RADAR BOGOR - Satu keluarga di Tol Transjawa ruas Pejagan-Pemalang meninggal dunia diduga karena keracunan gas freon pada AC mobil yang terus-menerus hidup saat kendaraan berhenti.
Agar kejadian serupa tidak terulang lagi, masyarakat juga harus diberi edukasi tentang gas freon pada AC.
Menurut Agus Purwadi, pengamat otomotif dari ITB, dugaan keracunan gas freon pada AC mobil ini mungkin benar adanya.
Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kebocoran gas freon yang keluar dari sistem AC, kurangnya ventilasi udara di dalam mobil, dan AC yang bekerja terlalu lama.
Akibatnya, disarankan untuk mematikan AC mobil saat kendaraan berhenti lama, terutama di tempat yang tertutup atau tidak memiliki ventilasi yang baik.
Pastikan mode sirkulasi ventilasi AC tidak tertutup, sebaliknya, pilih mode dengan sirkulasi udara luar atau jendela sedikit terbuka jika Anda ingin menyalakan AC dalam kondisi berhenti cukup lama.
"Namun, perlu juga dicek agar tidak ada kebocoran gas buang knalpot yang bisa mengandung gas karbon monoksida yang juga sangat berbahaya," tuturnya.
"Selain itu, pastikan juga untuk melakukan perawatan rutin berkala pada sistem AC mobil untuk mencegah kebocoran gas freon," ujarnya.
Selain itu, Agus mengatakan bahwa gas freon AC mobil berbahaya jika terhirup dalam jumlah besar dan di ruang tertutup.
Gas freon (R-134a atau R-1234yf) adalah zat pendingin yang digunakan dalam sistem AC mobil.
Namun, dia menyatakan bahwa efek sampingan seperti iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, kesulitan bernapas, terasa berat di dada, sakit kepala, dan pusing dapat terjadi jika terhirup dalam jumlah besar.
Dalam kasus yang lebih parah, gas freon bahkan dapat menyebabkan gangguan jantung, kerusakan sistem saraf pusat, dan bahkan kematian. (***)
Editor : Yosep Awaludin