RADAR BOGOR — Puasa selama bulan Ramadan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memberi manfaat signifikan bagi kesehatan mental.
Praktik menahan makan dan minum secara sadar dinilai mampu membantu regulasi emosi, meningkatkan kontrol diri, hingga memperkuat makna hidup seseorang.
Psikiater dr. Lahargo Kembaren, menjelaskan, dalam perspektif psikologi dan psikiatri modern, puasa dapat dipahami sebagai proses regulasi diri yang memengaruhi fungsi kognitif dan keseimbangan emosi.
Menurutnya, istilah “detoksifikasi psikologis” dalam konteks puasa bukan berarti mengeluarkan racun secara fisik, melainkan proses penataan ulang pola pikir, emosi, dan kebiasaan mental yang selama ini mungkin terlalu padat oleh distraksi.
“Puasa melatih seseorang untuk tidak langsung bereaksi terhadap dorongan. Di situ kemampuan regulasi emosi ikut terasah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, saat seseorang mampu menahan rasa lapar, lelah, atau keinginan sesaat, bagian otak yang berperan sebagai pengendali emosi: prefrontal cortex,
menjadi lebih aktif. Kondisi ini membantu mengurangi perilaku impulsif sekaligus meningkatkan kesabaran.
Selain itu, puasa juga hampir selalu diiringi praktik spiritual seperti doa, ibadah, membaca kitab suci, dan refleksi diri.
Dalam psikologi, hal tersebut dikenal sebagai spiritual coping, yaitu cara individu menggunakan nilai spiritual untuk menghadapi tekanan hidup.
“Individu yang memiliki coping spiritual yang baik biasanya punya makna hidup lebih kuat, harapan lebih tinggi, dan lebih tenang dalam menghadapi situasi sulit,” jelasnya.
Dari sisi stres, puasa yang dijalani secara sehat juga dinilai membantu tubuh dan pikiran beradaptasi terhadap perubahan ritme hidup.
Sejumlah studi menunjukkan adanya perbaikan persepsi stres dan kesejahteraan psikologis selama periode puasa religius.
Tak hanya itu, puasa juga dikaitkan dengan peningkatan faktor neurotropik seperti BDNF yang berperan dalam neuroplastisitas otak, yakni kemampuan otak membentuk jalur baru.
“Ini memberi peluang bagi seseorang untuk mengubah kebiasaan lama menjadi pola yang lebih sehat, baik secara mental maupun perilaku,” kata Lahargo.
Ia menambahkan, puasa pada dasarnya merupakan latihan nyata delay of gratification atau kemampuan menunda kepuasan.
Kemampuan ini dalam psikiatri berkaitan erat dengan kesehatan mental jangka panjang.
Manfaatnya antara lain membantu pengambilan keputusan lebih matang, mengurangi impulsivitas, serta memperkuat disiplin diri.
Di sisi lain, sebagian orang juga melaporkan kejernihan mental selama puasa. Hal tersebut bisa terjadi karena berkurangnya overstimulasi dan meningkatnya kesadaran diri.
“Ketika distraksi berkurang, pikiran menjadi lebih terarah dan prioritas hidup lebih jelas,” tuturnya.
Aspek sosial juga tak kalah penting. Momentum puasa yang identik dengan berbagi dan kebersamaan dinilai memperkuat empati serta koneksi emosional antarsesama, yang merupakan faktor protektif penting dalam kesehatan mental.
Lahargo menekankan, puasa idealnya dijalani secara seimbang, tidak berlebihan, serta tetap memperhatikan kondisi kesehatan masing-masing individu.
“Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi memberi ruang bagi jiwa untuk menata ulang diri. Yang ditahan bukan hanya makan dan minum, tetapi juga emosi, ego, dan impulsivitas,” pungkasnya.(uma)
Editor : Alpin.