Museum Konferensi Asia Afrika, Wisata Sejarah yang Wajib Dikunjungi, Apa Saja Daya Tariknya?

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 11:40 WIB
Bangunan Wsata Edukasi Museum Konferensi Asia Afrika Bandung. (Foto: Gmaps Eva oh, Soffie Gusniza, Restie Santya, Estrellita lindiasari)
Bangunan Wsata Edukasi Museum Konferensi Asia Afrika Bandung. (Foto: Gmaps Eva oh, Soffie Gusniza, Restie Santya, Estrellita lindiasari)

RADAR BOGOR – Bagi warga Bogor yang ingin menikmati liburan sekaligus menambah wawasan sejarah, Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) di Kota Bandung bisa menjadi destinasi yang patut masuk dalam daftar kunjungan.

Berlokasi di kawasan bersejarah Jalan Asia Afrika, museum ini menyimpan jejak penting lahirnya solidaritas negara-negara Asia dan Afrika dalam perjuangan melawan kolonialisme.

Selain dikenal sebagai kota wisata kuliner dan alam, Bandung juga memiliki warisan sejarah dunia yang masih terawat hingga kini.

Salah satunya adalah Gedung Merdeka, bangunan ikonik yang menjadi lokasi penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika pada 1955.

Berdasarkan penelusuran yang dibagikan melalui kanal YouTube Setitik Cerita Vlog, museum ini menawarkan pengalaman wisata edukatif yang mengajak pengunjung menelusuri perjalanan diplomasi internasional Indonesia dan negara-negara berkembang.

Gedung Merdeka, Bangunan Bersejarah dengan Jejak Panjang

Museum Konferensi Asia Afrika menempati Gedung Merdeka yang memiliki sejarah panjang sejak masa kolonial Belanda.

Baca Juga: Honda Super-ONE Ramaikan Pasar Mobil Listrik, Bergaya Klasik dengan Fitur Boost 95 PS

Bangunan tersebut pertama kali didirikan pada 1895 dengan nama Societeit Concordia, sebuah gedung pertemuan sekaligus restoran yang diperuntukkan bagi kalangan elite Eropa di Hindia Belanda.

Seiring perkembangan zaman, gedung ini beberapa kali mengalami renovasi, yakni pada 1921, 1925, 1930, hingga 1949.

Pembaruan tersebut mengusung gaya arsitektur modern internasional yang masih menjadi ciri khas bangunan hingga sekarang.

Menjelang pelaksanaan Konferensi Asia Afrika 1955, Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, menginstruksikan persiapan besar-besaran agar gedung tersebut siap menyambut para delegasi dari berbagai negara.

Pada masa itu pula, nama jalan di depan gedung yang sebelumnya dikenal sebagai Groote Postweg (Jalan Raya Pos) resmi diubah menjadi Jalan Asia Afrika, nama yang tetap digunakan hingga kini sebagai simbol sejarah diplomasi Indonesia.

Jam Operasional dan Cara Registrasi Pengunjung

Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Museum Konferensi Asia Afrika, terdapat beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan.

Museum melayani kunjungan umum setiap Rabu hingga Sabtu mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB.

Sementara itu, pada Minggu, Senin, dan Selasa, museum tidak menerima kunjungan karena digunakan untuk kegiatan perawatan dan operasional internal.

Pengunjung juga diwajibkan melakukan registrasi secara daring sebelum datang ke lokasi.

Pendaftaran dilakukan dengan memindai kode QR resmi yang telah disediakan, kemudian melakukan konfirmasi data di loket saat tiba di museum.

Baca Juga: Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Alasan Sebenarnya Bikin Publik Terkejut

Sistem tersebut diterapkan untuk mengatur jumlah pengunjung harian sehingga suasana kunjungan tetap nyaman.

Koleksi Bersejarah yang Tersimpan di Museum KAA

Museum Konferensi Asia Afrika menyimpan berbagai koleksi autentik yang merekam jalannya konferensi bersejarah yang berlangsung pada 18–24 April 1955.

1. Ruang Sidang Konferensi

Salah satu area utama museum menampilkan replika ruang sidang lengkap dengan meja dan kursi yang menggambarkan posisi delegasi dari 29 negara peserta, terdiri atas 23 negara Asia dan 6 negara Afrika.

Di bagian depan ruangan, terdapat miniatur Presiden Ir. Soekarno yang sedang menyampaikan pidato pembukaan berjudul "Let a New Asia and a New Africa be Born", salah satu pidato paling bersejarah dalam diplomasi internasional.

Museum juga menampilkan figur sejumlah tokoh penting, di antaranya Mohammad Hatta, Ali Sastroamidjojo, hingga Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru.

2. Peralatan Dokumentasi Bersejarah

Pengunjung dapat melihat berbagai perangkat asli yang digunakan selama penyelenggaraan konferensi, mulai dari mesin ketik, mesin telegraf (teletypewriter), hingga kamera dokumentasi berukuran besar yang digunakan untuk merekam jalannya sidang.

Koleksi tersebut memberikan gambaran mengenai teknologi komunikasi yang digunakan pada era 1950-an.

3. Jejak Persiapan Konferensi Asia Afrika

Museum juga mendokumentasikan proses menuju penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika, termasuk Konferensi Colombo di Sri Lanka serta Konferensi Bogor yang berlangsung pada akhir Desember 1954 sebagai tahap pematangan agenda dan lokasi konferensi di Bandung.

4. Dasasila Bandung

Salah satu koleksi yang paling menarik perhatian adalah naskah Dasasila Bandung, yang dipajang dalam 29 bahasa sesuai negara peserta konferensi.

Dokumen tersebut menjadi simbol kesepakatan negara-negara Asia dan Afrika dalam memperjuangkan perdamaian dunia, menolak kolonialisme, serta memperkuat kerja sama antarbangsa di tengah situasi Perang Dingin.

Baca Juga: DJP Jawa Barat III Catatkan Penerimaan Pajak Rp16,47 Triliun hingga Pertengahan 2026

5. Ruang Teater Audio Visual

Di penghujung kunjungan, wisatawan dapat memasuki ruang teater yang menayangkan film dokumenter mengenai sejarah Konferensi Asia Afrika.

Didampingi petugas museum, pengunjung diajak memahami lebih dalam latar belakang penyelenggaraan konferensi serta dampaknya terhadap perjuangan kemerdekaan dan diplomasi negara-negara berkembang.

Destinasi Edukatif yang Sarat Nilai Sejarah

Dengan koleksi bersejarah, bangunan berarsitektur klasik, serta kisah penting di balik lahirnya solidaritas negara-negara Asia dan Afrika, Museum Konferensi Asia Afrika menjadi salah satu destinasi wisata edukasi yang layak dikunjungi saat berada di Bandung.

Bagi masyarakat Bogor yang ingin menikmati liburan singkat dengan pengalaman berbeda, museum ini menawarkan perpaduan antara wisata sejarah, edukasi, dan nilai kebangsaan yang tetap relevan hingga saat ini. (Renno/Unpak)

Editor : Yosep Awaludin
Museum Konferensi Asia Afrika kota bandung sejarah