RADAR BOGOR - Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyampaikan, pencairan bansos tahap 1 2026 terus berjalan dan akan dilanjutkan hingga bulan-bulan berikutnya.
Artinya, pencairan bansos akan berlanjut sampai momentum Lebaran 2026. Bahkan dilanjutkan lagi pada tahap berikutnya periode April Mei Juni 2026.
Menurut kanal youtube Info Bansos, pemerintah juga akan menyalurkan bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng kepada KPM yang berhak.
Bantuan beras dan minyak goreng masih ditunggu terutama menjelang bulan Ramadan dan Lebaran 2026.
Pemerintah merencanakan akan menyalurkan bantuan beras untuk sekitar 33,2 juta penerima.
"Namun, tidak semua orang berhak menerimanya," ucap kanal youtube Info Bansos.
Target utama penerima bantuan beras adalah masyarakat yang berada di tingkat kesejahteraan desil 1 hingga 4 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Diketahui desil 1 sampai 4 merupakan kelompok paling rendah, yaitu yang paling rentan secara ekonomi.
KPM yang menerima Bantuan Langsung Tunai Sementara atau BLTS tahun sebelumnya mempunyai peluang sangat besar untuk menerima bantuan ini di tahun 2026 selama status desil 1 sampai 4.
Hal ini karena pemerintah sedang memperbarui kriteria dan mulai tahun 2026, bansos BPNT diprioritaskan untuk desil 1 sampai 4 tersebut.
Sehingga, KPM yang menerima BLTS tahun lalu, tetapi desil naik ke lima atau lebih, kemungkinan tidak berhak menerima bantaun beras.
Sementara itu. bantuan reguler disalurkan sambung-menyambung agar tidak terjadi kekosongan bantuan bagi Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
"Beliau juga mengungkapkan bahwa dana bansos yang sudah disalurkan mencapai lebih dari 17 triliun dan sisanya akan menyusul untuk bulan Januari, Februari hingga Maret," ungkap kanal Info Bansos.
Hal ini seperti aliran yang tidak terputus sehingga masyarakat yang membutuhkan bantuan sosial dapat merasakannya secara berkelanjutan.
Bansos reguler seperti Program Keluarga Harapan dan Bantuan Pangan Non Tunai (PKH BPNT) difokuskan pada keluarga miskin dan rentan, termasuk yang terdampak bencana atau situasi adaptif lainnya.
Editor : Siti Dewi Yanti