RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkapkan pandangannya mengenai keunikan budaya belajar masyarakat Indonesia, khususnya orang Sunda.
Menurut Dedi Mulyadi, meski banyak yang menekankan pentingnya membaca, masyarakat Indonesia memiliki keunggulan berbeda.
“Di Indonesia, masyarakatnya bukan budaya membaca. Orang Sunda, misalnya, lebih banyak belajar melalui mendengar dan melihat," ungkap Dedi Mulyadi saat di UPI.
Contohnya, kata Gubernur Jawa Barat, seorang ahli otomotif lahir dari pengalaman langsung, bukan hanya teori.
Mereka belajar otodidak, melihat praktik, dan mendengar arahan hingga mampu menciptakan sound system, radio, atau pemancar terbaik meski dasar ilmunya belum sempurna.
KDM (sapaan kang Dedi Mulyadi) menambahkan, kekuatan orang Indonesia bukan hanya pada kemampuan intelektual semata, tetapi juga pada aspek emosional dan spiritual.
“Mereka memiliki kemampuan menangkap sinyal atau gelombang di sekitar, membaca tanda perubahan, bahkan membaca masa depan. Ini adalah keunggulan unik bangsa kita,” katanya.
Dedi Mulyadi menekankan pentingnya memadukan pendidikan formal dengan pendidikan pesantren.
Di pesantren, menurutnya, seseorang diajarkan tirakat, disiplin bangun malam, menghormati guru, hingga menggunakan rasa sebagai alat menangkap gelombang di sekitarnya.
“Kalau pendidikan tinggi bisa menyatukan aspek intelektual, emosional, dan spiritual, Indonesia bisa unggul dan bersaing dengan negara-negara lain,” tambahnya.
Dedi Mulyadi menekankan, kecepatan membaca, menghitung, dan memahami tanda-tanda perubahan adalah modal bangsa Indonesia.
Dengan memadukan kemampuan ini, masyarakat Indonesia dapat menguasai ilmu pengetahuan sekaligus intuisi spiritual, sehingga mampu membaca gelombang perubahan dengan lebih baik.
Dedi Mulyadi menutup pemikirannya dengan istilah Sunda yakni Miindung ka waktu, mibapa ka zaman, pindah cai pindah tampian, sebagai simbol kemampuan bangsa Indonesia menangkap perubahan dan beradaptasi dengan cepat. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim