RADAR BOGOR — Perdebatan publik terkait status halal haram pendanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat tanggapan dari tokoh masyarakat sekaligus pengusaha Jusuf Hamka atau Babah Alun.
Babah Alun mengimbau masyarakat untuk tidak terburu-buru menilai dan menyerahkan persoalan tersebut kepada pihak yang berkompeten, yakni ulama.
Menurut Babah Alun, perdebatan yang berkembang seharusnya disikapi secara bijak agar tidak menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat.
Ia menilai pelabelan sepihak terkait hukum agama dapat berdampak negatif bila tidak didasarkan pada kajian yang tepat.
“Kalau orang-orang bisa menghukum seseorang dengan haram, kafir, nanti akhirnya menjadi apa ini negeri? Jadi, kalau MBG dibilang haram karena menggunakan anggaran pendidikan apa segala macem, nggak begitu saya pikir,” ujar Babah Alun ditemui di Bogor, Minggu 15 Februari 2026.
Babah Alun menjelaskan bahwa penentuan halal dan haram tidak dapat diputuskan sembarangan.
Baca Juga: Ditemukan Kabel Tegangan Tinggi, Perbaikan Lubang di Jalan Sholeh Iskandar Kota Bogor Ditunda
Ia menyinggung pemahamannya terhadap ajaran Islam yang ia pelajari dari Buya Hamka, termasuk prinsip darurat yang memungkinkan perubahan hukum dalam kondisi tertentu demi menjaga keselamatan jiwa.
Ia menegaskan, keputusan terkait hukum agama sebaiknya diserahkan kepada ulama yang memiliki otoritas dalam mengeluarkan fatwa.
“Kalau itu yang menentukan adalah fatwa ulama. Kalau orang-orang, saya pikir nanti semua orang bisa. Kalau saya misalnya pakai kaus tank top, katanya, 'oh ini tidak sesuai akhidat. Haram, haram. Auratnya terbuka'. Padahal, saya laki-laki,” katanya.
Baca Juga: Situ Plaza Cibinong Bogor Bikin Kagum Babah Alun, Disebut Mirip Lake Como di Italia
Lebih lanjut, Babah Alun mengajak masyarakat untuk menghindari prasangka negatif terhadap program MBG yang bertujuan mendukung pemenuhan gizi generasi muda.
Ia menilai pembangunan nasional membutuhkan dukungan bersama meski prosesnya belum sepenuhnya sempurna.
“Jadi kalau ulama dan umara sudah sepakat bahwa ini baik untuk generasi kita, kenapa kita harus berprasangka? Janganlah kita berapriori. Negeri ini sedang dalam membangun. Membangun ini butuh segala sesuatu, tentunya bukan segala sesuatu yang sempurna,” kata dia. (***)
Editor : Yosep Awaludin