RADAR BOGOR - Berbicara soal peradaban Islam di Kota Bogor tak mungkin lepas dari sosok Mbah Dalem. Ulama yang hingga kini makamnya ramai dikunjungi peziarah.
Mbah Dalem yang terkenal di Bogor sendiri memiliki nama lengkap Syeh Abdurrahman Abu Bakar Alyidrus. Kata "Dalem" yang disematkan itu mengartikan kedalaman ilmu yang beliau miliki.
Mbah Dalem merupakan ulama kelahiran Negeri Yaman. Hadir ke Indonesia dan menetap di Kota Bogor untuk menyebarkan ajaran Islam. Strategi dakwah yang digunakannya juga terbilang cukup unik.
Juru Kunci Makam Mbah Dalem, Acep menyebut sosok Mbah Dalem dikenal sangat dekat dengan masyarakat. Bahkan menurut cerita leluhurnya ulama legendaris itu dinilai someah atau murah senyum.
"Beliau sering menggunakan baju gamis putih atau engga hijau, dikepalanya ada sorban yang melingkar, kulitnya putih bersih, tubuhnya tinggi dan rambutnya pendek," beber Acep saat ditemui Radar Bogor.
Sehingga Asep menyebut tidak heran kalau makamnya sampai hari ini masih ramai dikunjungi orang. Bahkan yang datang bukan hanya masyarakat Bogor melainkan dari seluruh Indonesia.
Acep mengaku dirinya tidak pernah mendapat keterangan pasti kapan sosok Mbah Dalem wafat. Dia hanya diceritakan kalau makam yang berlokasi di kawasan Lawang Gintung, Bogor Selatan itu sudah ada sejak zaman Belanda.
Awalnya makam tersebut hanya berbentuk batu. Namun seiring berkembangnya waktu kawasan pemakaman itu sudah direnovasi, dan sekarang sudah berbentuk semacam rumah dengan cat hijau.
"Tapi baru satu kali renov itu waktu zaman ayah saya jadi kuncen disini, sisanya belum ada lagi paling cuma genteng bocor terus ditukar," tutur Acep, Kamis (6/3/2025) siang.
Setiap hari makam Mbah Dalem dijaga oleh dua orang kuncen. Keduanya merupakan satu darah alias saudara. Dan yang ditugaskan memanglah turun temurun. Jadi tidak sembarang orang.
"Para kuncen termasuk nenek buyut saja dimakamkan di depan makam Mbah Dalem tuh yang didepan berjejer, itu makamnya beliau-beliau semua para kuncen," ujar Acep
Acep berpesan bagi masyarakat yang datang berniat hanya untuk ziarah saja. Tidak maksud dengan meminta apapun. Karena tetap yang maha kuasa itu Allah SWT.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga