RADAR BOGOR, Cuaca panas dirasakan di sejumlah wilayah Indonesia, begitu juga di Jawa Barat meliputi kota dan Kabupaten Bogor.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan terkait faktor-faktor yang menyebabkan cuaca panas beberapa hari ini di Bogor.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Citeko, Fatuhri Syabani mengatakan, masyarakat Bogor tengah merasakan suhu udara yang lebih panas dari biasanya.
"Kondisi ini diakibatkan oleh kolaborasinya atau bercampurnya antara temperatur dan kelembaban udara. Apabila suhu udara tinggi kemudian kelembaban juga tinggi, maka kita sebagai manusia merasakan sebagai kondisi gerah atau semuk istilah Jawa," ungkapnya, Selasa (14/5).
Menurutnya, suhu panas yang terjadi di wilayah Indonesia adalah akibat pemanasan permukaan sebagai dampak mulai berkurangnya pembentukan awan dan berkurangnya hujan. Hal itu sama seperti hawa gerah yang dirasakan masyarakat Kabupaten Bogor.
Namun begitu, dia menyebut ini merupakan sesuatu yang umum terjadi pada periode peralihan musim hujan ke musim kemarau.
Sebagai kombinasi dampak pemanasan permukaan dan kelembaban yang masih relatif tinggi pada peralihan saat ini, yaitu di pertengahan bulan Mei untuk wilayah Bogor dan sekitarnya.
"Walaupun di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor sendiri bukan masuk zona musim," katanya.
Namun lanjut dia, di beberapa di wilayah Jawa barat yang sudah memasuki musim kemarau, kondisi panas tersebut memang dirasakan oleh masyarakat sebagai kegerahan.
"Karena kondisi kemarau yang belum benar-benar masuk, tetapi kelembaban udara relatif tinggi sebagai imbas dari berakhirnya musim hujan," jelasnya.
Sedangkan pada malam hari, kondisi gerah juga dirasakan di beberapa wilayah yang masih terdapat tutupan awan.
Sehingga ketika panas atau radiasi bumi tertahan oleh awan, maka akan terhambat panas atau terlepas ke atmosfer.
"Kemudian juga panas yang dikeluarkan oleh awan hujan mengakibatkan kondisi suhu atau kegerahan yang kita rasakan lebih tinggi daripada biasanya," Fatuhri Syabani
Apabila turun hujan, sambungnya, maka kondisi gerah berangsur turun. Kondisi gerah sangat tinggi di wilayah Indonesia umumnya atau di Jawa Barat juga sebagai dampak akibat topografi Wilayah Indonesia terdiri daratan dan lautan.
"Ada juga faktor lainnya adalah bahwa di tahun 2024 di perkirakan masuk periode Elnino di mana suhu atau temperatur udara lebih tinggi daripada biasanya yang kita rasakan," tandasnya.(cok)
Editor : Alpin.