RADAR BOGOR - Di tengah gempuran coffee shop baru dan perang diskon, restoran lama seperti Ardhita Restaurant tetap bertahan hingga sekarang.
Bukan dengan harga murah, tapi dengan rasa dan loyalitas pelanggan membuat Ardhita Restaurant and Lounge tetap eksis.
Di tengah maraknya coffee shop baru yang tumbuh seperti jamur di Kota Bogor, Ardhita Restaurant and Lounge tetap berdiri tenang di Jalan KH. Sholeh Iskandar atau Jalan Baru.
Restoran ini terus menyesuaikan diri agar tak tenggelam di antara tren yang terus berubah.
Aryani Farsyah, sang pemilik, menyadari betul bagaimana dunia kuliner belakangan ini digerakkan oleh viralitas. Namun ia menolak untuk sekadar ikut-ikutan.
“Banyak yang viral, tapi cuma bertahan sebentar. Produk harus tetap enak. Orang rela bayar Rp60.000 kalau makanannya benar-benar enak,” ujarnya.
Bagi Aryani, kualitas adalah kunci. Ia menyebut tak sedikit restoran yang tumbang karena terlalu fokus pada strategi harga murah demi mengejar traffic sesaat.
“Kami tidak ingin dikenal karena murah, tapi karena enak. Kalau orang datang karena rasa, mereka akan balik lagi," ungkapnya.
Bukan berarti Ardhita tak melakukan promosi. Hanya saja pendekatannya berbeda.
Alih-alih membanting harga, restoran ini kerap menawarkan bundling menu baru atau promo musiman yang tetap menjaga profit.
“Promo tetap ada, tapi kami gak ikut perang harga. Itu risiko banget,” tambah Aryani.
Konsistensi menjaga kualitas makanan bukan satu-satunya strategi. Aryani juga memaksimalkan kekuatan tim R&D untuk terus memperbarui menu tanpa mengorbankan ciri khas rasa.
Dia bahkan turun langsung dalam proses uji rasa. “Kalau menu baru, approval-nya cepat. Karena saya juga ikut nyicipin langsung,” katanya.
Perubahan juga hadir dari sisi atmosfer. Tahun ini, Ardhita mulai memperkuat kesan sebagai restoran keluarga. Sebab segmen pasar mereka hampir 80 persen adalah keluarga.
"Jadi sekarang kami banyak adain event yang ramah keluarga—ada cooking class, lomba anak-anak, sampai acara tingkat kabupaten juga pernah kami selenggarakan di sini," ujarnya.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Di tengah gempuran tempat nongkrong anak muda, Ardhita justru menemukan kekuatan pada pengalaman makan yang nyaman untuk semua umur.
Dengan banyaknya pilihan yang tersedia di Kota Bogor, konsumen kian selektif. Bagi Aryani, itulah alasan kenapa pengalaman makan harus terasa personal dan bermakna.
“Di sini ada pelanggan yang hampir tiap hari makan sop buntut,” tuturnya. “Saya sampai gak bisa sembarangan hilangkan menu, nanti mereka komplain.”
Sementara itu, Towaf Totok Irawan, pengamat ekonomi, menilai langkah seperti ini sangat relevan. Menurutnya, pertumbuhan sektor kuliner akan tetap kuat di tahun 2025, tapi hanya mereka yang mampu berinovasi yang akan bertahan.
“Gaya hidup konsumen sekarang sangat dipengaruhi oleh teknologi, kesehatan, lingkungan, dan kreativitas. Restoran harus adaptif,” jelasnya.(uma)
Editor : Alpin.