Kondisi Permukiman di Kawasan Bantaran Rel Kereta Api Senen Dinilai Kurang Layak, Presiden Prabowo Subianto Tegas Sampaikan Hal Ini
Gabriel Anderson Nainggolan• Jumat, 27 Maret 2026 | 07:07 WIB
Presiden Prabowo saat berkunjung ke kawasan bantaran rel kereta api di Senen, Jakarta Pusat.
RADAR BOGOR - Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke kawasan bantaran rel kereta api di wilayah Senen, Jakarta Pusat, menjadi sorotan publik setelah videonya beredar luas di media sosial.
Dalam kunjungan tersebut, Prabowo Subianto terlihat meninjau langsung kondisi permukiman warga yang tinggal sangat dekat dengan jalur rel aktif.
Dilansir dari postingan reel Instagram resmi Prabowo Subianto, kegiatan ini disebut sebagai bagian dari survei lapangan untuk melihat secara nyata kondisi hunian masyarakat di kawasan padat dan rawan tersebut.
Dengan didampingi sejumlah pihak, Prabowo menyusuri area permukiman yang tampak sempit, padat, dan minim fasilitas dasar yang memadai.
Dalam beberapa rekaman video yang beredar, terlihat kondisi rumah warga yang berdempetan, dengan jarak yang sangat dekat dari rel kereta api.
Situasi ini tidak hanya menimbulkan risiko keselamatan, tetapi juga memperlihatkan tantangan besar dalam penyediaan hunian yang layak di kawasan perkotaan.
Prabowo menyampaikan bahwa kunjungan tersebut bukan sekadar simbolis, melainkan sebagai langkah awal untuk memahami kebutuhan masyarakat secara langsung. Ia menegaskan pentingnya kehadiran pemerintah dalam menjawab persoalan hunian yang masih menjadi masalah bagi sebagian warga.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengutarakan komitmennya untuk memperbaiki kondisi tersebut melalui program pembangunan hunian yang lebih layak. Ia menilai bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan tempat tinggal yang aman dan manusiawi.
“Insyaallah kita akan segera membangun hunian yang layak untuk masyarakat di daerah tersebut dengan cepat dan sudah menjadi tekad saya untuk menyediakan hunian layak untuk masyarakat Indonesia,” ujar Prabowo dalam pernyataannya.
Pernyataan tersebut disambut dengan harapan oleh sebagian masyarakat, terutama mereka yang selama ini tinggal di kawasan yang kurang layak. Namun demikian, isu relokasi dan penataan kawasan seperti ini juga kerap menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga.
Beberapa warga biasanya merasa cemas akan kemungkinan dipindahkan dari tempat tinggal mereka saat ini. Selain faktor adaptasi, aspek pekerjaan dan akses terhadap sumber penghidupan juga menjadi pertimbangan penting dalam setiap rencana relokasi.
Penataan kawasan bantaran rel sendiri bukanlah hal baru di Jakarta. Pemerintah sebelumnya telah melakukan berbagai upaya untuk menertibkan dan merelokasi warga dari area yang dinilai berbahaya, namun prosesnya sering kali memerlukan pendekatan yang hati-hati dan menyeluruh.
Dengan adanya kunjungan langsung ini, diharapkan kebijakan yang diambil nantinya dapat lebih tepat sasaran dan mempertimbangkan kondisi riil masyarakat di lapangan. Selain pembangunan fisik, pendekatan sosial juga menjadi kunci agar program hunian layak dapat berjalan dengan baik.
Ke depan, publik akan menantikan realisasi dari komitmen tersebut, sekaligus melihat bagaimana pemerintah mengelola proses penataan kawasan agar tetap berpihak pada kesejahteraan masyarakat tanpa mengabaikan aspek kemanusiaan.***