Bangkitkan Pemikiran Sumitronomics, ISEI Dorong Ekonomi RI Berbasis Produktivitas

Fikri Rahmat Utama • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 10:24 WIB
Foto bersama ekonom yang tergabung dalam ISEI. (Foto: Panitia for Radar Bogor)
Foto bersama ekonom yang tergabung dalam ISEI. (Foto: Panitia for Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia atau ISEI mendorong perubahan arah pembangunan ekonomi nasional. 

ISEI menilai pertumbuhan ekonomi perlu ditopang peningkatan produktivitas agar mampu memperkuat daya saing Indonesia.

Gagasan tersebut dibahas dalam Sidang Pleno XXV ISEI di Kota Bogor. Dalam forum itu, ISEI kembali mengangkat pemikiran ekonom Prof. Sumitro Djojohadikusumo melalui konsep “Sumitronomics”.

Sekretaris Umum PP ISEI, Solikin M. Juhro, mengatakan gagasan tersebut dikaji kembali melalui Kajian Kebijakan Publik (KKP).

Kajian itu disusun untuk menyesuaikan pemikiran Sumitro dengan tantangan ekonomi Indonesia saat ini.

“Sumitronomics tetap relevan dalam mendukung stabilitas ekonomi,” ujar Solikin.

Baca Juga: Kabar Gembira! Bansos Rp300 Ribu Masuk Bank DKI, Cek KLJ KPDJ KAJ

Menurut Solikin, konsep tersebut dapat menjadi salah satu pijakan menuju pembangunan yang digerakkan oleh produktivitas atau productivity-led development.

Ia menyebut institusi yang terpercaya dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam pergeseran tersebut.

Sementara itu, Pengurus Pusat ISEI Bidang III, Dr. Jardine A. Husman, menyoroti peran sektor manufaktur dalam mendorong produktivitas ekonomi.

Ia merujuk pada kerangka ekonomi Solow dan Kaldor yang menempatkan manufaktur sebagai salah satu sektor penting dalam pertumbuhan berkelanjutan.

Berdasarkan kajian empiris ISEI, Jardine menyebut setiap kenaikan 1 persen sektor manufaktur diproyeksikan dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sekitar 0,34 persen.

Jardine mengatakan penguatan manufaktur perlu didorong melalui hilirisasi sumber daya alam.

Langkah tersebut dinilai dapat meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperkuat struktur industri nasional.

Ketua Bidang II PP ISEI sekaligus Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, memaparkan perkembangan hilirisasi di sejumlah daerah.

Salah satunya terlihat dari pertumbuhan ekonomi Maluku Utara yang mencapai 15,35 persen.

Menurut Amalia, pertumbuhan tersebut didorong aktivitas hilirisasi logam, terutama nikel.

Baca Juga: Healing Akhir Pekan di Leuwi Batok, Kolam Alami Jernih di Kawasan Cibadak Sukamakmur Bogor

Angka tersebut berada jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 5,7 persen secara tahunan.

Di sisi lain, Pengurus Pusat Bidang I PP ISEI, Prof. Dr. Wasiaturrahma, mengingatkan pemerintah agar tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi. Ia menilai kondisi daya beli masyarakat juga perlu menjadi perhatian.

Melalui ISEI Indeks, Wasiaturrahma menyebut sejumlah persoalan yang masih menjadi perhatian para ekonom.

Di antaranya penurunan daya beli masyarakat, kenaikan harga komoditas, keterbatasan bahan pokok, ketahanan energi, hingga defisit APBN.

Berbagai masukan tersebut menjadi bagian dari pembahasan ISEI dalam merumuskan arah kebijakan ekonomi nasional.

ISEI mendorong agar peningkatan produktivitas dan hilirisasi berjalan seiring dengan upaya menjaga daya beli masyarakat. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
ISEI kota bogor ekonomi nasional