RADAR BOGOR - Pesona kuliner mie di Kota Bogor, memang tidak ada habisnya. Bahkan, satu di antaranya memiliki cerita panjang karena usianya sudah mencapai ratusan tahun.
Di sebuah gang sempit di Jalan Roda Gardu Tinggi Nomor 37, Kota Bogor berdiri pabrik mie tua.
Bangunannya sederhana dengan dinding bilik menghitam dan jendela kawat kuno yang masih terpasang seperti puluhan tahun lalu.
Masuk ke dalamnya, aroma tepung langsung menguar dan memenuhi ruangan. Suara kayu besar yang menggilas adonan terdengar berat namun ritmis, seolah menjadi denyut nadi tempat ini sejak 1937.
Pabrik ini didirikan Lie Djie Kiem, seorang imigran asal China yang datang ke Indonesia pada masa penjajahan.
Hidup yang serba sulit membuat apa pun yang bisa dikerjakan menjadi pekerjaan, termasuk membuat mie dengan alat seadanya.
“Namanya dulu memang tidak ada, orang cuma sebut Mie Kimsyong,” kata Mira, generasi ketiga Mie Lie yang kini mengelola tempat itu.
Perubahan baru terjadi ketika keluarga mulai mendaftarkan usaha dunia digital.
Saat itu regulasi mensyaratkan setiap unit usaha harus memiliki nama yang khas dan berbeda dari yang lain.
“Tadinya mau pakai nama saya, tapi ini bukan saya yang memulai jadi kami pakai nama marga, Lie,” ujarnya.
Jejak sejarah pabrik ini tertanam pada setiap sudut bangunan.
Lantai dan meja kayunya keras karena bertahun-tahun tertimpa adonan, sementara mesin penggiling tua masih berdiri gagah meski catnya mengelupas dimakan usia.
“Kakek saya dulu dari China dan katanya bukan tukang mie, malah guru. Tapi mungkin karena zaman susah, akhirnya dia bikin mie untuk usaha.” Jelas Mira pada Radar Bogor.
Generasi berganti namun proses tetap dipertahankan. Adonan masih dicampur manual, diuleni dengan tangan, lalu digilas dengan kayu besar yang sudah mengikuti perjalanan keluarga itu sepanjang puluhan tahun.
Ritme itu sempat goyah ketika ayah Mira mengalami stroke selama dua tahun sebelum akhirnya meninggal pada 2014.
Karyawan berkurang, beberapa pekerja absen bersamaan, dan produksi sering berhenti begitu saja.
“Saya waktu itu tidak bisa apa-apa, paling cuma layani pelanggan dan terima telepon. Sampai teman saya bilang sayang kalau usaha ini hilang, dari situ saya mulai sadar,” ucapnya.
Tapi proses belajar tidak mudah karena resep turun-temurun mengandalkan feeling.
Mira pun sempat kesulitan untuk belajar. Ditambah usia para karyawan yang dulu sudah tak lagi muda.
“Saya tanya ke karyawan tapi ditolak karena mereka bilang cuma pakai rasa dan ukuran kira-kira,” katanya.
Mira akhirnya membeli gelas takar untuk mendapatkan ukuran yang lebih pasti.
Pelan-pelan ia belajar dari seorang karyawan yang mau mengajarinya meski pekerja lain keluar masuk tanpa stabilitas.
“Resep semuanya pakai feeling, makanya saya belajar pelan-pelan sampai akhirnya saya paham, waktu itu sempat juga merasa dikerjain karena saya tidak bisa apa-apa.”
Tahun 2017 menjadi titik paling berat ketika ia nyaris menutup pabrik dan beralih pekerjaan.
Namun setiap kali terpikir menutup usaha, wajah para pelanggan lama terbayang dan menghentikan langkahnya.
“Saya ingat pelanggan setia dan itu yang bikin saya teruskan. Kalau saya berhenti, hilanglah warisan keluarga ini,” beber Mira, Minggu (16/11/2025) sore.
Kini Mie Lie tetap setia dengan cara produksi klasiknya dan tidak menggunakan bahan tambahan yang aneh demi menjaga kualitas. Hal itu juga dilakukan untuk kesehatan para penikmatnya.
“Kami tidak pakai bahan aneh-aneh karena kami mentingin kesehatan,” ujar Mira sambil menunjukkan adonan yang sedang ia bentuk.
Produk yang dihasilkan pun semakin beragam mulai dari dua jenis mie telur, pangsit goreng, pangsit basah, hingga kulit dimsum yang masing-masing memiliki adonan berbeda.
“Dulu zaman papa cuma satu jenis mie, sekarang ada beberapa karena permintaan,” jelasnya.
Harga mie biasa dibanderol Rp25 ribu per kilogram, sedangkan mie spesial Rp30 ribu per kilogram dengan racikan yang tetap dijaga turun-temurun.
Semua dibuat dalam ruang produksi sempit yang menyimpan aroma tepung dan kenangan keluarga yang bertahan hampir seabad.
Pabrik tua ini tidak hanya menjual mie, tapi juga menghadirkan potongan kecil perjalanan sejarah Kota Bogor.
Suasana vintage, proses manual, dan keteguhan satu keluarga menjadikannya legenda yang tetap hidup di tengah kota yang terus berubah.(bay)
Editor : Alpin.