RADAR BOGOR – Satu bulan lebih telah berlalu sejak banjir bandang menerjang. Namun, bagi Dahlela (53), waktu seolah berhenti di bawah atap terpal.
Warga Dusun Al Ikhsan, Desa Kota Lintah Bawah, Kecamatan Kota Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang, ini menjadi satu dari sekian banyak jiwa yang masih menggantungkan hidup di tenda pengungsian.
Di awal tahun 2026, saat daerah lain bersukacita, warga Aceh Tamiang justru harus bertarung dengan sisa-sisa bencana yang menguras fisik dan batin.
Bicara soal urusan perut, Dahlela mengakui uluran tangan para donatur terus mengalir. Stok mi instan, beras, hingga perlengkapan salat terbilang memadai.
Namun, persoalan bagi para pengungsi kini bukan lagi tentang apa yang bisa dimakan, melainkan tentang ruang untuk sekadar bernapas lega.
“Kalau dibilang mencukupi, ya karena kita masih di tenda. Kalau bantuan terlalu banyak pun tidak ada tempatnya, tenda kita kecil sekali,” tuturnya kepada Radar Bogor, Kamis 1 Januari 2026.
Di dalam tenda yang sempit itu, bantuan alas tidur hanya bisa diterima seadanya. Bukan karena tidak butuh, melainkan karena tanah yang mereka pijak untuk merebahkan diri sudah tak lagi menyisakan ruang.
“Dikasih satu (alas tidur), kita anggap ada. Tapi kalau sudah di rumah sendiri nanti, mungkin itu tidak akan cukup,” tambahnya.
Kini, musuh utama warga bukan lagi air yang meluap, melainkan jejak pilu yang ditinggalkannya.
Lumpur tebal yang mulai mengering telah berubah menjadi debu yang menyesakkan. Setiap embusan angin membawa partikel tanah sisa banjir ke dalam paru-paru warga.
Selain debu, pemandangan memilukan terlihat dari gelondongan kayu yang menumpuk serupa gunung di berbagai sudut.
“Flu dan batuk sering sekali menyerang. Debunya luar biasa. Kalau keluar tidak pakai masker, itu sangat terasa,” keluhnya.
Kondisi kesehatan yang menurun diperparah dengan beban kerja fisik yang berat. Warga kini tidak lagi hanya duduk menanti bantuan.
Mereka mulai bergerak menjemput kembali rumah mereka. Fokus utama pengungsi saat ini adalah membersihkan lingkungan.
Mereka membutuhkan lebih dari sekadar logistik. Warga memerlukan bantuan tenaga untuk mengeruk lumpur, menyingkirkan puing-puing rumah yang masih bisa diselamatkan, hingga menangani gelondongan kayu pepohonan yang menumpuk tanpa kejelasan harus dibuang ke mana.
Kehidupan komunal di pengungsian pun tidak mudah. Fasilitas dapur umum masih sangat minim, sehingga warga harus memutar otak untuk mengolah bantuan dengan perlengkapan seadanya.
Tidak ada rutinitas dapur yang pasti karena setiap orang masih sibuk menyelamatkan sisa-sisa harta benda mereka sendiri.
“Kalau ada donatur yang mau membiayai tenaga masak, mungkin baru bisa berjalan rutin. Kalau sekarang swadaya, kita tidak bisa memaksa, karena warga juga punya kesibukan membersihkan tempatnya masing-masing,” jelasnya.
Keprihatinan semakin mendalam saat melihat masa depan anak-anak. Hingga awal Januari ini, belum ada aktivitas sekolah.
Bangunan tempat menimba ilmu masih berselimut lumpur tebal. Ruang kelas yang biasanya riuh kini sunyi, gelap, dan kotor.
Bagi Dahlela dan warga Dusun Al Ikhsan, bantuan terbaik saat ini adalah uluran tangan untuk menyapu debu dan mengeruk lumpur.
Mereka ingin segera meletakkan kepala di bawah atap rumah sendiri, bukan lagi di bawah plastik terpal yang sempit dan pengap.(cr1)
Editor : Alpin.