RADAR BOGOR - Memulai usaha, tidak selalu harus menunggu punya modal puluhan juta rupiah.
Bahkan, sejumlah peluang bisnis bisa dimulai dari rumah dengan memanfaatkan barang, keterampilan, waktu, dan kebutuhan orang-orang di sekitar.
Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Rizki Riyanto mengatakan, calon pelaku usaha sebaiknya tidak hanya terpaku pada ide bisnis yang sedang viral.
Baca Juga: Razia Tempat Hiburan Malam di Kota Bogor, 28 Botol Miras Diamankan Satpol PP
Menurutnya, peluang justru bisa ditemukan dari persoalan sederhana yang setiap hari dialami masyarakat.
“Jangan hanya berpikir mau menjual apa. Coba lihat masalah apa yang paling sering dikeluhkan orang di sekitar kita. Dari masalah itu, bisa muncul peluang usaha,” ujar Rizki kepada Radar Bogor, Sabtu 19 September 2026.
Menariknya, dari tujuh jenis usaha rumahan yang bisa dikembangkan dengan modal relatif kecil, ada satu bidang yang mungkin dianggap kurang menarik oleh sebagian orang.
Padahal, ketika kebutuhan terhadap layanan tersebut ada, pekerjaan yang sering dipandang sebelah mata itu tetap memiliki nilai ekonomi.
Modal Usaha Tidak Selalu Berbentuk Uang
Sebelum menentukan jenis usaha, Rizki mengingatkan bahwa modal tidak selalu berarti uang tunai.
Dapur yang jarang digunakan, kulkas yang menyala sepanjang hari, kendaraan yang lebih sering terparkir di rumah hingga waktu luang dapat menjadi aset yang memiliki nilai ekonomi.
Jaringan sosial di lingkungan tempat tinggal juga dapat menjadi modal penting.
Tetangga yang sudah saling mengenal dapat menjadi calon pelanggan pertama ketika sebuah usaha baru dimulai.
Namun, hubungan tersebut tetap perlu dikelola secara profesional agar kegiatan usaha tidak bercampur dengan persoalan pribadi.
1. Jasa Belanja untuk Tetangga yang Sibuk
Kesibukan bekerja membuat sebagian orang tidak memiliki cukup waktu untuk pergi ke pasar, minimarket atau mengambil barang.
Situasi tersebut bisa menjadi peluang usaha sederhana.
Baca Juga: Penginapan Rp300 Ribuan di Megamendung Bogor, Maru Cabin and Grill Tawarkan Kabin Estetis
Pelaku usaha dapat menawarkan jasa membelikan kebutuhan harian, mengambil paket, membeli barang tertentu atau membantu keperluan kecil yang membutuhkan waktu.
Tidak perlu langsung memiliki puluhan pelanggan. Dua atau tiga pelanggan pertama dapat menjadi awal untuk menguji apakah layanan tersebut benar-benar dibutuhkan.
Jika pelanggan bertambah, layanan dapat dikembangkan menjadi sistem langganan.
Keuntungannya bukan hanya dari transaksi, tetapi dari terbentuknya pelanggan tetap yang membutuhkan bantuan secara berulang.
2. Jasa Setrika, Pekerjaan yang Sering Ditunda
Ada pekerjaan rumah tangga yang sebenarnya sederhana, tetapi sering ditunda karena membutuhkan waktu dan tenaga.
Salah satunya menyetrika pakaian.
Bagi pasangan yang sama-sama bekerja, pekerjaan tersebut dapat menjadi beban tambahan setelah pulang ke rumah.
Kondisi ini menciptakan peluang bagi orang yang ingin membuka jasa setrika dari rumah.
Daripada hanya mengandalkan pesanan satu kali, layanan dapat dibuat dalam paket mingguan atau bulanan.
Dengan sistem langganan, pelanggan memperoleh kepastian layanan, sedangkan pelaku usaha memiliki pemasukan yang lebih teratur.
3. Jualan Sarapan yang Bisa Langsung Dibawa
Pagi hari menjadi waktu yang sangat sibuk bagi pekerja dan pelajar.
Tidak semua orang sempat duduk menikmati sarapan.
Baca Juga: Mensos Sebut Ada 4,3 KPM Baru, Bansos Dobel Mulai Cair September 2026
Sebagian hanya membutuhkan makanan yang sudah siap, mudah dibawa dan bisa langsung disantap.
Nasi uduk, nasi kuning atau menu sarapan sederhana dapat menjadi pilihan.
Kuncinya bukan membuat terlalu banyak menu.
Justru, pilihan yang terbatas dapat membuat proses produksi lebih sederhana dan membantu menjaga konsistensi rasa.
Untuk pemula, jumlah produksi sebaiknya disesuaikan dengan perkiraan pelanggan.
Memulai dengan belasan porsi dapat menjadi cara untuk membaca permintaan sebelum meningkatkan jumlah produksi.
4. Bumbu dan Sayuran Siap Masak
Ada pula calon pelanggan yang sebenarnya masih ingin memasak di rumah, tetapi enggan melakukan pekerjaan persiapan.
Mengupas bawang, mencuci sayuran, memotong bahan dan menyiapkan bumbu bisa menghabiskan waktu.
Di sinilah produk bumbu dasar dan sayuran siap masak dapat menjadi pilihan.
Bahan yang sudah dibersihkan dan dipotong dapat dikemas dalam satu paket.
Baca Juga: Mobil Hybrid vs Mobil Biasa: Ini Perbedaan, Cara Kerja, Kelebihan dan Kekurangannya
Bumbu dan bahan pelengkap juga bisa digabungkan berdasarkan menu tertentu.
Konsep ini membuat pelanggan tidak perlu terlalu lama memikirkan persiapan makanan.
Dari sisi usaha, penggunaan bahan mentah juga perlu diperhitungkan dengan cermat agar tidak banyak produk yang terbuang.
“Dalam usaha makanan, pengelolaan bahan sangat penting. Jangan sampai keuntungan dari penjualan justru habis karena terlalu banyak bahan yang tidak terpakai,” kata Rizki.
5. Menjadi Penyalur Frozen Food
Usaha rumahan berikutnya adalah menjadi penyalur makanan beku.
Pelaku usaha tidak perlu memproduksi sendiri.
Produk seperti nugget, sosis, dimsum dan makanan beku lainnya dapat diperoleh dari pemasok kemudian ditawarkan kepada warga sekitar.
Model ini relatif sederhana, tetapi tetap memiliki biaya yang harus diperhatikan.
Freezer membutuhkan listrik setiap hari.
Karena itu, stok tidak sebaiknya dibiarkan terlalu lama.
Semakin cepat produk berputar, semakin mudah pelaku usaha mengendalikan biaya operasional.
6. Agen Pulsa dan Token Listrik
Usaha dengan keuntungan per transaksi yang kecil juga tetap bisa dikembangkan jika memiliki pelanggan yang melakukan pembelian berulang.
Contohnya adalah agen pulsa, paket data, token listrik dan layanan pembayaran digital.
Margin setiap transaksi memang tidak besar.
Namun, kebutuhan tersebut muncul secara berulang.
Selain menjadi sumber pemasukan, layanan digital juga bisa menjadi pintu masuk untuk menawarkan produk lain kepada pelanggan.
Misalnya, pelanggan yang datang membeli token listrik dapat sekaligus ditawari frozen food atau produk makanan siap masak yang tersedia di rumah.
Dengan begitu, satu pelanggan berpotensi menggunakan lebih dari satu layanan.
7. Jasa Angkut Barang Bekas, Peluang yang Sering Diabaikan
Peluang terakhir mungkin bukan jenis usaha yang langsung terpikir oleh banyak orang.
Jasa mengangkut barang berukuran besar seperti kasur lama, lemari rusak, sisa material renovasi atau barang elektronik yang sudah tidak digunakan bisa menjadi kebutuhan tersendiri.
Masalahnya, tidak semua layanan pengangkutan sampah bersedia membawa barang tersebut.
Kondisi itu dapat dimanfaatkan sebagai peluang jasa.
Pelaku usaha bahkan tidak harus langsung memiliki kendaraan bak terbuka.
Biaya jasa dari pelanggan dapat digunakan untuk menyewa kendaraan sesuai kebutuhan.
Selain mendapatkan bayaran dari jasa angkut, sejumlah barang yang dibawa masih dapat memiliki nilai jual sebagai barang rongsokan.
Kardus, besi, kabel dan material tertentu dapat dipilah kemudian dijual kepada pengepul.
“Pekerjaan yang dianggap sepele belum tentu tidak memiliki nilai ekonomi. Selama ada kebutuhan dan ada orang yang bersedia membayar untuk mendapatkan solusi, peluang usaha tetap ada,” ujar Rizki kepada Radar Bogor.
Jangan Sampai Keuntungan Dimakan Sendiri
Memulai usaha memang penting, tetapi mempertahankannya jauh lebih membutuhkan kedisiplinan.
Salah satu persoalan yang sering muncul pada usaha kecil adalah uang hasil penjualan langsung digunakan untuk kebutuhan pribadi.
Pengambilan uang dalam jumlah kecil mungkin terlihat tidak berarti.
Namun, jika dilakukan setiap hari, jumlahnya bisa menggerus modal secara perlahan.
Karena itu, uang usaha sebaiknya dipisahkan dari uang pribadi.
Pemilik usaha bisa menggunakan rekening, dompet atau tempat penyimpanan yang berbeda.
Tujuannya sederhana: uang yang seharusnya digunakan membeli stok tidak ikut terpakai untuk kebutuhan rumah tangga.
Kasbon Tetangga Bisa Mengganggu Perputaran Modal
Persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan memberikan kasbon.
Bagi usaha dengan modal terbatas, uang tunai merupakan bagian penting dari operasional.
Baca Juga: Kampas Ganda NMAX Dinilai Tipis Bikin Gredek Parah? Posisi Plat Pengunci Ternyata Wajib Diperhatikan
Ketika pembayaran pelanggan tertunda, pelaku usaha bisa kesulitan membeli stok berikutnya.
Rizki mengatakan hubungan baik dengan tetangga tetap penting, tetapi sistem pembayaran dalam usaha perlu memiliki batas yang jelas.
“Arus kas adalah bagian penting dalam usaha kecil. Kalau uang penjualan terlalu banyak tertahan, pelaku usaha bisa kesulitan memutar modal untuk kegiatan berikutnya,” tuturnya.
Mulai dari Masalah yang Ada di Sekitar
Pada akhirnya, usaha rumahan tidak harus dimulai dengan konsep yang rumit.
Peluang bisa muncul dari kebutuhan sederhana, seseorang membutuhkan bantuan berbelanja, tidak sempat menyetrika, mencari sarapan, ingin memasak tanpa repot menyiapkan bahan, membutuhkan stok makanan beku atau ingin menyingkirkan barang besar dari rumah.
Kuncinya adalah melihat kebutuhan tersebut sebagai peluang, kemudian mengujinya dalam skala kecil.
Tidak perlu langsung menyewa ruko atau membeli banyak peralatan.
Mulailah dari aset yang sudah tersedia, cari pelanggan pertama di lingkungan sekitar, hitung seluruh biaya dan pisahkan uang usaha dari keuangan pribadi.
Dengan cara itu, ide usaha rumahan tidak berhenti sebagai rencana, tetapi bisa diuji menjadi kegiatan ekonomi yang nyata. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti