RADAR BOGOR - Dalam dunia hiburan yang penuh dengan standar kecantikan, aktris Hollywood Emma Stone baru-baru ini meraih penghargaan bergengsi sebagai wanita tercantik di dunia.
Dikutip dari Instagram @nyata_media, penobatan Emma Stone sebagai wanita tercantik di dunia ini didasarkan pada hasil studi ilmiah yang mengukur proporsi wajah.
Dr. Julian De Silva, ahli bedah plastik terkenal, melakukan penelitian ini. Ia menggunakan rasio emas Yunani sebagai tolok ukur ideal keindahan.
Seorang spesialis dari London, Dr. Julian De Silva, mempelajari wajah berbagai selebriti wanita.
Ia menggunakan teknologi canggih untuk mengukur aspek wajah seperti proporsi bibir, bentuk hidung, dan jarak antara mata.
Hasilnya menunjukkan bahwa wajah Emma Stone memiliki tingkat kesesuaian rasio emas tertinggi, mencapai 94,72 persen, yang hampir sempurna.
Konsep matematika rasio emas, atau phi (1:1.618), telah dikenal sejak zaman kuno oleh filsuf Yunani seperti Euclid. Dalam seni, arsitektur, dan alam, rasio ini sering ditemukan.
Seperti bentuk spiral pada cangkang kerang atau struktur piramida. Karena proporsinya yang seimbang secara alami, rasio ini dianggap mencerminkan harmoni dan estetika yang paling menarik bagi mata manusia dalam hal kecantikan.
Aktris Inggris Jodie Comer kini tergantikan posisinya oleh Emma Stone. Jodie Comer, yang terkenal karena film "Killing Eve", memiliki skor kesesuaian sekitar 94,52%.
Dr. De Silva menekankan bahwa, meskipun ada perbedaan kecil, konsistensi fitur wajah Emma Stone membuatnya pemenang.
Menurut penjelasan Dr. De Silva, berbagai aspek wajah Emma Stone menunjukkan proporsi yang hampir sempurna, seperti panjang dagu, tinggi alis, dan lebar dahi.
Ia menjelaskan bahwa rasio 1:1.618 bukanlah rumus ajaib, sebaliknya, itu adalah representasi dari standar umum nilai indah.
Penobatan ini mendapat tanggapan yang beragam dari masyarakat dan media. Banyak orang memuji Emma Stone sebagai ikon kecantikan kontemporer, terutama setelah kesuksesannya dalam film seperti "La La Land" dan "Poor Things".
Namun, beberapa kritikus berpendapat bahwa kecantikan tidak dapat diukur secara numerik karena elemen seperti kepribadian dan ekspresi juga berpengaruh. Meskipun demikian, studi ini masih menjadi diskusi hangat di internet.
Emma Stone mungkin menjadi inspirasi untuk kampanye iklan banyak merek kosmetik dan fashion.
Dr. De Silva sendiri berharap bahwa studi ini akan mendorong orang untuk menghargai kualitas unik setiap orang.
Emma Stone, yang lahir dengan nama Emily Jean Stone pada tahun 1988, memiliki karier yang sukses di Hollywood.
Ia terus menunjukkan bakatnya dalam berbagai genre film dan memenangkan Oscar untuk peran utama untuk "La La Land" pada 2017.
Ekspresinya yang dinamis dan wajahnya yang segar sering dipuji oleh kritikus, dan penelitian ilmiah sekarang menunjukkan bahwa proporsinya memang mendekati ideal klasik.
Salah satu aspek menarik dari Emma Stone adalah latar belakangnya sebagai aktris yang berasal dari Scottsdale, Arizona.
Sebelum masuk ke dunia film, ia mulai berkarier di teater, dan dikenal karena komitmennya terhadap peran yang beragam.
Dr. De Silva dan ahli lain berpendapat bahwa rasio emas bukanlah satu-satunya standar kecantikan.
Meskipun ia mengakui bahwa keyakinan pribadi dan budaya juga memainkan peran, pengukuran numerik memberikan kejelasan.
Penobatan Emma Stone sebagai wanita tercantik di dunia berdasarkan sains menunjukkan bagaimana matematika dan teknologi dapat menilai apa yang selama ini dianggap subjektif.
Emma Stone adalah contoh sempurna dari estetika Yunani kuno saat ini, dengan skor 94,72 persen. (Mutia/BSI)
Editor : Yosep Awaludin