RADAR BOGOR – Kemegahan Masjid Raya Nurul Wathon yang berada di depan Stadion Pakansari kini menjadi pemandangan baru yang mencuri perhatian masyarakat di Kabupaten Bogor.
Berdiri kokoh di kawasan Gelora Pakansari, Masjid Raya Nurul Wathon ini perlahan menjelma sebagai ikon religius sekaligus kebanggaan baru bagi warga Bumi Tegar Beriman, Kabupaten Bogor.
Masjid Raya Nurul Wathon yang berlokasi di Kawasan Pakansari wilayah Cibinong, Kabupaten Bogor tersebut dibangun di atas lahan seluas sekitar 2,6 hektare.
Kehadirannya menjadi bagian dari pengembangan kawasan Pakansari yang tidak hanya dikenal sebagai pusat olahraga, tetapi juga sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat.
Pembangunan Masjid Raya Nurul Wathon menggunakan anggaran dari APBD Kabupaten Bogor tahun 2025 dengan nilai sekitar Rp111 miliar.
Dengan anggaran tersebut, masjid ini dirancang menjadi salah satu masjid raya terbesar dan termegah di wilayah Kabupaten Bogor.
Dari sisi arsitektur, bangunan masjid mengusung perpaduan desain klasik dan modern yang menghadirkan kesan megah sekaligus elegan.
Salah satu ciri paling mencolok adalah menara setinggi 99 meter yang dinamai Menara Tauhid, menjulang tinggi dan menjadi penanda keberadaan masjid dari berbagai penjuru kawasan Pakansari.
Ruang utama masjid memiliki ukuran sekitar 44 x 57,2 meter dengan luas keseluruhan mencapai 4.707 meter persegi.
Bangunan ini terdiri dari dua lantai yang mampu menampung ribuan jemaah.
Di sekeliling masjid juga tersedia jalur pedestrian selebar delapan meter yang memberi ruang bagi masyarakat untuk berjalan santai sambil menikmati suasana religius di area tersebut.
Lokasi masjid yang berada di kawasan Pakansari membuatnya mudah dijangkau oleh masyarakat dari berbagai wilayah.
Tak heran, warga dari 40 kecamatan di Kabupaten Bogor hampir setiap hari berdatangan. Ada yang sekadar ingin melihat langsung kemegahan masjid, ada pula yang datang untuk menunaikan salat dan merasakan suasana religius di dalamnya.
Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menyebut bahwa kawasan di sekitar masjid akan terus dikembangkan sebagai pusat layanan keagamaan bagi masyarakat.
Salah satu rencananya adalah pembangunan pusat layanan haji serta asrama haji bagi calon jemaah dari Kabupaten Bogor.
“Asrama haji akan dibangun insya Allah 13 lantai dengan 253 kamar,” ujarnya kepada Radar Bogor.
Di area masjid juga terdapat miniatur Ka'bah yang menyerupai yang ada di Masjidil Haram. Miniatur ini nantinya dimanfaatkan sebagai sarana manasik haji bagi calon jemaah haji dari Bogor sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Masjid Raya Nurul Wathon pertama kali digunakan untuk salat berjamaah pada 26 Desember 2025.
Saat itu, Pemerintah Kabupaten Bogor menggelar Doa Bersama dan Refleksi Akhir Tahun yang dihadiri ribuan jemaah dari berbagai wilayah.
Pada kesempatan tersebut, Rudy Susmanto juga menjelaskan makna dari nama Nurul Wathon. Menurutnya, nama tersebut memiliki arti “cahaya negeri”, yang selaras dengan semangat pembangunan Kabupaten Bogor.
“Kenapa kita menyebutnya cahaya negeri sesuai dengan tagline yang dibuat oleh para pendahulu-pendahulu kami, Kuta Udaya Wangsa, Pusat Kebangkitan Bangsa,” jelasnya.
Memasuki bulan suci Ramadan, aktivitas di Masjid Raya Nurul Wathon semakin ramai. Berbagai kegiatan keagamaan dan sosial digelar untuk melayani masyarakat.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika, mengatakan masjid ini rutin menyiapkan hidangan berbuka puasa bagi para jemaah.
“Biasa menyiapkan buka puasa rentang 200 porsi sampai 500 porsi bahkan di malam minggu meningkat lebih dari 500 porsi,” ungkapnya.
Selain itu, Ajat menyampaikan masjid Nurul Wathon juga menjadi tempat penerimaan dan penyaluran zakat fitrah bagi masyarakat Kabupaten Bogor. Namun untuk pelaksanaan Salat Idulfitri.
"Memang ketika Idulfitri masjidnya tidak di pakai, semua di dalam stadion pakansari termasuk open house," tandasnya
Kini, Masjid Raya Nurul Wathon bukan sekadar bangunan megah di tengah kawasan Pakansari. Ia telah menjelma menjadi pusat aktivitas keagamaan sekaligus simbol cahaya baru bagi Kabupaten Bogor sebuah “cahaya negeri” yang menerangi kehidupan spiritual masyarakat Bumi Tegar Beriman.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga