RADAR BOGOR - Produk fesyen lokal Indonesia terus membuktikan kemampuannya untuk bersaing di pasar yang lebih luas. Salah satu contoh datang dari Sabiya Boutique, merek alas kaki wanita asal Tajur, Bogor, Jawa Barat, yang berhasil berkembang dari usaha kecil di masa pandemi hingga mampu menjangkau pasar internasional, termasuk Singapura dan Malaysia.
Mengusung semangat #SabiyaLoveYourFeet, Sabiya Boutique hadir menawarkan sandal dan sepatu wanita yang menggabungkan unsur kenyamanan, gaya, dan harga yang terjangkau. Koleksi yang ditawarkan mencakup berbagai model, mulai dari sandal heels, wedges, hingga sandal kasual yang dirancang mengikuti perkembangan tren tanpa mengabaikan desain yang timeless.
Merek Sabiya Boutique sebenarnya telah diperkenalkan sejak 2016 sebagai lini fesyen muslim. Namun, karena fokus usaha saat itu tertuju pada bisnis konveksi, pengembangan brand tersebut sempat tertunda pada 2018. Situasi berubah ketika pandemi Covid-19 melanda pada 2020 dan menyebabkan usaha yang dijalankan Arya Rusmana mengalami penurunan hingga akhirnya berhenti beroperasi.
Baca Juga: Golok Menuju UNESCO, Dedie Rachim: Warisan Budaya Bogor Harus Mendunia
Di tengah kondisi yang penuh tantangan tersebut, Arya memilih melakukan perubahan arah bisnis dengan menghidupkan kembali Sabiya Boutique dan memusatkan fokus pada produksi alas kaki wanita.
Arya Rusmana, pendiri sekaligus pemilik Sabiya Boutique, mengatakan bahwa ide membangun usaha tersebut berawal dari minatnya terhadap dunia fesyen wanita, khususnya produk alas kaki yang mampu memadukan kenyamanan dan tampilan elegan.
Perjalanan Sabiya Boutique
Lahirnya Sabiya Boutique kata Arya berawal dari ketertarikan dirinya terhadap dunia fashion wanita, khususnya sandal yang tidak hanya nyaman dipakai tetapi juga elegan, versatile, dan tetap terjangkau.
"Dari situlah kami mulai membangun Sabiya Boutique dengan tujuan menghadirkan produk yang bisa meningkatkan rasa percaya diri wanita dalam berbagai aktivitas," ujar Arya.
Pada masa awal pengembangan usaha, Sabiya Boutique dijalankan dengan sumber daya yang terbatas dan kapasitas produksi yang masih kecil. Untuk memperluas pasar, perusahaan memanfaatkan berbagai kanal digital seperti marketplace dan media sosial sebagai sarana utama penjualan.
Demi menjaga kualitas produk, seluruh proses produksi dilakukan secara mandiri di fasilitas yang berlokasi di Ciapus, Bogor. Pengawasan mutu diterapkan secara ketat pada setiap tahapan, mulai dari seleksi bahan baku, proses penjahitan, perakitan produk, hingga tahap akhir penyelesaian.
Selain itu, pemilihan material juga dilakukan secara selektif dengan menggandeng pemasok terbaik dari Bogor maupun daerah lainnya guna memastikan kualitas produk tetap konsisten.
Dalam strategi pemasaran, Sabiya Boutique aktif mengikuti perkembangan digital marketing. Berbagai pendekatan dilakukan, mulai dari produksi konten video, siaran langsung penjualan (live shopping), pemanfaatan iklan digital, hingga kolaborasi bersama afiliator dan influencer.
Perusahaan juga berupaya mempertahankan loyalitas pelanggan melalui layanan konsumen yang responsif serta menghadirkan koleksi edisi terbatas pada momen-momen tertentu, seperti Ramadan, Idulfitri, dan musim liburan.
Keberhasilan memperluas pasar hingga ke luar negeri turut didukung oleh sistem distribusi yang terkelola dengan baik. Sejak 2025, Sabiya Boutique mempercayakan layanan pengiriman produknya kepada JNE.
Bagi Arya, kerja sama dengan JNE bukan hal baru karena perusahaan logistik tersebut telah lama menjadi mitra pengiriman dalam sejumlah usaha yang pernah ia jalankan sebelumnya.
Seiring perkembangan bisnis, Arya juga mulai memanfaatkan program JNE Loyalty Card (JLC) sebagai salah satu sarana untuk memberikan nilai tambah kepada pelanggan.
"Manfaat yang paling terasa adalah adanya promo eksklusif serta kemudahan pengiriman yang membantu efisiensi biaya operasional bisnis kami. Karena kami belum lama bergabung di JLC, saat ini yang paling dirasakan dalam proses pesanan manual," ungkap Arya.
Berdasarkan pengalamannya membangun usaha dari titik awal, Arya turut membagikan sejumlah pesan kepada para pelaku UMKM yang sedang merintis bisnis.
Menurutnya, pengusaha pemula tidak perlu terlalu terbebani untuk langsung menciptakan produk yang sempurna atau berbeda secara ekstrem. Fokus utama pada tahap awal adalah membangun arus kas yang sehat dan memahami data yang dihasilkan dari aktivitas bisnis.
Ia juga menekankan pentingnya penguasaan digital marketing sebagai salah satu faktor utama pertumbuhan usaha di era saat ini. Bahkan, menurutnya, pelaku usaha perlu meluangkan waktu khusus untuk mempelajari perkembangan strategi pemasaran digital secara berkelanjutan.
Selain itu, Arya mengajak para pelaku UMKM untuk terus belajar, menikmati setiap proses perkembangan usaha, menetapkan target yang realistis, serta berani melakukan inovasi baik pada produk maupun strategi branding ketika kondisi bisnis telah semakin stabil dan berkembang.
Editor : Eka Rahmawati