RADAR BOGOR - Kedatangan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi ke Pesantren Al Mizan, Majalengka disambut meriah para santri termasuk ibu-ibu alias emak-emak.
Saat pertama kali turun dari mobil putihnya, Dedi Mulyadi langsung dikepung para emak-emak yang berebut salaman hingga berfoto bersama.
Tak sedikit pula, ada emak-emak yang nekat memeluk hingga mencium sang Gubernur Jawa Barat.
"Di kampung teh kieu, riweuh aing diciuman ku nini-nini iraha aing dicium ku nu ngora," ucap Dedi Mulyadi mengawali sambutan sambil tersenyum.
Tidak hanya itu, Gubernur Jawa Barat juga menyinggung soal pusingnya menjabat kepala daerah.
"Bupati, pak Wakil Bupati amprok jeung kuring beungeutna teh riweuh wae kerung wae," ungkap Dedi Mulyadi.
Menurut Gubernur Jawa Barat, rasa pusing muncul karena program banyak tapi uang terbatas.
"Arek teu kerung kumaha, janji jalan alus, irigasi alus, imah rakyat miskin kudu dialuskeun, sembako dibagi, begitu ngajabat apek teh duitna saeutik, jadi ngahuleng," kata Dedi Mulyadi.
Lebih lanjut Dedi Mulyadi mengatakan, dalam pengajian banyak yang mengajarkan agar rajin ngaji, salat hingga umrah.
Namun, sambung Gubernur Jawa Barat, tidak ada yang mengajak menanam pohon, menjaga sawah hingga lingkungan.
Selain itu, Dedi Mulyadi mengatakan, berani mengungkapkan semua perkara yang orang lain tidak berani membicarakannya.
"Kuring teh pamimpin, wani nyarita perkara-perkara anu batur embung nyaritakeun," sambung Gubernur Jawa Barat.
Sehingga, Dedi Mulyadi menolak, jika disebut selama ini semua kegiatannya adalah pencitraan.
"Jadi lamun disebut pemimpin pencitraan, teuing aing mah da tara, geuningan eta sok ceurik, hey waktuna ceurik maenya aing teu ceurik," papar Gubernur Jawa Barat.
Dedi Mulyadi juga menegaskan, dirinya yang sudah memberi uang kepada warga dan membawa kamera adalah kebiasaannya yang sudah dilakukan sejak tujuh tahun lalu.
"Atuh geuningan eta sok mere, da unggal poe di imah ge geus ngantri, keur naon di kameraan Kang Dedi? Pan kuring mah geus tujuh tahun kakameraan teh," pungkas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim