RADAR BOGOR - Seiring perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, acap kali membiaskan informasi yang beredar di sejumlah platform media.
Sehingga mahasiswa yang berkarakter dibutuhkan untuk menyaring serta menyajikan informasi sebelum dibagikan khalayak publik.
Isu ini dibahas dalam Kuliah Perdana STMIK Tazkia Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di Kampus STMIK Tazkia, Dramaga, Selasa, 10 Februari 2026.
Bertema "Character Wins The Future: Membangun Karakter dan Etika Mulia di Era Dominasi Artificial Intelligence", kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber di antaranya Ketua DPRD Kota Bogor, Adityawarman Adil, CEO Radar Bogor Nihrawati AS, serta Ketua Senat STMIK Tazkia sekaligus Pakar Cyber Security Nasional Ricky Setiadi.
Dalam pemaoarannya, Ketua DPRD Kota Bogor Adityawarman Adil menyampaikan di era digital saat ini, sangat mudah untuk mendapatkan berbagai informasi. Namun begitu, tidak semua informasi yang dihasilkan, termasuk konten-konten AI benar secara faktual.
"Oleh karena itu, mahasiswa sejatinya harus terus menimba ilmu, termasuk ilmu digital teknologi sehingga dapat memanfaatkan ilmu itu untuk kebaikan," ujar Adityawarman Adil.
Menurutnya, mahasiswa merupakan agen perubahan, bagaimana kemajuan banyak negara di belahan dunia termasuk Indonesia, ditopang oleh peran pemuda dan mahasiswa.
Adityawarman mengingatkan kepada para mahasiswa untuk dapat menyelesaikan pendidikannya dengan baik, selain dapat membentuk karakter sehingga memiliki peranan penting di era kemajuan teknologi saat ini.
Pada kesempatan yang sama CEO Radar Bogor, Nihrawati AS memaparkan lebih jauh tentang teknologi AI yang kian menggerus nilai manusia di kehidupan sehari-hari.
Dewasa ini, kata wanita yang akrab disapa Ira itu, manusia sudah sangat bergantung dengan internet, informasi-informasi yang beredar tanpa proses verifikasi pun sering kali ditelan mentah-mentah oleh masyarakat.
"Di era AI ini, kita kesulitan untuk membedakan apakah suatu informasi itu nyata atau rekayasa, ketika kami masih kesulitan, bagaimana dengan masyarakat luas," kata Nihrawati.
Kondisi media arus utama saat ini, lanjut Nihrawati, mengalami tekanan semakin besar dengan masifnya fenomena algoritma dan viralitas.
Namun demikian, media mainstream harus tetap berpegang teguh dalam menyajikan informasi yang faktual, dan bertanggungjawab dalam memverifikasi informasi yang belum jelas kebenarannya.
Nihrawati memberikan garis besar bahwa manusia harus memiliki karakter agar tetap memiliki nilai di tengah majunya teknologi AI.
"Ini bukan kebodohan, tapi karena ketiadaan karakter, kita dengan mudahnya ikut mengunggah, membagian informasi yang kita lihat, karena itu rawatlah kecerdasan dan bangunlah karakter," tandasnya.(cok)
Editor : Eka Rahmawati