RADAR BOGOR - Tak banyak yang tahu bahwa di sudut Alun-Alun Magelang berdiri sebuah menara air berusia lebih dari seabad, Namanya Watertoren.
Watertoren, yang dibangun oleh Belanda pada 1916-1920, bukan hanya sekadar peninggalan kolonial, tetapi juga masih aktif mengalirkan air hingga kini.
Dengan arsitektur khas dan fungsinya yang tetap terjaga, menara Watertoren Magelang ini menjadi simbol sejarah sekaligus ikon Kota Magelang.
Dibangun oleh Belanda sebagai Solusi Krisis Air
Pada tahun 1915, Kota Magelang mengalami krisis air bersih akibat runtuhnya Kali Manggis.
Situasi ini menyebabkan penyebaran penyakit di kalangan warga dan tentara Belanda.
Sebagai solusi, pemerintah kolonial membangun Watertoren pada 1916 hingga rampung pada 1920.
Menara ini dirancang oleh arsitek Belanda, Thomas Karsten, seorang perancang tata kota yang juga terlibat dalam banyak proyek di Indonesia.
Struktur Megah & Ikonik
Dari segi arsitektur, Watertoren memiliki desain khas kolonial dengan tinggi 26 meter dan diameter bak air 22 meter.
Kapasitasnya mencapai 1.750 meter kubik, cukup untuk menyuplai air bagi sebagian besar Kota Magelang.
Bangunan ini ditopang oleh 32 pilar kokoh dan memiliki 16 ruangan bawah, yang dulu digunakan sebagai laboratorium dan kantor administrasi.
Menariknya, di bagian puncak menara terdapat sirene sentral yang dahulu digunakan untuk menandai jam malam atau kondisi darurat.
Dengan bentuknya yang unik dan proporsional dari sudut mana pun, menara ini sering disebut sebagai salah satu watertoren termegah peninggalan Belanda di Indonesia.
Sumber Air dari Bandongan, Mengandalkan Gravitasi
Air bersih yang dialirkan ke menara ini berasal dari Kalinongko dan Kalegen di Bandongan, sekitar 8-10 km dari Magelang.
Uniknya, sistem distribusi airnya tidak menggunakan pompa listrik, melainkan mengandalkan gravitasi.
Setelah air mencapai bak penampungan di atas menara, air kemudian didistribusikan ke rumah-rumah penduduk.
Efisiensi sistem ini membuatnya tetap digunakan hingga sekarang.
Cagar Budaya & Landmark Kota Magelang
Selain berfungsi sebagai penyedia air bersih, Watertoren juga menjadi ikon Kota Magelang.
Pada tahun 2020, menara ini resmi ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Magelang.
Lokasinya yang strategis, dikelilingi oleh bangunan bersejarah seperti kelenteng, gereja, dan Masjid Besar Kauman, menjadikannya simbol keberagaman kota ini.
Masih Berfungsi Hingga Kini
Baca Juga: Buku dan Pameran Kartu Pos Bergambar Buitenzorg Diluncurkan, Ungkap Sejarah Bogor Lewat Filateli
Meski telah berusia lebih dari 100 tahun, Watertoren tetap beroperasi dan dikelola oleh PDAM Kota Magelang.
Saat ini, menara ini masih menyuplai air bersih bagi sekitar 9.000 pelanggan di wilayah Magelang Tengah.
Keberadaan Watertoren Magelang membuktikan bahwa infrastruktur kolonial ini tidak hanya sekadar peninggalan sejarah, tetapi juga bagian penting dari kehidupan masyarakat modern.
Selain sebagai ikon sejarah, Watertoren Magelang ini tetap memainkan peran penting dalam distribusi air bersih di kota.***
Editor : Halimatu Sadiah