RADAR BOGOR — Pemuda dinilai memiliki peran strategis dalam mengawal pembangunan di wilayah Bogor Barat, isu tersebut menjadi topik utama dalam diskusi publik yang diselenggarakan Forum Komunikasi Bumi Putra (FKBP) Bogor Barat di Leuwiliang, pada Sabtu, 14 Maret 2026.
Diskusi publik ini tidak hanya menjadi ajang mempererat silaturahmi, tetapi juga menjadi bentuk rasa syukur atas terbentuknya FKBP Bogor Barat.
Kehadiran FKBP Bogor Barat ini diharapkan dapat menjadi wadah penyalur aspirasi masyarakat, khususnya dalam mengawal berbagai dinamika sosial dan pembangunan di kawasan Bogor Barat.
Dalam diskusi tersebut, tema yang diangkat menitikberatkan pada peran strategis pemuda dalam mendorong percepatan pembangunan Kabupaten Bogor, terutama di wilayah Daerah Pemilihan (Dapil) 5 yang meliputi Jasinga, Tenjo, Cigudeg, Sukajaya, Nanggung, Leuwisadeng, Leuwiliang, Parungpanjang, dan Rumpin.
Tokoh pemuda Bogor Barat, Irfan Drajat, yang hadir sebagai narasumber menegaskan pentingnya sinergi dari berbagai elemen masyarakat.
Menurutnya, tantangan pembangunan di Bogor Barat membutuhkan pemikiran kritis sekaligus langkah nyata dari para pemuda agar perubahan yang diharapkan masyarakat dapat segera terwujud.
“Hari ini kita menyoroti pembangunan di wilayah Bogor Barat. Pemuda harus hadir dengan sikap kritis dan menjadi motor penggerak agar percepatan pembangunan dapat tercapai di masa mendatang,” ujarnya.
Selain itu, Ketua DPC Peradi Kabupaten Bogor, Oteu Herdiansyah, turut menyampaikan pandangannya dari perspektif hukum dan organisasi.
Ia menegaskan bahwa pengawalan terhadap berbagai persoalan sosial di Bogor Barat harus berlandaskan konstitusi serta berpihak pada kepentingan dan hak masyarakat setempat.
Sementara itu, pemuda sekaligus pengamat sosial, Gus Day, memberikan sejumlah catatan kritis terkait berbagai persoalan sosial yang masih dihadapi masyarakat di Bogor Barat.
Diskusi berlangsung dinamis dengan mengangkat beragam isu, mulai dari pemerataan pembangunan infrastruktur hingga upaya pemberdayaan ekonomi kreatif bagi generasi muda di wilayah pedesaan.
Sebagai penutup, kegiatan tasyakuran tersebut diakhiri dengan komitmen bersama untuk menjadikan FKBP sebagai forum yang inklusif.
Ke depan, forum ini juga berencana menggelar dialog serupa secara rutin guna memastikan berbagai persoalan lokal tetap mendapat perhatian dari para pemangku kebijakan.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga