Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Mengapa Gen Z Berisiko Menjadi Generasi Paling Miskin di Indonesia? Ini Penjelasan Lengkapnya

Fadil Ma'ruf • Rabu, 20 November 2024 | 06:31 WIB

Ilustrasi Gen Z.
Ilustrasi Gen Z.

RADAR BOGOR - Mungkin pernah mendengar anggapan Generasi Z atau Gen Z berisiko menjadi generasi paling miskin di Indonesia. 

Gen Z adalah generasi yang lahir pada tahun 1997 sampai 2012 atau di 2024 ini berusia antara 12 sampai 27 tahun.  

Berikut ulasan tentang kondisi yang dihadapi oleh Gen Z mulai dari sulitnya mencari pekerjaan hingga gaya hidup konsumtif. 

Hal itu membuat Gen Z berhadapan dengan tantangan yang luar biasa besar, ditambah sistem yang tampaknya tidak mendukung mereka untuk berkembang.  

Baca Juga: Gaji Pensiunan PNS Naik 12 Persen di 2024, Siap-Siap Cair Desember

Dikutip dari Youtube Catanomika berikut faktor yang menyebabkan Gen Z menghadapi risiko menjadi generasi yang paling tertekan secara ekonomi, sosial, dan budaya di Indonesia.

Nepotisme di Dunia Kerja: Kompetensi Kalah oleh Koneksi 

Cerita tentang susahnya mencari pekerjaan sudah menjadi topik yang sering kita dengar, terutama bagi para lulusan baru. 

Banyak anak muda mengeluh sudah mengirimkan ratusan lamaran tanpa ada hasil. 

Salah satu penyebab utamanya adalah budaya nepotisme yang begitu merajalela di dunia kerja Indonesia. 

Baca Juga: Waspada Jangan Sampai Jadi Korban, Simak Tips Menghindari Penipuan di Media Sosial

Menurut laporan Bank Dunia, sekitar 42% bisnis di Indonesia terkendala oleh praktik nepotisme. 

Hal ini berdampak langsung pada peluang kerja generasi muda. 

Lowongan pekerjaan yang seharusnya diberikan kepada individu yang kompeten malah sering kali jatuh ke tangan mereka yang memiliki koneksi. 

Sebagai perbandingan, di negara-negara maju seperti Kanada dan Australia, sistem rekrutmen lebih mengutamakan kompetensi dan keterampilan. 

Namun, di Indonesia, koneksi sering kali lebih menentukan nasib seseorang dibandingkan kualitas kerja atau kemampuan yang dimiliki.

Sistem Pendidikan yang Tidak Menyiapkan Masa Depan 

Pendidikan di Indonesia sering dikritik karena ketinggalan zaman dan kurang relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini. 

Banyak lulusan SMA, SMK, atau bahkan perguruan tinggi merasa tidak dibekali keterampilan yang sesuai untuk menghadapi dunia kerja. 

Baca Juga: Rekomendasi Kuliner Dekat Stasiun Bogor yang Wajib Dicoba, Rasanya Enak Bikin Ketagihan

Soft skill seperti komunikasi, negosiasi, hingga cara membuat CV yang baik, jarang diajarkan secara mendalam di sekolah. 

Pendidikan vokasi, yang seharusnya menjadi solusi bagi masalah ini, justru terpinggirkan. 

Kurikulum vokasi sering tidak relevan dengan kebutuhan industri, sehingga lulusan vokasi pun kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak.  

Masalah lain adalah akses pendidikan yang tidak merata. 

Banyak daerah terpencil di Indonesia masih kekurangan fasilitas dasar seperti internet, komputer, atau bahkan ruang kelas yang layak. 

Hal ini membuat anak muda di daerah sulit bersaing dengan mereka yang tumbuh di kota besar. 

Gaji Tidak Sejalan dengan Biaya Hidup 

Masalah berikutnya adalah ketimpangan antara gaji dan biaya hidup. Di Jakarta, misalnya, upah minimum regional (UMR) sekitar Rp4,9 juta per bulan. 

Namun, untuk hidup layak di ibu kota, seseorang membutuhkan penghasilan sekitar Rp 8 juta per bulan. 

Akibatnya, banyak generasi muda harus mencari pekerjaan sampingan atau bahkan sering berpindah-pindah pekerjaan demi mencari penghasilan tambahan. 

Sayangnya, langkah ini sering kali memperburuk stabilitas keuangan mereka dalam jangka panjang. 

Tekanan Media Sosial dan Gaya Hidup Konsumtif 

Generasi Z hidup di era digital yang serba terhubung. 

Media sosial menciptakan tekanan besar bagi anak muda untuk hidup sesuai dengan standar glamor yang ditampilkan di layar. 

Menurut survei, 68% Gen Z di Indonesia merasa tertekan untuk menghabiskan uang demi memenuhi standar sosial. 

Mereka lebih memprioritaskan untuk tampil keren di media sosial daripada menabung untuk masa depan. 

Gaya hidup konsumtif ini sering membuat mereka terjerat utang, termasuk pinjaman online. 

Bahkan, beberapa anak muda mencoba aktivitas terlarang sebagai cara cepat untuk menghasilkan uang, tetapi justru berakhir dengan masalah keuangan yang lebih besar. 

Bonus Demografi yang Belum Dimanfaatkan Maksimal 

Indonesia saat ini tengah menikmati bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif jauh lebih banyak dibandingkan usia nonproduktif. 

Ini seharusnya menjadi peluang emas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. 

Namun, apakah peluang ini benar-benar dimanfaatkan? Sayangnya, banyak yang pesimis. 

Salah satu masalah utama adalah kurangnya investasi pemerintah dalam pengembangan sumber daya manusia. 

Anggaran pendidikan dan pelatihan kerja di Indonesia masih jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara. 

Selain itu, banyak industri di Indonesia belum sepenuhnya siap menyerap tenaga kerja generasi muda yang memiliki keterampilan berbasis teknologi. 

Stigma Negatif terhadap Gen Z 

Gen Z sering dicap sebagai generasi yang pemalas, tidak tahan tekanan, dan mudah menyerah. 

Namun, jika dilihat lebih dalam, label ini sebenarnya mencerminkan perbedaan nilai dan prioritas hidup.  

Generasi Z lebih peduli pada work-life balance dan lebih vokal terhadap isu-isu yang mereka anggap tidak adil, seperti diskriminasi atau lingkungan kerja yang tidak sehat. 

Sayangnya, di Indonesia, budaya hierarki yang kuat sering kali memandang sikap ini sebagai bentuk ketidakpatuhan. 

Stigma ini menciptakan hambatan tambahan bagi Gen Z untuk diterima di lingkungan kerja, bahkan sebelum mereka mendapatkan kesempatan untuk membuktikan diri.

Baca Juga: Waspada Hiperrealitas TikTok, Berikut Tips Menghadapi Dampak Buruknya

Tantangan yang dihadapi Gen Z di Indonesia tidak bisa diabaikan. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasinya:  

  1. Reformasi Sistem Kerja: Menghapus praktik nepotisme dan lebih mengutamakan kompetensi dalam rekrutmen. 

  2. Perbaikan Sistem Pendidikan: Mengintegrasikan soft skill ke dalam kurikulum dan meningkatkan akses pendidikan berkualitas di seluruh daerah.  

  3. Peningkatan Literasi Keuangan: Edukasi tentang pentingnya menabung, investasi, dan pengelolaan keuangan yang baik.

  4. Penguatan Kebijakan Pemerintah: Investasi lebih besar dalam pelatihan kerja dan sektor industri berbasis teknologi.

Masa depan di tangan Generasi Muda, Jika semua masalah ini dibiarkan, Indonesia bukan hanya akan kehilangan potensi besar generasi mudanya, tetapi juga menghadapi risiko ekonomi yang serius di masa depan.  

Namun, dengan langkah yang tepat, Geni Z dapat mengubah tantangan ini menjadi peluang. 

Mereka adalah generasi yang tumbuh di era digital dan memiliki potensi besar untuk membawa Indonesia ke tingkat yang lebih maju.  

Sekarang adalah waktu untuk bertindak, bukan hanya bagi pemerintah, tetapi juga masyarakat dan generasi muda itu sendiri.

Masa depan Indonesia ada di tangan Generasi Z, dan bersama-sama, kita bisa menciptakan perubahan yang berarti.***

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#Paling Miskin di Indonesia #Gen Z