RADAR BOGOR - Tren pariwisata mulai bergeser, wisatawan tak lagi hanya mencari tempat untuk dikunjungi, tetapi pengalaman bermakna selama perjalanan.
Konsep tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Indonesia Tourism dan MICE Outlook 2027 (ITMO) di Jakarta, belum lama ini.
Forum yang mempertemukan pelaku industri pariwisata, akademisi, pembuat kebijakan, dan media itu membahas arah perkembangan pariwisata menuju 2027.
Salah satu yang disorot yakni pentingnya membangun pengalaman wisata yang tetap memberikan manfaat ekonomi, edukasi, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia Ni Luh Puspa mengatakan, pengembangan pariwisata tidak bisa dilakukan oleh satu pihak.
Menurutnya, seluruh unsur dalam industri harus saling terhubung untuk menciptakan pengalaman wisata yang lebih bernilai bagi pengunjung.
Baca Juga: Jelang Hadapi Port FC, Persib Siap Bawa Spirit Bandung ke Kancah Asia
“Pariwisata tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kita butuh menjahit experience secara bersama agar setiap perjalanan memiliki nilai lebih,” ujar Ni Luh Puspa.
Ia menambahkan, peningkatan jumlah wisatawan juga harus memberikan dampak ekonomi yang bisa dirasakan secara langsung.
Hal senada disampaikan Managing Director Mitra Natura Raya, Marga Anggrianto. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan swasta menjadi salah satu cara untuk mengembangkan kualitas pengalaman wisata.
Mitra Natura Raya sendiri merupakan mitra pengelola empat Kebun Raya di Indonesia, yakni Kebun Raya Bogor, Cibodas, Purwodadi, dan Bali.
Marga mengatakan, pengelolaan kebun raya tidak hanya berfokus pada sisi pariwisata. Ruang hijau tersebut juga dapat menjadi tempat edukasi lingkungan dan pengembangan aktivitas ekonomi kreatif dengan tetap menjaga keanekaragaman hayati.
“Peningkatan experience dan optimalisasi manfaat industri pariwisata pada 2027 tidak bisa diserahkan kepada satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi lintas sektor yang terstruktur,” ungkap Marga.
Menurutnya, pemerintah memiliki peran dalam memberikan kepastian regulasi dan mendorong kerja sama. Sementara pihak swasta dapat menghadirkan inovasi dan layanan ekonomi kreatif untuk meningkatkan pengalaman wisatawan.
Konsep tersebut diterapkan dalam pengelolaan sejumlah kebun raya yang dikelola Mitra Natura Raya. Tema konservasi dan edukasi lingkungan dipadukan dengan aktivitas wisata sehingga pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati suasana, tetapi juga mendapatkan pengalaman selama berada di kawasan.
Marga menilai konsep wisata berbasis pengalaman akan semakin penting memasuki 2027. Terlebih, perusahaan maupun komunitas kini mulai lebih memperhatikan aspek keberlanjutan dan tanggung jawab lingkungan.
“MICE di masa depan bukan sekadar mendatangkan nilai ekonomi. Pasar 2027 menuntut industri pariwisata dan MICE memiliki sisi Responsible dan Sustainable Tourism,” kata Marga.
Ia menyebut, pengelolaan kebun raya melalui pola kemitraan menjadi salah satu contoh pengembangan experience tourism yang menggabungkan unsur pariwisata, keberlanjutan, dan edukasi lingkungan.
Konsep kemitraan tersebut juga disebut sebagai bagian dari upaya mengoptimalkan fungsi kebun raya agar memberikan manfaat bagi berbagai pihak, tanpa mengesampingkan fungsi konservasinya. (bay)
Editor : Eka Rahmawati