RADAR BOGOR - Bencana alam di Sumatra yang begitu masif baru baru ini menyentak kesadaran kita, bahwa di Jawa Barat pun sebenarnya juga sedang di ambang bencana ekologis.
Bayang-bayang tragedi banjir dan longsor di Sumatera bukan tidak mungkin terjadi di tanah Pasundan jika deforestasi dan aktivitas tambang baik legal maupun ilegal terus menggerus daya dukung alam kita.
Tutupan hutan yang menyusut drastis menjadi alarm yang tak bisa diabaikan.
Namun, menuding masyarakat yang terlibat dalam penambangan liar (peti) tanpa memberikan solusi ekonomi adalah tindakan yang naif.
Seringkali, cangkul diayunkan ke perut bumi karena desakan ekonomi.
Masyarakat butuh akses pendapatan.
Jika akses itu tertutup, alam yang akan menjadi korbannya.
Lantas, adakah jalan tengah di mana "hutan tetap lestari, tapi masyarakat tetap makan"?
Jawabannya ada, dan sudah terbukti berjalan di halaman rumah kita sendiri, di Kabupaten Bogor: Community-Based Ecotourism (Ekowisata Berbasis Komunitas).
Kajian Ilmiah dan Bukti Lapangan
Keyakinan ini bukan sekadar asumsi, melainkan hasil penelitian dilapangan dan riset mendalam yang telah kami publikasikan secara akademik dalam Journal of Social Entrepreneurship Theory and Practice, Vol. 4 No. 1 (2025).
Dalam jurnal tersebut, kami membedah bagaimana kewirausahaan berbasis komunitas di tiga lokasi yaitu Lembur Anyar, Curug Kembar Cisangku, dan Curug Leuwi Hejo berhasil menjadi benteng penyelamat lingkungan sekaligus lumbung ekonomi warga.
Temuan kami selama dilapangan dan di publikasikan dalam jurnal tersebut menegaskan bahwa ketika masyarakat dilibatkan penuh sebagai "pemilik" dan pengelola, mereka berubah menjadi garda terdepan pelindung alam.
Logikanya sederhana yakni dalam ekowisata, alam yang indah adalah "modal usaha".
Jika sungai keruh karena limbah tambang atau bukit gundul, wisatawan tidak akan datang, dan pendapatan mereka hilang.
Dari 'Gurandil' Menjadi Pemandu Wisata: Pelajaran dari Pongkor
Salah satu contoh paling menyentuh yang kami temukan adalah transformasi sosial di kawasan sekitar Pongkor dan Cisangku.
Dulu, banyak warga lokal menggantungkan hidup sebagai penambang emas tanpa izin (gurandil) di kawasan Pongkor yang berisiko tinggi dan merusak lingkungan.
Konflik lahan dengan pengelola kawasan hutan pun kerap terjadi.
Namun, dengan pendekatan community-based entrepreneurship, terjadi perubahan drastis.
Para mantan penambang ini perlahan meletakkan alat tambang mereka dan beralih profesi.
Di Curug Kembar Cisangku, misalnya, masyarakat yang dulunya berkonflik kini mengelola kemitraan wisata.
Mereka kini sibuk mengelola tiket, menjadi pemandu trekking, hingga membudidayakan tanaman endemik dan kopi.
Mereka menyadari bahwa menjaga air tetap jernih untuk wisatawan ternyata lebih menguntungkan dan berkelanjutan daripada mengaduk-aduk tanah mencari emas yang tak pasti.
Seorang pemuda lokal bersaksi kepada kami, "Dulu susah cari kerja, sekarang saya punya penghasilan dan belajar melayani tamu".
Ini adalah bukti bahwa perut kenyang tak harus dengan merusak alam.
Mengubah Masalah Menjadi Aset
Model yang kami tulis dalam Journal of Social Entrepreneurship Theory and Practice ini menunjukkan bahwa pendapatan dari tiket masuk, warung, dan jasa pemandu wisata mampu memberikan kesejahteraan nyata.
Di Leuwi Hejo, perputaran ekonomi dari aktivitas ini sangat signifikan bagi warga desa.
Pemerintah Kabupaten Bogor dan Provinsi Jawa Barat perlu melihat ini sebagai cetak biru (blueprint) penanggulangan bencana ekologis.
Daripada menghabiskan anggaran untuk penanganan pasca-bencana, alokasikan sumber daya untuk membedah akses infrastruktur menuju desa wisata dan berikan pelatihan manajerial bagi warga.
Bencana ekologis bisa dicegah jika kita memberi warga "alat pancing" yang tepat.
Ekowisata berbasis komunitas adalah alat pancing itu. Ia membuat mantan penambang menjadi penjaga hutan, dan mengubah ancaman kerusakan menjadi aset masa depan yang lestari. (*)
Oleh: Sariat Arifia
(Peneliti dan Dosen Institut Teknologi Bisnis Vinus Bogor)