RADAR BOGOR - Idul Fitri bukan hanya momentum spiritual dan sosial, tetapi juga menjadi wahana besar bagi redistribusi ekonomi nasional.
Tradisi mudik tahunan menjadi mekanisme alamiah di mana uang berpindah dari pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di kota-kota besar ke daerah, menghidupkan ekonomi lokal yang sebelumnya stagnan.
Dr. Rimun Wibowo, Dosen Ilmu Lingkungan di Fakultas Teknik dan Sains Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, menyebut fenomena ini sebagai "cara Allah mendistribusikan harta".
“Ketika para perantau kembali ke kampung halaman, mereka membawa pendapatan yang diperoleh di kota dan membelanjakannya di desa. Ini bukan hanya soal konsumsi, tapi juga pemerataan ekonomi,” ungkapnya.
Meski Menurun, Perputaran Ekonomi Tetap Besar
Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, jumlah pemudik pada Lebaran 2025 diperkirakan mencapai 146,48 juta orang, atau setara 52% dari total penduduk Indonesia menurun 24% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 193 juta orang (dephub.go.id).
Kondisi ini turut memengaruhi perputaran uang selama Ramadan dan Idul Fitri, yang diperkirakan hanya mencapai Rp137,9 triliun, turun dari Rp157,3 triliun tahun sebelumnya (kompas.com).
Penurunan ini didorong oleh melemahnya daya beli, meningkatnya PHK, dan kedekatan waktu antara libur akhir tahun dan Idul Fitri.
Jalan Tol Raup Porsi Besar, Tapi Jangan Lupakan Jalan Non-Tol
Meskipun secara keseluruhan pemudik menurun, pendapatan dari jalan tol tetap tinggi.
Estimasi konservatif menunjukkan bahwa total pengeluaran kendaraan pribadi untuk tol selama mudik dan balik 2025 bisa mencapai Rp20–25 triliun secara nasional.
Menanggapi hal ini, Dr. Rimun menegaskan pentingnya kompensasi balik dari operator dan pemerintah.
“Pendapatan yang besar dari tol harus dikembalikan ke publik. Misalnya, dengan memperbaiki penerangan di titik rawan bencana, mencicil perbaikan aspal agar lebih awet dan tidak merusak ban pengendara, serta meningkatkan rambu keselamatan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti UMKM di jalan-jalan non-tol yang terdampak karena tidak lagi menjadi jalur utama pemudik.
“Warung makan, bengkel, toko oleh-oleh di jalur non-tol sepi. Ini menggerus omzet mereka. Pemerintah perlu memikirkan bagaimana arus distribusi ekonomi ini juga bisa menyentuh pelaku usaha kecil di jalur lama,” tambahnya.
Emisi dari Kendaraan Pribadi dan Pentingnya Transportasi Publik
Fleksibilitas mobil pribadi menjadi alasan utama masyarakat memilih moda ini. Survei Kemenhub mencatat 23% pemudik Lebaran 2025 menggunakan mobil pribadi atau sekitar 33,69 juta orang (dephub.go.id).
Sayangnya, penggunaan kendaraan pribadi menyumbang emisi karbon dalam jumlah besar.
Perjalanan rata-rata 528 km dengan mobil menghasilkan sekitar 0,09 ton CO₂ per kendaraan, yang jika dikalikan dengan puluhan juta mobil, menjadikan mudik sebagai salah satu lonjakan emisi tahunan tertinggi (kompasiana.com).
Dr. Rimun menekankan pentingnya transportasi publik untuk mengurangi emisi dan dampak ekologis mudik.
“Pemerintah harus memperbaiki kualitas dan kapasitas kereta api serta mendorong transportasi massal lainnya. Tidak hanya untuk kenyamanan, tapi demi lingkungan,” jelasnya.
Upaya seperti program mudik gratis, peningkatan kapasitas kereta api, dan pengembangan moda transportasi berbasis rel adalah langkah awal yang perlu diperluas dan diperkuat ke depan (dephub.go.id).
THR dan Tanggung Jawab Sosial-Ekonomi
Selain mudik, pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) juga menjadi pendorong ekonomi lokal. Namun, pada 2025, uang yang beredar dari THR hanya mencapai Rp114,37 triliun turun 16,5% dari tahun sebelumnya (metrotvnews.com).
“THR tidak boleh hanya jadi dana konsumsi sesaat. Harus ada kesadaran untuk menggunakannya juga untuk kebutuhan jangka panjang, atau mendukung UMKM di kampung halaman,” kata Dr. Rimun.
Penutup: Momen Reflektif dan Strategis
Mudik Idul Fitri bukan sekadar pulang kampung. Ia adalah instrumen besar dalam siklus distribusi ekonomi dan sosial bangsa ini.
Namun untuk mencapai efek yang lebih adil dan berkelanjutan, pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama mendorong transportasi publik, memperhatikan pelaku usaha kecil, dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Idul Fitri, sejatinya adalah cara Allah mengalirkan rezeki, menyeimbangkan yang berlebih dengan yang kekurangan. Kita tinggal memastikan bahwa arus itu mengalir ke semua, bukan hanya lewat tol yang mulus, tapi juga ke lorong-lorong yang mulai sepi,” tutup Dr. Rimun. (***)
Editor : Yosep Awaludin