RADAR BOGOR – Dulu, Metro Indah Mall dikenal sebagai salah satu pusat perbelanjaan paling ramai di Bandung Timur.
Orang-orang menyebut Metro Indah Mall sebagai "surganya Bandung Timur"—tempat belanja, hiburan, dan nongkrong dalam satu paket lengkap.f
Tapi, seperti banyak mal lainnya yang terkena dampak perubahan zaman, kejayaannya kini tinggal kenangan.
Kini, suasananya berubah drastis.
Lantai dasar masih mempertahankan denyut kehidupan: orang berlalu-lalang, jajan, atau sekadar numpang ngadem sambil mikir, “Pulang naik angkot atau ojol ya?”
Tenant-tenant seperti Hypermart, playground anak, dan beberapa gerai makanan masih setia berdiri.
AC tetap dingin, eskalator tetap bergerak, dan senyum ramah penjaga tetap menyambut pengunjung.
Tapi, begitu kaki melangkah ke lantai atas, cerita lain mulai terungkap.
Lantai satu dan dua mulai lengang.
Deretan toko tutup. Banyak kios yang sudah ditinggal penghuninya, ditutup dengan banner agar tidak terlalu kentara kesepiannya.
Suasana sunyi dan kosong membuat area atas ini lebih mirip lokasi syuting film horor dibandingkan pusat perbelanjaan.
Beberapa bagian bahkan terlihat seperti museum—bukan karena koleksi barang antik, tapi karena seolah menjadi saksi bisu era ketika belanja masih dilakukan secara langsung dan anak-anak menghabiskan waktu di Timezone, bukan di TikTok.
Mal ini seolah memasuki fase kontemplatif. Tak ramai, tapi tak benar-benar mati.
Di tengah banyaknya tenant yang tutup, masih ada beberapa titik kehidupan.
Ada gerai SIM Online, tempat ibadah, dan beberapa toko pakaian yang masih bertahan.
Terkadang muncul acara-acara kecil yang menghadirkan suasana meriah sementara.
Metro Indah Mall bukan sekadar bangunan bertingkat dengan eskalator dan AC dingin.
Ia adalah bagian dari perjalanan kolektif masyarakat Bandung Timur.
Tempat di mana banyak orang pernah menghabiskan waktu bersama keluarga, teman, atau pasangan.
Tempat yang menyimpan memori tentang makan bakso dua mangkuk, belanja baju Lebaran, atau sekadar jalan-jalan sambil cuci mata.
Meskipun sekarang terlihat sunyi, bukan berarti tak ada harapan.
Bisa jadi ini hanya jeda—sebuah masa tenang sebelum bangkit kembali.
Karena, seperti sinetron yang tampaknya sudah tamat, kadang kehidupan menghadirkan episode baru yang tak terduga.
Metro Indah Mall bukan mal yang mati—ia hanya sedang istirahat.
Menyimpan cerita, menunggu untuk kembali menghidupkan kenangan.***
Editor : Eli Kustiyawati