RADAR BOGOR - Distribusi MBG di Kota Bogor selama ramadhan banyak disorot. Sebab, paket menu MBG yang dibagikan dinilai tidak sesuai dengan ketentuan anggaran.
Hal ini seperti yang tercermin di Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, karena siswa dapat menu MBG berupa roti, pisang, susu dan telor puyuh.
Kondisi menu MBG serupa juga terjadi di wilayah Kecamatan Tanah Sareal. Siswa di wilayah ini hanya dapat menu MBG berupa satu potong bolu,susu dan kurma.
Banyak orang tua murid yang menyampaikan ketidak puasannya melalui media sosial. Hal ini yang membuat banyak kecaman dari netizen lainnya.
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana mengatakan tiap siswa memang tidak dapat menu serupa. Semua disesuikan dengan tingkatan pendidikan.
"Jadi misal kelas dua sama empat seharusnya beda meski dalam satu sekolah," jelas Dadan saat dikonfirmasi Radar Bogor, Rabu 25 Februari 2026.
Perbedaan menu juga disesuaikan dengan harga paket yang dibagikan. Kelas satu sampai dengan tiga SD lebih murah ketimbang siswa di atasnya.
"Untuk Balita sampai SD kelas 3 Rp8 ribu. Kelas empat dan seterusnya itu baru Rp10 ribu," ungkap Dadan saat ditanya soal harga satu paket MBG.
Untuk diketahui, distribusi MBG selama ramadhan memang terus berlangsung. Menu yang disajikan disesuikan dengan mereka yang menjalankan puasa.
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) BGN Bogor, Haidir mengatakan penyesuaian menu sangat penting. Sebab penerima manfaat MBG di wilayah ini mayoritas muslim.
“Sesuai dengan aturan nasional MBG itu tetap berjalan saat ramadhan. Cuma menunya tentu disesuiakan, di Kota Bogor kan mayoritas hampir semua muslim, pasti puasa,” jelasnya.
Haidir menuturkan bahwa sebetulnya belum ada Juknis resmi dari pusat soal menu MBG selama ramadhan. Cuma skemanya tidak jauh beda dengan tahun sebelumnya.
“Paketnya adalah paket yang biasa dibawa pulang. Kalau tahun 2025 itu ada kaya kurma, telur rebus, abon begitu. Jadi bukan paket siap saji,” terang Haidir pada Radar Bogor.
Menu tersebut didistribusikan langsung saat siswa masuk sekolah. Para guru diharap bisa melakukan monitoring agar makanan yang dibagikan tidak langsung disantap oleh siswa.
Perbedaan menu MBG selama ramadhan juga disesuiakan dengan kategori penerima manfaat. Jika mereka ibu hamil, dan balita paket makanannya tidak ada perubahan.
“Dibagikan oleh kader Posyandu ke rumah-masing. Tetap sama kalau untuk ibu hamil atau balita, karena mereka kan bukan orang yang berpuasa,” ucap Haidir kepada Radar Bogor.
Di Kota Bogor saat ini sudah ada 300 ribu lebih penerima manfaat MBG. Ini merupakan gabungan dari berbagai kategori, mulai dari siswa,guru ibu hamil dan balita.
“Sudah ada 300 ribu lebih dapurnya kan ada 106 yang sudah beroperasi tinggal di kali 3.000 saja. Insya allah dapur MBG nya terus bertambah yah,” pungkasnya.(bay)
Editor : Alpin.