RADAR BOGOR - Museum Maritim Indonesia kembali dibuka untuk umum sejak September 2026, menghadirkan kesempatan bagi wisatawan untuk menyusuri sejarah panjang jalur pelayaran dan perdagangan Nusantara.
Berikut pengalaman lengkap berkunjung ke museum yang berlokasi di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok ini.
Lokasi dan Akses Masuk
Museum Maritim Indonesia berada di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, tepatnya di Jalan Raya Pelabuhan Nomor 9, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Baca Juga: Setu Kemuning Bojonggede, Wisata Danau di Bogor dengan Panorama Sunset yang Menarik
Lokasinya mudah ditemukan melalui Google Maps dengan mengetikkan "Museum Maritim Indonesia".
Hal yang perlu diketahui pengunjung, perjalanan menuju museum ini tidak langsung masuk ke gedung, melainkan harus melewati kawasan pelabuhan terlebih dahulu.
Suasananya pun terasa seperti kawasan kerja pelabuhan, bukan tempat wisata pada umumnya, jadi pengunjung baru tidak perlu kaget.
Di pintu masuk kawasan pelabuhan, pengunjung diwajibkan membayar biaya akses yang terpisah dari tiket museum.
Baca Juga: Wisata Edukasi Museum Seni Rupa dan Keramik, Punya Koleksi Seni hingga Pottery Class
Tarifnya adalah Rp6.000 untuk sepeda motor, Rp10.000 untuk mobil, dan sekitar Rp20.000 untuk truk.
Penting dicatat, biaya ini bukan tiket masuk museum, karena tiket museum sendiri masih gratis.
Jam Operasional dan Tiket
Karena baru dibuka kembali, Museum Maritim Indonesia saat ini hanya beroperasi pada hari Jumat dan Sabtu, mulai pukul 09.00 pagi hingga 15.00 sore.
Baca Juga: Wisata ke Kota Tua Jakarta, Jangan Lewatkan Museum Wayang dengan Koleksi Mancanegara
Meski tiket masuk gratis, pengunjung tetap wajib melakukan reservasi online terlebih dahulu melalui portal tiket resmi museum.
Informasi lebih lanjut mengenai jadwal dan ketersediaan tiket bisa dicek melalui akun Instagram resmi Museum Maritim Indonesia, mengingat jam dan sistem kunjungan dapat berubah sesuai periode operasional.
Museum ini juga ramah bagi pengguna kursi roda maupun stroller, karena memiliki akses jalan yang mudah dilalui.
Fasilitas di Area Lobi
Baca Juga: Serunya Main Gokart di Barcode Gokart, Punya Lintasan 280 Meter dan 18 Tikungan
Begitu memasuki lobi, pengunjung bisa melihat gambaran bangunan museum serta informasi awal mengenai Museum Maritim Indonesia.
Pengunjung yang sudah memiliki tiket cukup melakukan konfirmasi di petugas yang berjaga di depan pintu masuk.
Museum ini terbagi menjadi dua ruangan utama, yaitu Galeri Timur di sisi kiri dan Galeri Barat di sisi kanan, dengan lantai dua yang bisa diakses melalui tangga maupun lift.
Pengunjung tidak diperkenankan membawa makanan dan minuman ke dalam museum, serta diwajibkan menitipkan tas besar ke dalam loker yang telah disediakan lengkap dengan kunci. Toilet juga tersedia di area ini.
Baca Juga: Kasamira Coffee and Eatery di Puncak Bogor, Nongkrong Sambil Nikmati Panorama Pegunungan
Menyusuri Galeri Barat
Galeri Barat menampilkan koleksi warisan budaya maritim serta barang muatan kapal yang ditemukan dari kapal-kapal yang tenggelam di perairan Indonesia. Beberapa sorotan menarik di galeri ini antara lain:
Peta Migrasi Austronesia — menampilkan visualisasi interaktif dengan lampu yang menyala saat tombol ditekan, menggambarkan gelombang migrasi manusia di Kepulauan Nusantara yang dimulai sejak jutaan tahun lalu menggunakan perahu atau rakit kayu.
Koleksi replika nekara — benda yang ditemukan dari kapal-kapal yang melintasi jalur perdagangan laut kuno.
Baca Juga: Lotte Shopping Avenue Jakarta, Tempat Jalan-Jalan di Kuningan dengan Kuliner hingga Bioskop
Diorama perdagangan pala di Pulau Banda — menggambarkan suasana transaksi jual beli pala antara masyarakat setempat dengan pedagang yang datang mencari komoditas berharga tersebut.
Cerita Tek Sing Shipwreck — kapal dagang besar milik Tiongkok yang berlayar dari Amoy menuju Batavia dengan muatan utama porselen Tiongkok. Kapal ini tenggelam pada tahun 1822 di perairan Bangka Belitung dan baru ditemukan kembali pada 1999, dengan sekitar 350.000 keping porselen Tiongkok berhasil diangkat dari reruntuhannya.
Jejak Kerajaan Sriwijaya — salah satu kekuatan maritim penting di Asia Tenggara yang menghubungkan berbagai jalur perdagangan, membawa serta manusia, bahasa, budaya, agama, dan teknologi melalui jalur laut.
Prasasti Laguna — replika keping tembaga dari sekitar tahun 900 Masehi yang menunjukkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya hingga ke Pulau Luzon, Filipina. Prasasti aslinya kini tersimpan di Museum Nasional Filipina.
Baca Juga: Ganara Art Jakarta, Wisata Kreatif untuk Coba Melukis hingga Membuat Keramik Sendiri
Diorama perahu Nusantara — menggambarkan cara pembuatan perahu tradisional dengan melubangi batang pohon.
Jejak Kerajaan Majapahit — menampilkan replika artefak terakota, celengan berbentuk babi untuk menyimpan koin, uang kepeng Cina, serta miniatur kapal Majapahit yang diduga pernah menguasai perairan Nusantara hingga ke Temasek (Singapura).
Pelabuhan-pelabuhan utama abad ke-19 — menggambarkan perkembangan perdagangan komoditas seperti kapas, sutra, dan keramik, dengan Batavia sebagai salah satu pusat perdagangan penting, hingga tantangan pendangkalan yang dihadapi Pelabuhan Sunda Kelapa pada pertengahan abad ke-19.
Alat navigasi tradisional — menampilkan bagaimana pelaut zaman dahulu mengandalkan posisi matahari, bulan, dan bintang untuk menentukan arah dan posisi kapal, jauh sebelum adanya teknologi GPS.
Baca Juga: JPO Pinisi Karet Sudirman, Spot Unik Menikmati Pemandangan Jakarta dari Atas Tanpa Tiket Masuk
Ruang Rempah-Rempah: Bagian Paling Berkesan
Salah satu area paling menarik di Galeri Barat adalah ruangan bertema kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara yang didorong oleh pencarian rempah-rempah. Ruangan ini memiliki pencahayaan temaram dengan patung-patung yang menggambarkan suasana masa kolonial dan perdagangan.
Keistimewaan ruangan ini adalah rempah-rempah asli yang dipajang dan dapat dicium langsung aromanya oleh pengunjung, menciptakan pengalaman sensorik yang berbeda dari sekadar membaca teks informasi. Pengunjung diperbolehkan melihat dan mencium aroma rempah, namun tidak boleh menyentuh atau mengambilnya.
Selain itu, terdapat pula diorama kapal-kapal VOC, cerita digital interaktif berbentuk buku tentang perjalanan VOC di perairan Nusantara, serta diorama aktivitas bongkar muat barang di pelabuhan pada masa kolonial yang masih mengandalkan tenaga manusia sepenuhnya.
Baca Juga: JPO Pinisi Karet Sudirman, Spot Unik Menikmati Pemandangan Jakarta dari Atas Tanpa Tiket Masuk
Lantai Dua: Maket Pelabuhan dan Ruang Pemutaran Film
Galeri Barat diakhiri dengan diorama pelabuhan masa kolonial, sebelum pengunjung dapat melanjutkan perjalanan ke lantai dua melalui tangga maupun lift.
Di lantai dua terdapat maket besar yang menggambarkan Pelabuhan Tanjung Priok secara detail, lengkap dengan area dermaga, kapal-kapal, jalur pergerakan barang, hingga berbagai fasilitas pendukung aktivitas pelabuhan.
Maket ini menggambarkan bagaimana sebuah pelabuhan dirancang dan dikembangkan untuk kebutuhan transportasi dan logistik di masa depan.
Baca Juga: Bukit Gajah Camping Ground Cijeruk, Spot Camping di Bogor dengan Panorama Pegunungan
Fasilitas lain di lantai dua meliputi:
- Ruang pemutaran film dengan jadwal pukul 10.00 pagi dan 13.00 siang
- Smoking area dan taman di bagian belakang
- Toilet dan musala yang bersih serta dilengkapi mukena
Baca Juga: Nila Giri Puncak Bogor Resmi Dibuka, Kuliner Nusantara Bertemu Jejak Villa Soekarno
Tips Berkunjung
- Tiket museum gratis, namun reservasi online wajib dilakukan melalui portal resmi
- Museum hanya buka hari Jumat dan Sabtu, pukul 09.00–15.00
- Siapkan uang tunai untuk biaya masuk kawasan pelabuhan (terpisah dari tiket museum)
- Jangan membawa makanan dan minuman ke dalam area pameran
- Ingat baik-baik nomor loker penitipan tas karena kunci tidak memiliki nomor
- Cek jadwal pemutaran film agar tidak terlewat
- Akses ramah kursi roda dan stroller tersedia
Museum Maritim Indonesia menjadi destinasi edukatif yang cocok untuk kunjungan keluarga, menggabungkan koleksi sejarah, diorama interaktif, hingga pengalaman sensorik yang membuat anak-anak maupun orang dewasa tetap antusias menjelajahi setiap sudut galerinya.***
Editor : Eli KustiyawatiSumber : YouTube Cerita Gage