Rupiah Diprediksi Menguat Lagi Juli 2026, Menkeu dan BI Sebut Pelemahan Hanya Faktor Musiman

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Selasa, 19 Mei 2026 | 10:00 WIB
Menkeu Purbaya . Ia optimis nilai tukar Rupiah akan kembali normal pada periode Juli 2026. (Foto: Instagram @menkeuri)
Menkeu Purbaya . Ia optimis nilai tukar Rupiah akan kembali normal pada periode Juli 2026. (Foto: Instagram @menkeuri)

RADAR BOGOR – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi belakangan ini dinilai belum mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia secara menyeluruh.

Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) menilai tekanan pada mata uang rupiah lebih dipicu sentimen jangka pendek dan pola musiman, sehingga diperkirakan dapat kembali menguat mulai Juli 2026.

Optimisme tersebut disampaikan seiring keyakinan bahwa fundamental ekonomi nasional masih berada dalam kondisi stabil. 

Pemerintah menegaskan fokus utama saat ini adalah menjaga pertumbuhan ekonomi agar tetap berjalan baik, sembari memastikan pasar keuangan tetap terkendali.

Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pergerakan rupiah saat ini tidak perlu menimbulkan kekhawatiran berlebihan.

Menurutnya, kondisi ekonomi Indonesia jauh berbeda dibanding masa krisis keuangan Asia 1997–1998 yang kerap dijadikan pembanding.

Baca Juga: BPNT Tahap 2 Tahun 2026 Mulai Disalurkan, Warga Jawa Barat Kini Makin Gampang Cek Bansos

“Tekanan terhadap rupiah akan diperbaiki. Yang terpenting saat ini fundamental ekonomi nasional tetap solid," ujar Purbaya di Jakarta, Senin 18 Mei 2026.

"Situasi ini lebih banyak dipengaruhi sentimen jangka pendek, sehingga pemerintah fokus memastikan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga. Kami juga mulai masuk ke pasar obligasi untuk menjaga stabilitas,” tambahnya.

Ia menambahkan, sebagian pelaku pasar sempat mengaitkan pelemahan rupiah dengan potensi krisis seperti akhir 1990-an.

Namun menurutnya, kondisi ekonomi saat ini jauh lebih siap dan memiliki fondasi yang kuat.

Senada dengan itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyebut penguatan dolar AS terhadap rupiah saat ini sebagian besar terjadi karena lonjakan kebutuhan valuta asing yang bersifat musiman.

“Permintaan dolar meningkat karena beberapa kebutuhan rutin, seperti keberangkatan jemaah haji, pembayaran dividen perusahaan, serta kewajiban pembayaran utang luar negeri,” kata Perry saat berada di Gedung DPR RI.

Menurut BI, tekanan tersebut cenderung bersifat sementara dan diperkirakan mulai mereda pada paruh kedua tahun ini.

Berdasarkan tren beberapa tahun terakhir, rupiah umumnya mulai menunjukkan penguatan pada periode Juli hingga September.

“Berdasarkan pola yang terjadi sebelumnya, pada Juli sampai September rupiah biasanya kembali menguat. Kami memperkirakan nilainya akan bergerak pada kisaran Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS, sesuai asumsi makro dalam APBN,” jelas Perry.

Prediksi tersebut menjadi landasan BI untuk tetap menjaga stabilitas pasar keuangan dengan kebijakan yang terukur.

Baca Juga: 3 Kelebihan The Coffee Companion, Spot Ngopi Syahdu di Tengah Kota Bogor yang Cocok buat Santai dan WFC

Bank sentral memastikan langkah intervensi akan dilakukan bila dibutuhkan, namun tetap mempertimbangkan kecukupan likuiditas di dalam negeri.

Perry menegaskan, BI juga mengambil pelajaran dari krisis 1997–1998, ketika fokus besar pada penguatan rupiah justru memicu pengetatan likuiditas yang memperburuk kondisi ekonomi nasional.

“Kami belajar dari pengalaman itu. Karena itu, pembelian surat berharga negara di pasar sekunder dilakukan agar likuiditas tetap terjaga, sekaligus menjadi langkah menarik arus modal masuk,” ujar Perry.

Dengan kondisi fundamental ekonomi yang dinilai tetap solid dan tekanan musiman yang diperkirakan mereda dalam beberapa bulan ke depan.

Pemerintah dan Bank Indonesia sama-sama optimistis rupiah memiliki peluang besar untuk kembali menguat pada semester kedua 2026. (***)

Editor : Yosep Awaludin
dolar ekonomi indonesia rupiah bank indonesia