RADAR BOGOR - Beda dengan umumnya, media sosial kembali menjadi jembatan yang mempertemukan kisah perjuangan masyarakat kecil dengan perhatian publik luas.
Kali ini, sorotan tertuju pada Agista Saputri, seorang gadis kecil berbakat melukis yang sebelumnya hidup dalam keterbatasan ekonomi hingga sempat kehilangan akses pendidikan. Kisahnya menyentuh hati banyak orang setelah video aktivitas melukisnya beredar dan viral di berbagai platform digital.
Dilansir dari salah satu Instagram Reel akun @kemensosri, Agista dikenal sebagai anak yang tetap berkarya meski berasal dari keluarga kurang mampu. Dalam kesehariannya, ia membantu orang tua sambil melukis menggunakan peralatan sederhana.
Lukisan-lukisan yang dibuat bukan sekadar hobi, melainkan juga menjadi cara untuk membantu ekonomi keluarga. Kondisi tersebut membuat banyak warganet merasa haru karena bakat seni yang dimilikinya berkembang di tengah situasi hidup yang tidak mudah.
Perhatian publik yang semakin besar akhirnya mendorong pemerintah daerah untuk turun langsung melihat kondisi Agista.
Kunjungan dilakukan guna memastikan keadaan keluarga sekaligus mencari solusi agar hak pendidikan anak tersebut dapat kembali terpenuhi. Pemerintah menilai bahwa bakat dan masa depan Agista tidak boleh terhenti hanya karena keterbatasan ekonomi.
Dalam proses pendampingan, pemerintah membantu pengurusan berbagai administrasi penting yang sebelumnya menjadi hambatan bagi keluarga.
Selain itu, dukungan juga diberikan agar Agista dan anggota keluarganya mendapatkan akses layanan sosial yang lebih layak. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perlindungan anak sekaligus pengentasan kerentanan sosial melalui pendekatan pendidikan.
Titik balik kehidupan Agista terjadi ketika ia resmi diterima di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 37 Serang, Banten, sejak 3 Maret 2026.
Sekolah tersebut merupakan program pendidikan yang dirancang khusus bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem maupun mereka yang sempat putus sekolah. Kehadiran Agista di sekolah ini menjadi awal baru untuk melanjutkan pendidikan secara lebih stabil.
Program Sekolah Rakyat Terintegrasi tidak hanya menyediakan pendidikan formal, tetapi juga pembinaan karakter, pendampingan sosial, serta lingkungan belajar yang lebih suportif.
Tujuan utamanya adalah memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang tanpa terhambat kondisi ekonomi keluarga. Melalui program ini, pemerintah berharap anak-anak rentan dapat kembali memiliki masa depan yang jelas.
Baca Juga: RSUD R Moh Noh Nur Leuwiliang Edukasi Pasien Soal Pencegahan Campak dan Pentingnya Hand Hygiene
Bagi Agista sendiri, kesempatan kembali bersekolah menjadi momen yang sangat berarti. Ia kini dapat belajar secara rutin sekaligus tetap mengembangkan bakat melukis yang telah dikenal luas.
Dukungan dari guru dan lingkungan sekolah diharapkan mampu membantu potensi seninya tumbuh lebih maksimal dibandingkan sebelumnya.
Kisah Agista juga menunjukkan bagaimana kekuatan media sosial dapat membawa perubahan nyata ketika digunakan untuk menyuarakan kondisi sosial masyarakat.
Viralitas yang awalnya hanya berupa perhatian publik akhirnya bertransformasi menjadi tindakan konkret melalui kebijakan dan bantuan pemerintah.
Di sisi lain, cerita ini mengingatkan bahwa masih banyak anak berbakat di Indonesia yang menghadapi keterbatasan akses pendidikan.
Tanpa perhatian bersama, potensi mereka berisiko terabaikan. Karena itu, kolaborasi antara masyarakat, media, dan pemerintah menjadi faktor penting dalam membuka kesempatan yang lebih adil bagi generasi muda.
Baca Juga: Review Jujur Cumi Hitam Milik Subscriber, Food Vlogger Mamank Kuliner: Bumbunya Kelihatan Medok
Kini, perjalanan Agista memasuki babak baru. Dari seorang anak yang melukis di tengah keterbatasan, ia berubah menjadi simbol harapan bahwa pendidikan tetap dapat diraih ketika kesempatan hadir.
Kisahnya bukan hanya tentang viralitas, melainkan tentang bagaimana kepedulian sosial mampu mengembalikan mimpi seorang anak untuk belajar, berkarya, dan menatap masa depan dengan lebih optimistis.***
Editor : Asep Suhendar