Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Program Ketahanan Pangan Bikin Pusing Pemerintahan Desa di Kabupaten Bogor, Ini Penyebabnya

Yosep Awaludin • Rabu, 5 Februari 2025 | 08:38 WIB
Darwin Warsono. Kades Cibanteng Kecamatan Ciampea akan melakukan pelatihan kepada warga untuk program ketahanan Pangan Desa tahun 2025.
Darwin Warsono. Kades Cibanteng Kecamatan Ciampea akan melakukan pelatihan kepada warga untuk program ketahanan Pangan Desa tahun 2025.

RADAR BOGOR - Tidak sedikit dari pemerintahan desa di Kabupaten Bogor terutama wilayah Barat, yang mengaku dilema dengan Program Ketahanan Pangan yang digulirkan sebesar 20% setiap tahunnya dari dana desa bantuan pusat.

Agar diketahui, Ketahanan Pangan ini merupakan program kerjasama antara Kementerian Pertanian (Kementan) dan Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Teransmigrasi, sebagai program strategis dalam mendukung ketahanan pangan desa melalui pengalokasian dana desa.

Lanjutannya, Program Ketahanan Pangan desa yang sudah bergulir sejak 2013 itu, menurut Mardiman Kepala Desa Girimulya, Kecamatan Cibungbulang, bikin desa pusing tujuh keliling, lantaran timbul ketidakseriusan warga dalam menekuni programnya.

"Dalam beberapa tahun kebelakang kita mencoba fokus pada beberapa program unggulan yang disepakati bersama dengan warga, yaitu melaksanakan program ketahanan pangan melalui pengembangan peternakan, perikanan. Namun hasilnya malah mengecewakan," kata Mardiman Selasa (4/2/2025).

Dimana permasalahan yang muncul dalam pelaksanaannya lanjut dia, disebabkan oleh banyak hal. Salah satunya akibat besarnya biaya pembelian pakan, biaya perawatan, biaya kesehatan ternak, termasuk sumber daya manusia.

"Sehingga hal ini memicu warga yang kita percaya dalam melakukan pengembangannya di lapangan, menjadi kendur pada tanggung jawab. Seperti adanya hewan hewan ternak yang mati, hilang dicuri, maupun sebagainya," tuturnya.

Begitupun untuk ketahanan pangan pada penanaman tanaman buah seperti jeruk limau dan sebagainya, hasilnya tidak seperti yang diharapkan.

"Dan untuk itu di tahun 2025 ini, kami Desa Girimulya akan mencoba fokus pada perkebunan palawija saja, seperti menanam jagung, umbi jalar maupun singkong," tandasnya.

Edi Sukarya, Kepala Desa Cimanggu 2 menambahkan, dari jumlah hewan ternak yang dibeli desa berasal dari 20% dana desa untuk program ketahanan pangan.

"Hasilnya sebanyak 26 ekor kambing mati, 24 ekor kambing hilang dicuri. Jadi mau bagaimana lagi, kalau dibilang dilema ya kita dilema, akan tetapi program ini kan harus tetap berjalan karena diusung langsung oleh pemerintah pusat," tandasnya.

Darwin Warsono Kepala Desa Cibanteng, Kecamatan Ciampea membenarkan, dimana program Ketahanan Pangan desa yang pemantapannya sudah berlangsung di 2022 lalu itu, membuat pusing pemerintah desa.

"Untuk kelanjutannya, ya desa harus membangun SDM-nya terlebih dahulu, misalnya kita berikan pelatihan bagi warga yang ingin menjalani ternak ikan, perkebunan, persawahan, hingga ternak domba, dimana tujuan semua ini agar tidak salah sasaran. Sebab kalau salah penerapan lagi, ya kita pemerintah desanya yang jadi stres," pungkasnya. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#ketahanan pangan #pemerintah desa #kabupaten bogor