Stamp Hunter Jadi Tren Baru Saat Traveling, Ini Keseruan Berburu Cap dari Berbagai Tempat

Fikri Rahmat Utama • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 11:55 WIB
Inisiator Stamp Hunter Indonesia, Efer Teofany. (Foto: Dok Pribadi for Radar Bogor)
Inisiator Stamp Hunter Indonesia, Efer Teofany. (Foto: Dok Pribadi for Radar Bogor)

RADAR BOGOR — Ada cara berbeda mengabadikan perjalanan selain menyimpan foto atau video. Bagi para stamp hunter, sebuah cap atau stamp dari tempat yang dikunjungi bisa jadi kenang-kenangan sekaligus penanda cerita.

Aktivitas berburu stamp atau stamp hunter kini dilakukan oleh sebagian orang ketika bepergian. 

Cap tersebut dapat ditemukan di berbagai lokasi, mulai dari museum, toko buku, kafe, tempat wisata, hotel, hingga sejumlah titik transportasi.

Setiap tempat biasanya menawarkan desain stamp yang berbeda. Kondisi tersebut membuat kegiatan berburu cap tidak hanya soal seberapa banyak koleksi yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga mengenai desain, lokasi, serta cerita yang melekat pada setiap stamp.

Inisiator Stamp Hunter Indonesia, Efer Teofany, mengatakan seorang stamp hunter tidak sekadar memiliki kegemaran mengoleksi cap.

Di dalam aktivitas tersebut terdapat rasa ingin tahu untuk menemukan stamp dari berbagai tempat.

Baca Juga: Update TPG September 2026: SKTP Sudah Terbit, Cek Info GTK

“Stamp hunter itu bukan cuma orang yang mengoleksi stamp, tapi orang yang punya rasa penasaran untuk menemukan stamp di berbagai tempat,” katanya saat dihubungi Radar Bogor, Sabtu 19 September 2026.

Stamp Hunting Memadukan Koleksi dan Eksplorasi

Pria yang akrab disapa Teo tersebut menjelaskan, stamp hunting memiliki sejumlah unsur yang membuat aktivitas ini menarik.

Di dalamnya terdapat kegiatan berburu, mengeksplorasi tempat, melakukan perjalanan, sekaligus mengoleksi sesuatu yang memiliki nilai kenangan.

Setiap stamp yang diperoleh dapat menjadi penanda perjalanan seseorang. Ketika koleksi tersebut kembali dilihat pada kemudian hari, pemiliknya dapat mengingat lokasi yang pernah didatangi, orang-orang yang ditemui, hingga berbagai kejadian yang dialami selama perjalanan.

Ketertarikan Teo terhadap stamp hunting sendiri berawal dari kebiasaannya menemukan cap ketika bepergian.

Dari pengalaman tersebut, ia kemudian menyadari bahwa kegemaran serupa juga dimiliki oleh banyak orang di Indonesia.

Hal itulah yang mendorong Teo membentuk komunitas Stamp Hunter Indonesia. Pada awalnya, komunitas tersebut menjadi ruang bagi para penggemar untuk saling bertukar informasi mengenai lokasi berburu dan koleksi stamp.

Seiring perkembangannya, komunitas tersebut semakin terhubung melalui berbagai kegiatan yang mempertemukan para penggemar stamp hunting.

Alasan Orang Tertarik Menjadi Stamp Hunter

Menurut Teo, setiap orang dapat memiliki alasan berbeda ketika mulai tertarik dengan kegiatan berburu stamp.

Sebagian orang menyukai aktivitas koleksi. Ada pula yang tertarik dengan ilustrasi dan desain stamp, fotografi, perjalanan, atau sekadar ingin mencoba pengalaman baru bersama teman.

Baca Juga: Penerimaan Siswa Baru Sekolah At Taufiq Bogor Dibuka, Ada Diskon Uang Pangkal hingga 60 Persen

Namun, bagi Teo, bagian paling menarik dari stamp hunting justru terletak pada proses ketika seseorang berusaha menemukan cap yang dicari.

“Kalau menemukan stamp yang tersembunyi atau harus melewati sedikit usaha untuk mendapatkannya, rasanya seperti menemukan harta karun kecil,” ujarnya.

Menariknya, stamp yang tergolong langka belum tentu memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Sebuah cap dapat dianggap langka karena hanya tersedia pada waktu tertentu, dibuat secara khusus untuk sebuah kegiatan, berada di lokasi yang sulit dijangkau, sudah tidak diproduksi lagi, atau hanya bisa diperoleh pada jam operasional tertentu.

Kesulitan dalam mendapatkan stamp justru menjadi bagian dari pengalaman. Semakin menantang proses menemukannya, semakin kuat pula cerita yang kemudian melekat pada cap tersebut.

Informasi Lokasi Stamp Dibagikan Komunitas

Para stamp hunter biasanya mendapatkan informasi mengenai lokasi cap melalui sesama anggota komunitas.

Selain komunikasi antarkolektor, media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Threads juga dimanfaatkan untuk membagikan informasi mengenai lokasi yang menyediakan stamp.

Namun, tidak semua perburuan harus dilakukan berdasarkan rencana. Tidak sedikit stamp hunter yang justru menemukan cap secara kebetulan ketika sedang mengunjungi museum, toko buku, kafe, maupun tempat wisata.

Kegiatan tersebut dapat dilakukan secara spontan ketika seseorang menemukan stamp di lokasi yang dikunjungi.

Sebaliknya, ada pula pemburu yang sengaja merancang perjalanan berdasarkan daftar lokasi yang menyediakan cap.

Baca Juga: 5 Wisata Alam di Kabupaten Bogor yang Cocok untuk Liburan, Ada Curug hingga Glamping

“Sekarang kegiatan di komunitas juga mulai bergerak ke community hunt, meetup, stamp swap, sampai membuat event sendiri,” kata Teo.

Perkembangan tersebut membuat stamp hunting tidak lagi sekadar aktivitas individu.

Kegiatan berburu cap juga berkembang menjadi aktivitas komunitas yang mempertemukan orang-orang dengan minat serupa.

Koleksi Stamp Bisa Menjadi Jurnal Perjalanan

Jumlah stamp yang dimiliki setiap pemburu sangat beragam. Ada kolektor yang baru mempunyai beberapa cap. Namun, ada pula stamp hunter yang telah mengumpulkan koleksi hingga ratusan stamp.

Koleksi tersebut umumnya disimpan dalam buku khusus. Pemiliknya dapat mengatur cap berdasarkan perjalanan, lokasi, maupun acara tertentu.

Bagi sebagian stamp hunter, buku koleksi tersebut pada akhirnya memiliki fungsi lebih dari sekadar tempat menyimpan cap.

Buku itu dapat berubah menjadi semacam jurnal perjalanan yang berisi berbagai penanda dari tempat-tempat yang pernah dikunjungi.

Teo mengatakan, pengalaman paling berkesan dalam stamp hunting tidak selalu berkaitan dengan keberhasilan mendapatkan stamp yang paling langka.

Justru, proses pencarian terkadang membawa seseorang mengunjungi tempat yang sebelumnya tidak pernah masuk dalam daftar tujuan perjalanan.

Selain menemukan lokasi baru, aktivitas berburu stamp juga membuka peluang bertemu dengan orang lain.

Baca Juga: Guru Harus Tahu, Ini Estimasi Penyaluran TPG September 2026

Para pemburu dapat berkenalan dengan sesama kolektor, bertukar informasi, hingga membangun pertemanan melalui kesamaan minat terhadap stamp.

Stamp Jadi Penanda Fisik di Era Digital

Di tengah kebiasaan masyarakat menyimpan dokumentasi perjalanan dalam bentuk digital, stamp menawarkan pengalaman yang berbeda.

Foto, tiket, maupun catatan perjalanan kini lebih banyak disimpan dalam perangkat digital.

Sementara itu, stamp menjadi benda fisik yang dapat disimpan dan dilihat kembali kapan saja.

Bagi Teo, karakter fisik tersebut menjadi salah satu alasan mengapa stamp hunting tetap memiliki daya tarik sebagai aktivitas perjalanan.

Sebuah cap berukuran kecil dapat mengingatkan seseorang pada tempat yang pernah didatangi sekaligus cerita yang terjadi selama perjalanan.

Dengan demikian, stamp tidak hanya dipandang sebagai benda koleksi, tetapi juga menjadi bagian dari memori perjalanan seseorang.

Komunitas Stamp Hunter Indonesia Terus Berkembang

Komunitas Stamp Hunter Indonesia hingga kini masih terus mengalami perkembangan.

Anggotanya berasal dari latar belakang yang beragam. Mereka tidak hanya terdiri dari kolektor, tetapi juga pelancong, ilustrator, pencinta buku, pengunjung museum, hingga orang-orang yang memiliki rasa penasaran untuk mengeksplorasi tempat baru.

Keberagaman tersebut membuat kegiatan stamp hunting dapat dilakukan oleh siapa saja yang memiliki ketertarikan terhadap eksplorasi dan koleksi.

Baca Juga: Kisah Vio, AO PNM Mekaar yang Rela Jalan Kaki hingga Menyeberang Laut Dampingi Nasabah

Teo berharap semakin banyak tempat di Indonesia yang menyediakan stamp dengan desain yang menjadi ciri khas masing-masing lokasi.

Menurutnya, keberadaan cap khas di berbagai tempat dapat menjadi daya tarik tambahan sekaligus mendorong lebih banyak orang untuk mendatangi dan mengeksplorasi lokasi baru.

Dengan begitu, aktivitas berburu stamp bukan hanya memperkaya koleksi, tetapi juga dapat menghadirkan cara berbeda dalam menikmati perjalanan dan menyimpan cerita dari setiap tempat yang dikunjungi. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
Stamp Hunter perjalanan kenang-kenangan