RADAR BOGOR - Alhamdulillah, Allah SWT masih memberikan kesempatan kepada kita sebagai umat Islam untuk kembali melaksanakan ibadah puasa Ramadhan 1447 Hijriyah.
Entah sudah berapa puluh kali ibadah puasa yang kita laksanakan dengan segala pemahamannya terhadap syarat, rukun dan hukum fikih lainnya.
Ibadah puasa memiliki karakteristik yang unik dan personal sifatnya karena merupakan ibadah tersembunyi (private and hidden ritual worship).
Setiap perintah ibadah yang Allah swt perintahkan kepada manusia memiliki kebaikan, hikmah dan filosofi yang sifatnya bermanfaat baik secara hubungan dengan Allah swt (hablumminallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablumminannas).
Sebagaimana diketahui bersama terdapat beberapa aturan atau larangan kepada umat Islam selama berpuasa seperti menahan makan minum di siang hari dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Larangan ini sifatnya batasan terhadap aktifitas biologis konsumtif.
Selain itu juga berupa larangan melakukan hubungan suami istri di siang hari yang juga merupakan salah satu kebutuhan biologis.
Hal lainnya adalah menahan atau menghindari diri dari perkataan atau lisan yang kotor seperti gosip, menghina, melecehkan, marah dan aktifitas verbal lainnya.
Dari beberapa hal larangan atau batasan tadi penulis tertarik dengan batasan tentang pentingnya berkata yang baik (qaulun hasanah), perkataan yang bermanfaat dan memberikan energi atau imlikasi positif untuk orang lain.
Puasa dan Merawat Komunikasi Verbal
Agama Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berkata yang baik.
Berkata-kata yang baik merupakan salah satu adab berkomunikasi yang sangat dianjurkan dan ditekankan untuk menjaga harmoni, keakraban, kondusifitas, dan ketenteraman dalam sebuah komunitas atau masyarakat.
Berkaitan dengan hal tersebut terdapat beberapa keterangan atau hadits Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan pentingnya berkata yang baik antara lain, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam" (HR. Bukhari).
Hadist ini memberikan dua opsi atau pilihan, untuk tercapainya sebuah pola komunikasi yang baik sebaiknya si penutur mengeluarkan perkataan yang baik dan seandainya tidak bisa maka sebaiknya diam (silent).
Berkaitan dengan puasa secara spesifik bahkan Rasulullah SAW menyinggung bahwa tidak ada pahala berpuasa bagi orang yang berpuasa tapi tidak mampu menahan dirinya dari berkata kata yang yang kotor atau tercela seperti marah, mencela, menghardik, gosip dan aktifitas lisan atau verbal lainnya yang menimbulkan ketidakharmonisan atau ketidaknyamanan bagi lawan bicara dalam berkomunikasi.
Hal tersebut disampaikan dalam hadits, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan” (HR. Bukhari).
Sebagai mahluk sosial (zoon politicon) sebagaimana diistilahkan oleh Aristoteles, maka manusia dalam kehidupan sosial kesehariannya tentu tidak pernah lepas dari komunikasi verbal dan non-verbal.
Komunikasi verbal melalui perkataan lewat lisan secara fisik sesekali menimbulkan ketidakfahaman atau miskomunikasi, konflik, atau kondisi yang kurang harmonis akibat dari efek komunikasi verbal sesuai dengan niat atau motif dalam berkomunikasi.
Seringkali konflik yang terjadi di masyarakat bersumber dari perkataan lisan atau verbal yang menyinggung, menghina, merendahkan dan menyakiti orang lain sebagai akibat dari pelanggaran terhadap adab kesopanan (politeness).
Dalam konteks ibadah puasa, Rasulullah SAW bahkan melarang umatnya untuk merespon atau menanggapi ocehan, hinaan dan ujaran kebencian secara verbal dari invidividu, sebagaimana disampaikan dalam haditsnya, Jika ada yang mencaci atau memusuhi orang yang berpuasa, hendaklah ia berkata, "Sesungguhnya aku sedang berpuasa".
Di sisi lain dalam dunia virtual dan media sosial, fenomena bentuk komunikasi verbal lainnya secara tertulis dan virtual di dunia maya yang sifatnya obrolan atau chat, menurut Bekaryan (2025) dianggap sebagai komunikasi verbal yang sifatnya menyerang, menghina atau melecehkan dengan istilah flames.
Menurutnya, “Flames denote verbal attacks in electronic forms, like via e-mail or in a chatroom, and flamers are people keen on starting fights in virtual reality,“ Fenomena sindiran, hinaan, dan cacian atau ujaran kebencian yang merupakan fenomena komunikasi verbal juga mendapatkan variasi komunikasi lainnya di media sosial dan telah bergeser tidak hanya dari komunikasi langsung vis a vis.
Kedua realitas tersebut komunikasi verbal secara fisik di dunia nyata dan non-fisik di dunia maya tentunya tetap harus dijaga secara adab dan etika, terlebih saat umat Islam berpuasa.
Karena tidak sedikit fenomenan individu yang walaupun berpuasa tetapi lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berkomunikasi lewat dunia maya atau media sosial.
Itulah salah satu kecerdasan atau intelijensi manusia yang terus berkembang dalam berkomunikasi, akan tetapi tetap saja konflik atau kondisi yang tidak harmonis baik antara individu dan komunitas seringkali berawal dari komunikasi verbal yang tidak memperhatikan unsur adab, etika dan kesopanan (politeness) dalam berkomunikasi.
Untuk umat Islam khususnya di bulan suci Ramadhan menjaga lisan atau berkata yang baik adalah ciri dari berhasilnya individu tersebut dalam internalisasi nilai-nilai atau hikmah puasa dalam dirinya dalam mencapai derajat ketakwaan yang sesungguhnya. Semoga. (*)
Penulis : Rudi Haryono
Dosen Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim