RADAR BOGOR – Hari Senin, 5 Januari 2026 suara bel sekolah akan kembali berbunyi di Kabupaten Aceh Tamiang, terkhusus Desa Perdamaian, Kecamatan Kualasimpang.
Namun, langkah anak-anak menuju ruang kelas masih terhambat lumpur sisa banjir bandang yang belum sepenuhnya mengering. Hingga kini, sepatu boot yang dibutuhkan untuk melindungi kaki mereka belum tersedia.
Halaman sekolah dan akses jalan menuju kelas masih licin dan berlumpur. Kondisi ini membuat pihak sekolah mengimbau agar siswa mengenakan sepatu boot saat berangkat belajar. Sayangnya, imbauan tersebut belum dapat dipenuhi oleh sebagian besar orang tua karena keterbatasan ekonomi dan minimnya bantuan sepatu boot pascabencana.
Kepala Dusun Kananga, Syahrial, mengatakan sekolah sebenarnya sudah dapat digunakan setelah dibersihkan secara swadaya oleh warga, guru, dan perangkat desa. Lumpur yang menutupi lantai dan perabot sekolah dibersihkan secara manual agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan sesuai jadwal.
“Sekolahannya sudah bisa dipakai, sudah dibersihkan swadaya, tapi untuk sepatu boot anak-anak sampai sekarang belum ada,” ujar Syahrial kepada Radar Bogor, Minggu, 4 Januari 2026.
Menurutnya, sepatu boot menjadi kebutuhan mendesak karena lingkungan sekitar sekolah masih dipenuhi lumpur. Tanpa perlindungan yang memadai, anak-anak berisiko terpeleset dan mengalami gangguan kesehatan saat beraktivitas di sekolah.
Di Desa Perdamaian, jumlah anak yang akan kembali bersekolah cukup besar. Tercatat sekitar 300 siswa tingkat sekolah dasar (SD), sekitar 200 siswa tingkat SMP, serta kurang lebih 150 siswa tingkat SMA dan SMK. Seluruhnya akan memulai kembali aktivitas belajar di tengah keterbatasan sarana pendukung.
“Kami sangat berharap ada bantuan sepatu boot untuk anak-anak, supaya mereka bisa sekolah dengan aman,” harapannya.
Bagi warga Desa Perdamaian, kembalinya anak-anak ke sekolah menjadi simbol awal pemulihan kehidupan pascabencana. Meski harus melangkah di atas lumpur, semangat untuk belajar tetap terjaga. Namun, tanpa sepatu boot, langkah kecil mereka menuju ruang kelas masih membutuhkan uluran tangan berbagai pihak. (Cr1)
Editor : Eka Rahmawati