RADAR BOGOR – Tayangan live streaming bertajuk Marapthon The Last Tale kembali menghadirkan nuansa nostalgia dengan menampilkan grup musik era 80-90an, OM PMR.
Marapthon sendiri merupakan acara live streaming maraton yang digagas oleh Reza Arap, kreator konten sekaligus musisi Tanah Air.
Program Marapthon ini dikenal dengan konsep siaran panjang tanpa putus yang menggabungkan obrolan santai, tantangan, hiburan, serta interaksi langsung dengan penonton selama berjam-jam melalui kanal YouTube YB.
Dikutip dari akun Instagram @konserbalikpapan, siaran langsung yang tayang pada 23 Februari 2026 tersebut mengusung tema "Musisi Lawas Hidup Kembali di Marapthon".
Dalam unggahannya, disebutkan bahwa kehadiran OM PMR menjadi bagian dari upaya menghadirkan kembali semangat musik 1980-an di tengah generasi muda saat ini.
OM PMR dikenal sebagai grup musik dengan warna humor yang kuat dalam lirik-lagunya. Pada penampilan di Marapthon The Last Tale Day 16 Pt.3, sejumlah lagu turut dibawakan.
Di antaranya "Malam Jumat Keliwon", "Banjir", dan "Judul-Judulan", yang telah melekat di ingatan penikmat musik pada masanya.
Melalui segmen tersebut, Marapthon tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mempertemukan lintas generasi dalam satu ruang pertunjukan digital yang interaktif.
Marapthon "The Last Tale" sendiri menghadirkan rangkaian episode dengan kolaborasi berbagai figur publik lintas bidang.
Tidak hanya musisi, program ini juga menampilkan tokoh kuliner seperti Oma Sisca Soewitomo, kreator konten TikTok Idealis92, hingga momen sahur bersama Vieraatale yang sempat menjadi perbincangan beberapa hari lalu.
Selain menjadi ajang nostalgia, kehadiran musisi era sebelumnya dalam platform digital menunjukkan bagaimana karya-karya lama tetap memiliki ruang di tengah perkembangan industri hiburan digital saat ini.
Tayangan ulang Marapthon pun masih dapat disaksikan bagi yang tidak sempat mengikuti siaran langsungnya pada 23 Februari lalu. Dengan Judul Marapthon The Last Tale Day 16 Pt.3
Kehadiran OM PMR di panggung live streaming ini menjadi momen yang mempertemukan kembali generasi lama dan baru, sekaligus mempertegas bahwa musik lintas era tetap memiliki tempat di hati para penikmatnya. (Fadhil/Polimedia)
Editor : Yosep Awaludin