RADAR BOGOR - Gelombang perusahaan teknologi finansial dan aset kripto yang mengajukan izin pendirian bank di Amerika Serikat, semakin meningkat setelah pemerintahan Presiden, Donald Trump melonggarkan regulasi sektor keuangan.
Perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai penantang sistem perbankan konvensional kini mulai masuk langsung ke industri yang dulu mereka kritik.
Fenomena tersebut menjadi sinyal perubahan besar dalam peta industri keuangan global.
Baca Juga: KK Luar Jawa Barat? Siswa SMP Depok Dipastikan Tak Bisa Daftar Sekolah Maung
Sejumlah perusahaan besar seperti PayPal, Affirm, perusahaan broker aset digital, hingga pelaku industri kripto mulai mengurus banking charter atau lisensi perbankan di Amerika Serikat.
Tidak hanya sektor teknologi, tiga raksasa otomotif asal Detroit yakni Ford, General Motors, dan Stellantis juga ikut mengajukan izin serupa untuk memperluas layanan keuangan mereka.
World Liberty Financial yang memiliki hubungan dengan keluarga Presiden Donald Trump juga disebut masuk dalam daftar perusahaan yang mengurus lisensi perbankan di bawah skema regulasi terbaru tersebut.
Regulasi Dilonggarkan, Pemerintah AS Dorong Bank Baru Bermunculan
Meningkatnya minat perusahaan teknologi dan kripto menjadi bank terjadi setelah pemerintah AS mulai membuka ruang lebih luas bagi pendirian lembaga keuangan baru.
Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) disebut aktif mendukung masuknya pemain baru ke industri perbankan setelah pergantian pemerintahan di Washington.
Dikutip dari Jawa Pos, Comptroller of the Currency Amerika Serikat, Jonathan Gould mengatakan, pemberian lisensi baru penting untuk menciptakan keberagaman di sektor perbankan nasional.
Jonathan Gould menilai inovasi, kompetisi, dan akses keuangan yang lebih adil harus lebih diutamakan dibanding mempertahankan regulasi yang terlalu kaku dan stagnan.
Secara teknis, banking charter memungkinkan perusahaan mengelola pinjaman serta aset nasabah secara langsung tanpa terlalu bergantung pada bank pihak ketiga.
Namun, sebagian besar izin yang diajukan berbentuk national trust bank, yakni lembaga yang tidak menerima simpanan tradisional seperti bank umum dan tidak selalu mendapatkan perlindungan penuh dari FDIC.
Industri Perbankan Mulai Khawatir, Risiko Kredit Mahal Mengintai
Di balik tren tersebut, muncul kekhawatiran dari industri perbankan konvensional terkait potensi lemahnya pengawasan terhadap perusahaan teknologi dan kripto yang masuk ke sektor perbankan.
American Bankers Association menilai skema tersebut dapat membuka peluang arbitrase regulasi.
Baca Juga: Bukan Bali, 4 Destinasi Wisata Laut Tercantik di Sumatera Ini Dijamin Bikin Wisatawan Malas Pulang
Perusahaan dinilai bisa memperoleh keuntungan layaknya bank tanpa harus mematuhi seluruh aturan ketat yang selama ini diterapkan pada bank tradisional.
Kelompok bank komunitas di Amerika Serikat juga memperingatkan, batas pengawasan sektor keuangan berpotensi menjadi semakin kabur jika perusahaan teknologi mulai menjalankan fungsi inti perbankan.
Kekhawatiran lain datang dari lebih dari 100 kelompok konsumen di Amerika Serikat.
Mereka menilai sebagian perusahaan pemohon izin kemungkinan akan fokus pada kredit berisiko tinggi serta pinjaman berbunga mahal.
Menurut kelompok tersebut, kondisi itu dapat meningkatkan kerentanan konsumen di tengah sistem keuangan yang semakin kompleks dan digital.
Batas Teknologi dan Perbankan Semakin Tipis
Fenomena masuknya perusahaan teknologi, otomotif, dan kripto ke industri perbankan menunjukkan perubahan besar dalam lanskap keuangan Amerika Serikat.
Transformasi digital membuat batas antara perusahaan teknologi dan lembaga keuangan tradisional semakin tipis.
Perusahaan digital kini tidak lagi sekadar menyediakan layanan pembayaran atau investasi, tetapi mulai masuk langsung ke jantung bisnis perbankan.
Jika tren ini terus berkembang, industri keuangan global diperkirakan akan memasuki era baru di mana perusahaan teknologi memiliki peran yang sama besar dengan bank konvensional dalam mengelola layanan keuangan masyarakat. (din/gas)
Editor : Siti Dewi Yanti