Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Sering Terlupakan, Buya Yahya Ungkap Satu Rahasia agar Ramadhan Tak Sekadar Jadi Rutinitas dan Konten Sosmed

Khairunnisa RB • Kamis, 5 Februari 2026 | 05:02 WIB
Ilustrasi berdoa di bulan Ramadhan.
Ilustrasi berdoa di bulan Ramadhan.

RADAR BOGOR - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, banyak umat Islam mulai bertanya-tanya tentang bagaimana cara terbaik mempersiapkan diri.

Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum besar yang membutuhkan persiapan matang, baik secara lahir maupun batin.

Apa sebenarnya yang harus dipersiapkan oleh setiap muslim untuk menyambut bulan penuh berkah tersebut?

Baca Juga: Menkeu Purbaya Optimistis Rupiah Bisa Menguat ke Rp15.000 per Dolar, Ini Faktor Pendorongnya

Menanggapi pertanyaan itu, Buya Yahya menekankan bahwa persiapan utama menghadapi Ramadhan bukanlah semata-mata memperbanyak aktivitas fisik atau amal lahiriah, seperti salat, puasa, dan membaca Al-Qur’an.

Menurutnya, langkah pertama yang paling penting adalah mempersiapkan amal batin.

“Yang harus dikoreksi pertama kali adalah hati kita,” ujar Buya Yahya sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Buya Yahya, Kamis, 5 Februari 2026.

Baca Juga: Waymo Raup Pendanaan Rp268 Triliun, Google Tancap Gas Ekspansi Robotaksi Global

Ia mengajak umat Islam untuk “mengorek” hati masing-masing, melihat sejauh mana rasa rindu terhadap Ramadhan benar-benar tumbuh.

Apakah Ramadhan hanya dianggap sebagai bulan biasa, atau sebagai bulan agung yang penuh kemuliaan dan peluang besar untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Selain hati, pikiran juga perlu diolah. Umat Islam diminta untuk merenungkan makna Ramadhan, keutamaannya, serta peluang besar yang terkandung di dalamnya.

Baca Juga: Update Jadwal Pencairan Bansos PKH BPNT Tahap 1 2026, Status Tidak di Cek Bansos Bisa Punya 2 Arti, Ini Penjelasannya

Dengan pemahaman yang mendalam, seseorang akan lebih siap menjalani ibadah secara maksimal.

Menumbuhkan Kerinduan yang Tulus

Lebih lanjut, pendakwah asal Blitar tersebut menegaskan bahwa fondasi utama menyambut Ramadhan adalah menumbuhkan kerinduan yang tulus dalam hati.

Kerinduan ini bukan sekadar ucapan “Marhaban Ya Ramadan” atau “Ramadhan Mubarak”, tetapi diwujudkan dalam kesungguhan untuk memenuhi hak-hak bulan suci.

Baca Juga: Murah Meriah, Bogor ke Bandara Soekarno Hatta Mulai Minggu Depan Hanya Rp7.000 dengan Transjabodetabek, Begini Caranya

“Memuliakan Ramadhan bukan hanya lewat kata-kata, tapi dengan memenuhi hak-haknya,” jelasnya.

Hak-hak tersebut meliputi menjalankan puasa dengan sungguh-sungguh, melaksanakan salat tarawih, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, memperbaiki akhlak, serta meningkatkan kualitas ibadah.

Jika kerinduan sudah tertanam kuat, maka ibadah akan terasa lebih ringan dan penuh makna.

Baca Juga: Kanker Masih Mengancam, Kadinkes Sebut 586 Kasus Tercatat di Kabupaten Bogor Selama 2025, Begini Cara Mencegahnya

Analogi Tamu Istimewa

Dalam penjelasannya, pengasuk LPD Al-Bahjah itu juga memberikan perumpamaan yang sederhana namun sangat menyentuh.

Ia mengibaratkan Ramadhan seperti tamu istimewa yang datang ke rumah.

Jika seseorang menyambut tamu hanya dengan ucapan “selamat datang”, tanpa menyiapkan tempat duduk, minuman, atau berbincang dengan ramah, maka itu bukanlah bentuk penghormatan yang sebenarnya.

Begitu pula dengan Ramadhan.

Jika umat Islam hanya menyambutnya dengan ucapan dan unggahan di media sosial, tetapi tidak mempersiapkan ibadah, maka makna penghormatan itu menjadi kosong.

Baca Juga: Murah Meriah, Bogor ke Bandara Soekarno Hatta Mulai Minggu Depan Hanya Rp7.000 dengan Transjabodetabek, Begini Caranya

“Mana puasanya, mana tarawihnya, mana Al-Qur’annya?” tegasnya.

Tanpa persiapan nyata, Ramadhan hanya akan berlalu sebagai rutinitas, bukan sebagai momen perubahan.

Buya Yahya juga menyoroti fenomena menjadikan Ramadhan sebagai ajang eksistensi di media sosial.

Menurutnya, banyak orang lebih sibuk membuat konten, video, dan tulisan indah tentang Ramadhan, tetapi lupa memaksimalkan ibadahnya.

Baca Juga: DPP Perindo Tunjuk Idrus Iskandar sebagai Plt Ketua DPD Kabupaten Bogor, Fokus Konsolidasi Kader

“Jangan sampai Ramadhan hanya jadi bahan konten,” pesannya.

Ia mengingatkan bahwa bulan suci bukan untuk mencari popularitas, meningkatkan jumlah pengikut, atau kepentingan duniawi semata.

Ramadan seharusnya menjadi momen refleksi, perbaikan diri, dan perjalanan menuju kehidupan akhirat yang lebih baik.

Baca Juga: Pengedar Obat Terlarang di Depok Terus Diburu Polisi, Kali Ini Giliran di Cipayung

Menyusun Rencana Ibadah Sejak Dini

Setelah menanamkan kerinduan dalam hati, langkah berikutnya adalah membuat perencanaan ibadah yang matang.

Ulama tersebut menganjurkan agar umat Islam mulai menyusun agenda Ramadhan sejak sebelum bulan suci tiba.

Beberapa hal yang bisa dipersiapkan antara lain:

• Menentukan target salat tarawih dan menjaga konsistensinya.

• Menyiapkan jadwal tilawah Al-Qur’an agar bisa khatam.

• Mengatur waktu untuk zikir, doa, dan sedekah.

• Merancang kegiatan keagamaan yang bermanfaat.

Baca Juga: Bikin Baper! Lee Jae Won Gabung Drama Korea Kerajaan Modern Bareng IU dan Byeon Woo Seok, Cek Jadwal Tayangnya

Dengan perencanaan yang jelas, ibadah selama Ramadhan akan lebih terarah dan maksimal.

“Buat jadwal yang luar biasa, lalu amalkan,” pesannya.

Menuju Kemenangan Hakiki

Menurutnya, orang yang mempersiapkan Ramadhan dengan baik, baik secara batin maupun lahir, berpeluang besar meraih kemenangan sejati.

Kemenangan itu bukan sekadar perayaan Idulfitri, tetapi kembalinya seorang hamba kepada Allah SWT dalam keadaan diampuni dan diberkahi.

Baca Juga: Menteri LH Sidak PT Vopak Cilegon Usai Dugaan Pencemaran Udara, 56 Warga Alami Gangguan Kesehatan

Inilah makna sejati dari “Minal Aidin wal Faizin”, yakni kembali dalam keadaan bersih dari dosa dan mendapatkan pahala berlipat ganda.

Ia menegaskan bahwa Ramadhan bukanlah sarana untuk mengejar dunia, melainkan jembatan menuju kebahagiaan akhirat.

“Jadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan,” tutupnya.

Pesan untuk Umat Islam

Pesan ini menjadi pengingat penting bagi seluruh umat Islam agar tidak menyia-nyiakan bulan suci yang hanya datang setahun sekali.

Baca Juga: Pejabat Pajak dan Bea Cukai Kena OTT KPK, Menteri Keuangan Purbaya Sebut Jadi Shock Therapy bagi Pegawai

Persiapan menyambut Ramadhan bukan hanya soal fisik dan jadwal, tetapi juga tentang membersihkan hati, meluruskan niat, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Dengan hati yang rindu, pikiran yang sadar, dan amal yang terencana, Ramadhan akan menjadi bulan penuh makna, bukan sekadar rutinitas tahunan.***

Editor : Asep Suhendar
#muslim #Buya Yahya #ramadhan