah infrastruktur foto yang dibangun pengelola lokalnya dengan sangat cermat, dermaga kayu (boardwalk) dan gardu pandang estetis yang menjorok ke arah tebing bukit, memberikan ilusi berdiri di atas udara dengan lembah hijau sebagai latar belakang yang terbuka penuh. 

Spot-spot ini tersebar di beberapa titik kawasan, sebagian bisa diakses gratis dan sebagian lagi dengan tarif yang sangat terjangkau.

Baca Juga: Buka Lebih Lama Saat Musim Libur, Ini Bocoran Fasilitas Kolam Renang Putri Duyung Depok

Di antara sesi berfoto, udaranya adalah hadiah tersendiri. Jejeran pohon pinus yang mengelilingi area bukit menjaga suhu tetap sejuk bahkan di tengah siang hari yang terik, sebuah kenyamanan yang tidak bisa dianggap remeh bagi yang datang dari kawasan kota yang panas. 

Fasilitas dasarnya memadai: area parkir yang cukup luas, warung makanan ringan dan minuman, serta toilet yang terawat.

Bukit Batu Lawang Rangkasbitung

Di antara semua destinasi perbukitan di Banten yang bisa dijangkau dari Bogor, Bukit Batu Lawang atau yang secara administratif dikenal sebagai Gunung Batu di Kecamatan Kalanganyar, Cilangkap, Lebak memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki satupun destinasi lain dalam daftar ini, bisa dicapai menggunakan KRL Commuter Line, tanpa kendaraan pribadi sekalipun.

Baca Juga: Manchester City Pecahkan Rekor Transfer Inggris, Elliot Anderson Diboyong Rp2,6 Triliun

Rutenya sesederhana ini, dari Bogor, naik KRL arah Tanah Abang, transit, lanjut ke jalur Rangkasbitung hingga stasiun akhir. 

Dari Stasiun Rangkasbitung, Bukit Batu Lawang bisa dicapai dalam waktu sekitar empat puluh menit saja menggunakan angkutan lokal atau ojek daring. 

Bagi keluarga yang tidak memiliki kendaraan, bagi anak muda yang ingin trip spontan tanpa biaya besar, atau bagi siapapun yang bosan dengan opsi wisata akhir pekan yang selalu sama ini adalah terobosan yang sangat berarti.

Karakternya berbeda dari dua destinasi sebelumnya, bukan hamparan rumput bukit atau lautan awan, melainkan gugusan batuan karst purba yang menjulang tebing-tebing batu raksasa yang telah berdiri selama jutaan tahun, ditumbuhi vegetasi tropis di sela-sela retakannya, dan membentuk jalur pendakian yang sudah dilengkapi tali pengaman di beberapa titik berbahaya. 

Baca Juga: Mapag Pajajaran Anyar, 40 Kecamatan Meriahkan Helaran HJB ke 544 di Cibinong Bogor

Trekking ringan menaiki anak tangga batu menuju puncaknya tidak membutuhkan stamina atlet, siapapun dengan kondisi fisik normal dan alas kaki yang tepat bisa melakukannya.

Sesampainya di atas, pemandangan yang menunggu adalah panorama Kabupaten Lebak yang hijau membentang, aliran sungai yang berkelok di antara sawah, pemukiman tradisional yang tertata di lembah, dan udara yang terasa jauh lebih bersih dari apapun yang bisa dihirup di dalam batas kota. 

Bukit ini juga menjadi titik favorit komunitas panjat tebing (rock climbing) dari berbagai kota, menjadikan suasananya hidup tanpa pernah terasa terlalu ramai.

Baca Juga: Prabowo Bakal Pangkas BUMN Besar-besaran, dari 1.077 Entitas Tinggal 250 Perusahaan

Lautan awan Gunung Luhur, lembah hijau Puncak Pilar, dan tebing batu purba Batu Lawang ketiganya ada di Banten, semuanya dekat dari Bogor, dan semuanya menawarkan pemandangan yang jauh melampaui ekspektasi siapapun yang belum pernah ke sana.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#Lebak #negeri di atas awan #Banten