RADAR BOGOR - Kasus campak dan rubela masih menghantui warga Kota Bogor. Sepanjang tahun 2025 Dinas Kesehatan (Dinkes) menemukan dua orang yang mengidap penyakit tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr. Sri Nowo Retno memaparkan data tersebut ditemukan pada bulan Juni. Rinciannya, seorang mengidap penyakit campak dan sisanya rubela.
Meski jumlahnya relatif tidak banyak, Retno menegaskan kondisi ini tidak bisa terus dibiarkan. Pihaknya telah menyiapkan langkah taktis guna mengantisipasi kasus campak. Salah satunya lewat Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
“Melalui BIAS, kekebalan individu dan kekebalan kelompok (herd immunity) diperkuat di lingkungan sekolah, sehingga potensi penularan penyakit menular dapat ditekan secara signifikan,” jelas Retno.
Dalam setahun, BIAS biasanya dilaksanakan dua kali. Persisnya pada bulan Agustus dan November. Program ini dilakukan di masing-masing sekolah yang ada di Kota Bogor, mulai dari SD hingga SMP.
Retno memaparkan total ada 357 SD yang menjadi sasarannya. Sementara jenjang SMP ditargetkan menyasar ke 172 sekolah. Program BIAS akan terus digencarkan, mengingat ini sudah amanah dari pemerintah pusat.
“Saat ini BIAS sedang berlangsung dengan sasaran 18.819 anak kelas 1 SD, 8.631 anak perempuan kelas 5, 647 anak perempuan kelas 6 dan 7.927 anak perempuan kelas 9 SMP,” beber Retno pada Radar Bogor.
Saat pelaksanannya, Retno mengaku kerap kali mendapat berbagai tantangan. Tidak sedikit orang tua yang menolak anaknya untuk diberikan imunisasi. Alasannya, terkait status hukum halal dan haram dari vaksin yang telah diberikan.
Nanun Retno beserta jajarannya selalu menyampaikan bahwa BIAS sangat penting. Langkah ini merupakan salah satu strategi utama pemerintah untuk melindungi kesehatan anak usia sekolah dari penyakit-penyakit seperti campak dan rubela.
“Mari kita bersama memastikan anak kita mendapat imunisasi lengkap. Sukseskan Bulan Imunisasi Anak Sekolah demi mewujudkan generasi sehat, kuat, dan bebas penyakit menular,” pungkasnya. (rp1)
Editor : Yosep Awaludin