Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Ada Niagara Mini: 4 Air Terjun Tersembunyi di Lebak Banten yang Belum Banyak Diketahui Warga Bogor

Kholikul Ihsan • Minggu, 28 Juni 2026 | 18:31 WIB
Curug Munding. Foto: Instagram @explore_lebak
Curug Munding. Foto: Instagram @explore_lebak

RADAR BOGOR - Warga Bogor sudah sangat akrab dengan air terjun atau curug. Curug Nangka, Curug Cigamea, Curug Leuwi Hejo, semua sudah pernah dikunjungi, dan pada akhir pekan panjang sudah pasti dipadati pengunjung hingga antrian parkir mengular ratusan meter. 

Bagi yang mencari air terjun dengan suasana yang berbeda, lebih sepi, lebih alami, lebih dalam di dalam hutan yang benar-benar masih terjaga jawabannya ada di sebelah barat perbatasan Bogor, di kawasan yang selama ini lebih dikenal sebagai jalur pintas menuju Gunung Luhur: Kabupaten Lebak, Banten.

Dianugerahi topografi perbukitan dan hulu sungai bebatuan purba yang mengalir dari jantung kawasan Gunung Halimun, Lebak menyimpan deretan air terjun yang eksotis dan alami—sebagian di antaranya bahkan berada di dalam kawasan adat yang vegetasinya dijaga ketat oleh masyarakat setempat. 

Baca Juga: Hadiah HJB Bogor ke-544, PT. GES Luncurkan Buku Perdana untuk Dunia Pendidikan

Dan dari Bogor Barat, semua ini bisa dicapai melalui jalur Jasinga yang sama yang dilewati para pencari Negeri di Atas Awan Citorek.

Berikut empat di antaranya yang paling layak masuk daftar perjalanan berikutnya.

Curug Munding Gunung Kencana

Dari semua curug di Kabupaten Lebak, Curug Munding adalah yang paling mudah membuat orang berhenti terdiam saat pertama kali melihatnya bukan karena ketinggiannya, melainkan karena lebarnya.

Baca Juga: Jelajah Alam BNR, Ribuan Peserta Ikuti Era Trail Run di Bogor

Berlokasi di Desa Cicaringin, Kecamatan Gunung Kencana, Curug Munding memiliki karakter yang langka di antara air terjun Jawa Barat, ketinggiannya hanya sekitar sepuluh hingga lima belas meter jauh lebih rendah dari banyak curug terkenal lainnya.

Namun dinding airnya melebar sangat panjang melintasi tebing batu, menciptakan tirai air raksasa yang jatuh merata seperti gorden putih berkilap di bawah sinar matahari. 

Komposisi itulah yang membuat orang-orang yang pertama kali datang langsung teringat pada satu nama, Niagara.

Nama Munding sendiri punya cerita yang tidak kalah menarik dari penampilannya. Dalam bahasa Sunda, munding berarti kerbau. 

Baca Juga: Status SI Mulai Muncul, Penyaluran Bansos PKH dan BPNT Masih Berlangsung

Dan menurut penuturan warga yang sudah turun-temurun tinggal di sekitar curug ini, nama itu diberikan karena konon pada masa lampau, seekor kerbau milik warga jatuh atau melompat dari tebing di hulu air terjun ini sebuah detail yang kecil.

Namun entah mengapa membuat tempat ini terasa lebih hidup dan lebih punya jiwa dibandingkan curug yang hanya diberi nama berdasarkan nama desa.

Dari area parkir, perjalanan menuju Curug Munding hanya membutuhkan sepuluh hingga lima belas menit jalan kaki ringan melewati perkebunan warga cukup pendek untuk membuat siapapun sampai tanpa kelelahan.

Namun cukup panjang untuk membiarkan suasana hutan dan suara air yang semakin keras mendominasi indra sebelum air terjunnya benar-benar terlihat. 

Baca Juga: Penataan Alun-Alun Empang Bogor Dimulai, Ada Area Kuliner hingga Lahan Parkir

Di lokasi, tersedia jembatan bambu yang diposisikan menghadap langsung ke tirai air spot foto terbaik yang tanpa perlu banyak usaha menghasilkan gambar yang selalu dramatis. 

Di bawahnya, aliran sungai dangkal yang jernih cukup tenang untuk dipakai bermain air oleh anak-anak, sementara tepian sungai yang teduh dan datar menjadi lokasi piknik yang sempurna.

Curug Rame Citorek

Ada sesuatu yang lucu sekaligus tepat tentang Curug Rame. Namanya berarti ramai atau bising dalam bahasa Sunda dan memang, suara air terjunnya yang berundak-undak mengisi seluruh lembah dengan gemuruh yang kuat. 

Tapi suasana di sekelilingnya? Sepi luar biasa. Sunyi dengan kualitas yang semakin langka di destinasi wisata alam Jawa Barat.

Baca Juga: Ternyata Banten Menyimpan Negeri di Atas Awan, dan Warga Bogor Bisa Sampai Kurang dari 4 Jam

Itu karena Curug Rame berada di kawasan Kasepuhan Adat Citorek, komunitas masyarakat adat yang selama berabad-abad menjaga keasrian kawasan Gunung Halimun dengan aturan adat yang ketat. 

Vegetasi di sekeliling curug ini bukan sekadar lebat, ia lebat dengan cara yang berbeda dari hutan wisata yang dikelola untuk kemudahan akses. 

Pohon-pohonnya tinggi dan rapat, kanopi daunnya menutup hampir seluruh langit, dan lantai hutannya masih dipenuhi lumut dan serasah daun yang tidak pernah dibersihkan karena memang tidak perlu ini bukan kebun, ini hutan yang masih hidup sepenuhnya.

Dari titik parkir, jalan setapak menuju Curug Rame menyusuri tanah dan bebatuan di tengah hutan, berbeda dari curug-curug di jalur wisata mainstream yang jalurnya sudah dicor beton atau diberi pegangan besi. 

Baca Juga: Rayakan 102 Tahun WKRI, Wanita Katolik Paroki Santo Andreas Sukaraja Bogor Gelar Misa Syukur

Di sini, jalurnya masih alami, masih menuntut konsentrasi dan stamina yang wajar, dan justru itulah yang menjadikan momen tiba di depan curugnya terasa seperti sebuah hadiah yang harus diperoleh.

Air yang jatuh berundak dari ketinggian itu bersumber langsung dari Gunung Halimun, dan kejernihan serta kesegaran airnya mencerminkan perjalanan panjang yang dilalui sebelum sampai ke kolam penampungan di bawah. 

Kolam itu berwarna hijau jernih yang khas dari sumber air pegunungan, cukup luas dan dalam untuk berenang, dan suhunya cukup dingin untuk langsung membangunkan siapapun yang melompat masuk ke dalamnya. 

Karena Curug Rame berada satu jalur dengan Gunung Luhur Citorek, destinasi ini sangat ideal digabungkan dalam satu itinerari perjalanan dari Bogor.

Baca Juga: Bupati Bogor Terima Tanda Kehormatan dari Kerajaan dan Kesultanan Nusantara

Curug Ciporolak Cibeber

Di antara semua curug dalam daftar ini, Curug Ciporolak adalah yang paling jauh dari jalan utama, paling dalam di dalam hutan, dan paling berat diakses, dan justru karena itu, ia juga yang paling utuh kealamiannya.

Berlokasi di Desa Hegarmanah, Kecamatan Cibeber, Curug Ciporolak memiliki ketinggian sekitar 35 meter, lebih dari dua kali lipat tinggi Curug Munding dengan debit air yang stabil sepanjang tahun karena sumbernya ada di dalam hutan lindung yang curah hujannya konsisten. 

Letusan air dari ketinggian 35 meter menghasilkan cipratan (water mist) yang mampu membasahi pakaian siapapun yang berdiri dalam radius beberapa meter dari kolam utamanya, bahkan tanpa menyentuh air sama sekali.

Baca Juga: Yayasan AKSARA Resmi Diluncurkan, Siap Jadi Mitra Kritis Pemkot Bogor

Namanya datang dari kata Sunda porolak, yang berarti berjatuhan atau merotol. 

Tapi versi cerita yang lebih diingat oleh warga setempat adalah versi yang lebih dramatis, menurut penuturan turun-temurun, dahulu aliran dari hulu Curug Ciporolak kerap membawa bijih-bijih emas kecil yang ikut berjatuhan bersama derasnya air, sebuah cerita yang mungkin tidak bisa diverifikasi secara geologi.

Namun cukup untuk membuat setiap pengunjung yang berendam di kolamnya sesekali menolehkan pandangan ke dasar air dengan harapan yang tidak sepenuhnya disadari.

Perjalanan menuju curug ini membutuhkan trekking sekitar tiga puluh menit menyusuri hutan dan melintasi aliran sungai, cukup untuk merasakan transisi penuh dari jalanan beraspal ke dunia yang sama sekali berbeda. 

Baca Juga: Air Sebening Kaca, Warna Sehijau Zamrud: 5 Sungai Tercantik Ini Ada di Jawa Barat 

Setibanya di sana, air yang sangat dingin (bisa mencapai 15 derajat Celcius di pagi hari) dan kolam jernih di kaki tebing berlumut hijau tebal menjadi kompensasi yang lebih dari sepadan untuk setiap langkah yang sudah diayunkan. 

Bagi penggemar fotografi, dinding tebing vertikal tertutup lumut yang menjadi latar Curug Ciporolak adalah komposisi yang nyaris mustahil untuk menghasilkan foto yang jelek.

Curug Sumpel Cisungsang

Paling jauh, paling terpencil, dan paling jarang masuk dalam pembahasan wisata Lebak yang umum beredar, Curug Sumpel di kawasan Wewengkon Adat Kasepuhan Cisungsang adalah destinasi bagi mereka yang sudah melewati semua level wisata curug dan kini mencari pengalaman yang benar-benar berbeda dari apapun yang pernah dikunjungi sebelumnya.

Baca Juga: Tak Masuk Rencana, Andre Onana Kembali Dipinjamkan Menchester United ke Trabzonspor 

Berlokasi di Desa Cisungsang, Kecamatan Cibeber, di kawasan paling selatan Kabupaten Lebak yang berbatasan dengan Sukabumi, Curug Sumpel adalah air terjun bertipe plunge, artinya airnya jatuh tegak lurus dari bibir tebing ke kolam di bawahnya, tanpa bersentuhan dengan batuan di sepanjang jalur jatuhnya. 

Dengan ketinggian sekitar dua puluh meter, volume air yang jatuh itu menghantam kolam bawah dengan kekuatan yang terdengar jauh sebelum curugnya terlihat.

Yang membuat Curug Sumpel benar-benar tidak terlupakan adalah konteks geologisnya: air itu jatuh ke dalam sebuah cekungan berbentuk mangkuk yang dindingnya adalah tebing batu hitam pekat, bukan coklat atau abu-abu yang lebih umum, melainkan hitam dengan intensitas yang terasa purba dan masif. 

Baca Juga: Tahun Ini, Pemkot Bogor Bidik Perbaikan 2 Ribu Rumah Tidak Layak Huni

Suara air yang jatuh bergaung di dalam cekungan itu, memantul dari dinding batu dan menciptakan resonansi yang terdengar seperti gemuruh rendah yang mengisi seluruh telinga sebuah pengalaman auditif yang tidak ada tandingannya di curug manapun.

Sepanjang jalan setapak menuju Curug Sumpel, jalurnya melintasi bentangan sawah terasering khas pedesaan Sunda kuno yang masih digarap secara tradisional oleh warga Kasepuhan Cisungsang pemandangan yang dalam dirinya sendiri sudah layak menjadi tujuan perjalanan, bahkan sebelum air terjunnya terlihat. 

Karena jarang terjamah wisata massal, lingkungan di sekitar Curug Sumpel tetap sangat bersih dan murni salah satu yang paling terjaga di seluruh kawasan perbukitan Lebak Selatan.

Baca Juga: Menguji Supercar JDM Legendaris, Sensasi Langka Menjajal Honda NSX-R Generasi Pertama di Indonesia

Dari tirai Niagara mini Curug Munding hingga cekungan batu hitam Curug Sumpel yang bergaung, Kabupaten Lebak menyimpan kekayaan curug yang masih terlalu sedikit diketahui oleh warga Bogor yang ada di seberang perbatasannya.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#Lebak #wisata #Banten #air terjun