RADAR BOGOR — Sektor perbankan nasional terus memperkuat penerapan manajemen risiko serta prinsip kehati-hatian (prudential banking) seiring meningkatnya tekanan global.
Kondisi ini dipicu oleh memanasnya konflik di Timur Tengah sehingga berpotensi mengganggu stabilitas harga komoditas utama, terutama minyak mentah.
Ketua Umum Perbanas yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, menyampaikan bahwa meskipun gejolak eksternal meningkat, kondisi fundamental perbankan dalam negeri masih relatif kuat. Hal ini terlihat dari pertumbuhan kredit yang tetap terjaga, likuiditas yang cukup, serta permodalan yang solid.
Baca Juga: Hadapi Ketidakpastian Ekonomi Global, Berikut Strategi Perbankan Ketum Perbanas Hery Gunardi
“Kami melihat risiko global meningkat, terutama melalui transmisi kenaikan harga energi dan volatilitas pasar keuangan, dalam konteks ini, perbankan akan semakin memperkuat prinsip kehati-hatian melalui penguatan manajemen risiko dan kualitas aset,” ujar Hery Gunardi dalam keterangannya.
Ia menjelaskan bahwa peningkatan risiko global terutama ditransmisikan melalui kenaikan harga energi dan fluktuasi pasar keuangan. Dalam situasi tersebut, perbankan akan semakin menekankan penerapan prinsip kehati-hatian dengan memperkuat pengelolaan risiko serta menjaga kualitas aset.
Perbanas juga mencatat berbagai langkah mitigasi yang telah dan terus dilakukan oleh industri perbankan. Di antaranya adalah pelaksanaan stress test sektoral serta penguatan sistem peringatan dini (early warning system) guna mengantisipasi potensi penurunan kualitas kredit.
Pengujian ini difokuskan pada sektor-sektor yang rentan terhadap kenaikan biaya energi, seperti transportasi, logistik, dan manufaktur.
Selain itu, perbankan meningkatkan kehati-hatian dalam penyaluran kredit melalui pendekatan berbasis risiko (risk-based pricing). Upaya lain yang dilakukan meliputi menjaga kecukupan likuiditas dengan mengoptimalkan rasio seperti liquidity coverage ratio (LCR) dan net stable funding ratio (NSFR), serta mengendalikan risiko nilai tukar melalui strategi lindung nilai dan pengelolaan posisi devisa neto secara lebih konservatif.
Menurut Hery, langkah-langkah tersebut penting untuk memastikan fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan dengan baik tanpa mengabaikan stabilitas, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Dengan kombinasi kebijakan tersebut, industri perbankan diharapkan tetap tangguh dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, meskipun tekanan dari faktor eksternal diperkirakan masih akan berlangsung dalam jangka pendek hingga menengah.
Editor : Eka Rahmawati