RADAR BOGOR - Lebaran di Indonesia bukan sekadar momen saling bermaaf-maafan. Di balik ucapan "mohon maaf lahir dan batin", tersimpan ragam tradisi unik yang membuat perayaan Idul Fitri terasa istimewa di setiap penjuru negeri.
Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah punya cara sendiri untuk menyambut hari kemenangan ini.
Di Yogyakarta, misalnya, ada tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun: Grebeg Syawal.
Dalam tradisi ini, gunungan yang terbuat dari hasil bumi dibawa keluar dari Keraton dan diperebutkan oleh warga.
Bukan sekadar rebutan biasa, gunungan itu dianggap membawa berkah bagi siapa saja yang berhasil mendapatkannya.
Suasananya meriah, penuh tawa, dan sarat makna syukur kepada Tuhan atas segala rezeki yang telah diberikan.
Bergeser ke Sumatera Barat, masyarakat Minangkabau merayakan Lebaran dengan tradisi makan bajamba.
Semua orang duduk bersama dalam satu tempat dan menyantap hidangan dari satu wadah besar secara bersama-sama.
Tradisi ini bukan hanya soal makan, tapi juga simbol kesetaraan dan kebersamaan. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah, semua duduk sejajar dalam satu meja kehidupan.
Sementara itu, di Lombok ada tradisi yang mungkin terdengar unik: Perang Topat.
Warga saling melempar ketupat satu sama lain, bukan dalam suasana permusuhan, melainkan penuh canda dan kegembiraan.
Ketupat yang biasanya jadi hidangan khas Lebaran, di sini berubah fungsi menjadi "senjata" kebersamaan.
Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus perekat hubungan antar warga.
Meski cara merayakannya berbeda-beda, inti dari semua tradisi itu tetap sama: saling memaafkan, saling berbagi, dan mempererat tali persaudaraan.
Lebaran di Indonesia bukan hanya sebuah ritual keagamaan, melainkan sebuah cerita besar yang menyatukan jutaan manusia dari berbagai latar belakang, suku, dan budaya.
Karena pada akhirnya, di mana pun kita berada dan bagaimana pun cara kita merayakannya, Lebaran selalu punya satu bahasa yang sama: kebersamaan.***
Editor : Eli Kustiyawati