RADAR BOGOR - Belakangan ini, publik kembali digiring pada satu narasi yang menimbulkan kegelisahan, seolah-olah kampus Universitas Indonesia (UI) tengah dikuasai kekuatan tertentu.
Kepentingan pragmatis yang mengatur kebijakan kampus dan pemilihan dekan, dan hegemoni yang tidak terlihat
Bahasa yang terdengar idealis digunakan untuk mempromosikan cerita ini, tetapi datanya buruk dan tidak akurat.
Dia mulai sebagai guru besar teknik, dekan Fakultas Teknik UI, dan akhirnya dipilih sebagai rektor UI dari tahun 2024 hingga 2029 melalui proses pemilihan resmi yang dilakukan oleh Majelis Wali Amanat.
Biografinya tidak dibuat oleh politisi; itu dibuat oleh ilmuwan yang hidup dalam kultur akademik.
Membutuhkan bukti yang jauh lebih serius daripada sekadar kecurigaan umum untuk menyebut individu seperti ini sebagai "produk kepentingan pragmatis".
Di tingkat tata kelola, tudingan bahwa pemilihan dekan UI mudah diganggu juga tidak sesuai dengan kenyataan prosedural.
Proses seleksi terdiri dari Senat Akademik, beberapa screening, penilaian rekam jejak, dan sistem pengendalian dan keseimbangan internal, sehingga ruang untuk intervensi eksternal sangat terbatas.
Beberapa laporan media bahkan menyatakan bahwa narasi hegemoni dalam pemilihan dekan tidak logis berdasarkan sistem dan kinerja.
Jadi, sebelum berbicara tentang "kekuatan gelap" yang menguasai kampus, kita harus jujur mengakui bahwa standar formal UI tidak seburuk yang dibayangkan oleh para pengkritik.
Namun, fakta yang paling sering diabaikan oleh mereka yang menyebarkan cerita tentang ketakutan ini adalah bahwa UI sedang mengalami kemajuan internasional di bawah kepemimpinan Prof. Heri.
Kemajuan ini tidak mungkin terjadi jika rektornya adalah orang yang mengutamakan kepentingan pragmatis jangka pendek.
Diplomasi Global Rektor UI
Kita akan melihat peta pencapaian UI di seluruh dunia dalam satu tahun terakhir. Universitas Indonesia secara aktif membangun aliansi dengan universitas-universitas terkemuka di dunia.
Penandatanganan MoU strategis dengan Tsinghua University, yang merupakan universitas peringkat 17 di dunia menurut QS World University Rankings, merupakan tonggak penting.
Ini menempatkan UI sebagai mitra setara dalam riset teknologi maju seperti mRNA dan agenda net-zero.
Bahwa Prof. Heri bisa menembus gelanggang ini justru menjadi indikator penting bahwa integritas pribadi dan independensi intelektualnya diakui di luar negeri.
Independensi kampus seharusnya diukur dari sejauh mana universitas mampu mengambil keputusan strategis berdasarkan pertimbangan akademik dan rasionalitas kebijakan, bukan berdasarkan tekanan kelompok manapun.
Dalam hal ini, kinerja UI menunjukkan arah yang konsisten: memperluas jejaring global, memperkuat riset berdampak, dan mendorong transformasi tata kelola. Ini persis kebalikan dari gambaran kampus yang dikendalikan oleh kepentingan pragmatis jangka pendek.