RADAR BOGOR - Tagar #KaburAjaDulu adalah bentuk kekecewaan dan keresahan bersama anak negeri.
Bersama-sama merasakan kesulitan hidup, di negeri kelahiran, yang kini seolah tanpa harapan.
Cari kerja sulit, sekalinya dapat kerjaan, gaji seuprit (kecil).
Tak sebanding dengan biaya hidup yang melangit.
Ditambah lagi pajak yang mencekik.
#KaburAjaDulu viral karena mewakili perasaan banyak orang.
Ingin rasanya pergi mengadu nasib, meskipun belum tentu sukses.
Menyiratkan situasi coba-coba, yang penuh ketidak-pastian.
Di sana ada keputus-asaan sekaligus kepedihan.
PUTUS ASA karena kondisi ekonomi karut marut.
Hukum bisa dibeli.
Aparat tak bisa dipercaya lagi.
Ada pengadilan tapi tak ada keadilan. Sistem politik amburadul.
Terjadi pembusukan di mana-mana karena korupsi dan kolusi yang merajalela.
Birokrasi ruwet, kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah.
Kebijakan selalu blunder, hanya membuat kegaduhan. Rakyat kehilangan harapan.
PEDIH, karena sesungguhnya rakyat sangat cinta negeri kaya raya ini dan tak ingin mengucapkan salam perpisahaan.
Pasalnya, pergi merantau ke negeri orang, bagi sebagian orang bukan pilihan terbaik.
Kadang, itu terpaksa dipilih sebagai satu-satunya jalan keluar dari segala himpitan yang tak kuasa lagi ditanggung di negeri ini.
Meninggalkan tanah kelahiran untuk mencari kehidupan di tanah yang asing, sungguh penuh risiko.
Bukan hanya butuh nyali, juga mempertaruhkan harga diri.
Hati nurani sedih dan takut, akankah berhasil, atau terpaksa pulang kembali dengan tertunduk malu.
Jadi, pesan sesungguhnya dari #KaburAjaDulu bukan tentang “ayo kita ramai-ramai minggat, karena hidup di negara maju lebih nikmat.”
Bukan.
Ini adalah jeritan sunyi anak negeri yang berbunyi:
Kapan negeri ini berbenah diri …
Kapan pemimpin punya visi jadikan bangsa ini maju dan mandiri …
Kapan para koruptor dimiskinkan dan bila perlu dihukum mati …
Kapan pejabat memberi teladan sederhana dan bukan flexing sana sini …
Kapan wakil rakyat rapat untuk rakyat kecil dan bukan demi oligarki …
Kapan urus birokrasi jujur tanpa pelicin sana sini …
Kapan bisa kuliah murah tapi bagus tanpa harus ke luar negeri …
Kapan cendekiawan dan ilmuwan dengan skill tinggi dipakai untuk membangun negeri …
Kapan lowongan tak mensyaratkan muka muda dan badan tinggi …
Kapan tak ada pengemis di perempatan lampu merah lagi …
Kapan tempat wisata bebas preman bebas pungli…
Kapan bank emok lenyap dari gang sempit karena tak laku lagi …
Kapan …
Kapan …
Kapan …
Oleh: Asri Supatmiati
Mantan Jurnalis dan Penulis 25 Buku
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim