Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Ratusan Warga di Bogor Jadi pemulung, Mengais Rezeki di 'Gunung Sampah' Galuga

Arif Al Fajar • Senin, 27 Mei 2024 | 12:15 WIB
Pemulung sedang mengais rezeki di tumpukan sampah TPAS Galuga Senin (27/5/2024).
Pemulung sedang mengais rezeki di tumpukan sampah TPAS Galuga Senin (27/5/2024).

RADAR BOGOR - Asep (40) hanya mengenakan kaos singlet. Warnanya putih, sudah mulai sedikit pudar. Ia duduk di atas tumpukan sampah tempat pembuangan akhir (TPA) Galuga Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Cuaca Senin (27/5/2024) pagi menjelang siang kala itu di sekitar Galuga cukup terik. Ia memilih berteduh sejenak di atas tumpukan sampah itu.

Di atas kepalanya dipasang terpal warna biru. Ukurnya sekitar 1x1 meter. Terpal itu disangkutkan ke ranting pohon yang tertancap di gunung sampah itu.

Hidungnya sudah kebal dengan bau busuk sampah di TPA Galuga. Asep sudah 13 tahun menjadi pemulung di sana.

Kulitnya pun sudah kebal dengan kuman dan bakteri di sana. Tak ada rasa gatal atau gejala kesehatan apapun yang ia derita.

"Awal-awal jadi pemulung sempat gatal-gatal sama kepala pusing, sekarang sudah biasa," katanya kepada Radar Bogor Senin (27/5/2024).

Di TPAS Galuga, ia tak sendiri. Ada ratusan warga Cibungbulang yang berprofesi serupa. Tidak hanya kaum pria. Kaum wanita pun ada bekerja sebagai pemulung. Mengais rezeki di 'Gunung Sampah' itu.

Pun tidak melulu orang dewasa. Anak-anak yang mencari peruntungan di tumpukan sampah itu cukup banyak.

Camat Cibungbulang, Agung S. Ali memaparkan jumlah pemulung di TPAS Galuga tersebar di beberapa desa yang berada di sekitaran tempat pembuangan sampah itu.

"Ada 950 warga yang menjadi pemulung di sana. Itu dari beberapa desa," katanya kepada Radar Bogor.

 

Temukan dompet hingga perhiasan

Para pemulung di TPAS Galuga umumnya mencari barang bekas. Botol atau cup plastik air mineral. Juga kardus dan barang rongsok yang bisa dijual ke pengepul.

Sejak pagi, para pemulung sudah datang ke TPAS Galuga. Atribut yang digunakan yakni pakaian lengan panjang, topi, pengait sampah dan juga keranjang bambu.

Di sana, para pemulung itu tersebar. Seakan memiliki daerah memulung setiap kelompok. Setiap truk sampah datang, mereka sudah bersiap. Begitu sampah diturunkan dari bak truk, tangan mereka begitu cekatan.

Para pemulung di sana sepertinya sudah tahu betul isi sampah dalam plastik yang baru datang ke sana.

Dengan sekali tusuk penggunakan pengait, mereka tau plastik mana yang berisi barang rongsok yang bisa merek jual.

"Jadi sudah tahu isinya, kalau dirasa ada barang rongsoknya, kayak botol atau lainya itu, baru dibongkar plastiknya," kata Iwan salah satu pemulung.

Namun, kata dia sampah seperti kardus bekas sudah sangat jarang. Beberapa sudah disortir oleh petugas kebersihan.

Biasanya mereka sudah mengambil kardus bekas atau barang rongsok yang mereka angkut. "Biasanya yang kasat mata aja, yang di dalam plastik itu jarang mereka ikut pisahkan," ujarnya.

Ia mengaku, jika beruntung, kerap mendapatkan barang berharga. Dompet, perhiasan, juga uang hampir tiap hari mereka temukan.

"Ada dompet, tapi dompet sudah gak kepake biasanya, cuman suka ada isinya. Ada yang Rp20 ribu kadang ada yang Rp100 ribu. Kalau perhiasan beberapa pernah dapat," tuturnya.

Sampah Diapers Meningkat

Sampah yang dibuang ke TPAS Galuga kata dia didominasi sampah rumah tangga. Namun, saat ini sampah diapers atau popok bayi paling banyak. Ia mengaku setiap truk yang menurunkan sampah, selalu ada sampah diapers.

"Popok bayi banyak, mungkin sekarang warga banyak yang gak mau ribet, jadi anaknya dipakaikan popok. Makanya sampahnya banyak," tukasnya. (all)

Editor : Yosep Awaludin
#bogor #pemulung #sampah