RADAR BOGOR - MD Pictures kembali menghadirkan proyek film horor ambisius lewat film 402 Rumah Sakit Angker Korea.
Film horor ini digadang-gadang menjadi penerus kesuksesan horor found footage besar sebelumnya yang disutradarai oleh Anggi Umbara, dengan naskah ditulis oleh Lele Laila.
Film horor ini merupakan adaptasi resmi atau remake dari film Gonjiam Haunted Asylum, karya horor asal Korea Selatan yang sempat mengguncang dunia perfilman pada tahun 2018.
Meski demikian, versi Indonesia ini menjanjikan pendekatan yang lebih relevan dengan era digital saat ini, khususnya fenomena live streaming dan konten kreator.
Baca Juga: Green Goblin Comeback? Rumor Willem Dafoe Gabung Avengers: Doomsday Bikin Fans MCU Heboh
Kisah Asli Gonjiam yang Melegenda
Film aslinya, Gonjiam Haunted Asylum, dikenal sebagai salah satu karya found footage terbaik dalam sejarah genre horor supranatural.
Kisahnya berfokus pada sekelompok konten kreator yang melakukan siaran langsung di sebuah rumah sakit terbengkalai demi mengejar popularitas, hingga akhirnya harus menghadapi teror mematikan yang tidak terduga.
Baca Juga: Film The Rope Curse 4: Kuntilanak, Franchise Horor Taiwan Angkat Hantu Ikonik Indonesia
Gonjiam sendiri merupakan rumah sakit jiwa nyata yang berlokasi di Gwangju, Korea Selatan, dan telah lama menjadi urban legend.
Bangunan tersebut terbengkalai sejak tahun 1990-an akibat masalah biaya dan pengelolaan, dan kisah mistis mengenai penampakan hantu maupun arwah pasien sering terdengar dari para pemburu hantu yang nekat memasukinya.
Produksi dan Jajaran Pemain
Baca Juga: Iko Uwais Jadi Villain di Film Action China 'Wings of Dread', Cek Sinopsis dan Faktanya di Sini
Film 402 Rumah Sakit Angker Korea digarap melalui kolaborasi antara MD Pictures, Umbara Brothers Film, dan Pichouse Films.
Deretan bintang muda Indonesia turut terlibat, di antaranya Arbani Yasiz, Saputra Kori, Elang El Gibran, dan Tiandra Ageta. Selain itu, terdapat pula Elena Pusel dan Lea Ciarachel yang melengkapi daftar pemain.
Menariknya, kreator konten asal Korea Selatan yang populer di Indonesia, Jang Hansol, turut berakting sebagai karakter bernama Deok.
Baca Juga: Dokumenter Michael Jackson: The Verdict Meledak di Netflix, tapi Tuai Kontroversi
Konsep Found Footage dengan 28 Kamera
Salah satu keunikan film ini terletak pada pendekatan found footage yang mengandalkan hingga puluhan kamera sekaligus.
Sutradara menyebut penggunaan hingga 28 kamera dalam setiap sesi syuting sebagai salah satu tantangan teknis terbesar sepanjang kariernya, di mana satu pemain bahkan bisa memegang dua hingga tiga kamera sekaligus.
Baca Juga: Film Colony Tembus 1 Juta Penonton, Film Asing Pertama 2026 yang Cetak Rekor di Indonesia
Konsep ini terinspirasi dari film-film seperti The Blair Witch Project dan Cloverfield yang sukses menghadirkan nuansa realitas semu, namun dikombinasikan dengan skala produksi yang jauh lebih kompleks.
Proses pengembangan film ini bahkan memakan waktu hingga dua tahun sejak tahap awal produksi, dengan penggunaan berbagai jenis kamera mulai dari perangkat kecil hingga kamera profesional seperti Panasonic dan DSLR.
Penulis skenario mengungkapkan bahwa proyek ini menjadi salah satu kolaborasi yang sangat dinantikan, mengingat film aslinya merupakan salah satu karya favorit yang dianggap sebagai masterpiece sutradara Jung Bum-shik.
Baca Juga: Film Colony Tembus 1 Juta Penonton, Film Asing Pertama 2026 yang Cetak Rekor di Indonesia
Tantangan terbesar dalam proses adaptasi adalah menjaga kualitas cerita agar setara atau bahkan lebih baik dari karya aslinya, tanpa mengkhianati esensi cerita legendaris tersebut.
Untuk mendapatkan atmosfer yang autentik, proses syuting bahkan dilakukan langsung di lokasi Korea Selatan.
Sinopsis Cerita
Baca Juga: Film Bila Esok Ibu Tiada Jadi Perbincangan, Kisah Haru Ibu dan Anak Sentuh Hati Penonton
Film 402 Rumah Sakit Angker Korea menceritakan perjalanan sekelompok remaja asal Indonesia yang pergi ke Korea Selatan dan nekat melakukan siaran langsung atau live streaming uji nyali di sebuah rumah sakit terbengkalai yang dikenal sangat angker.
Demi mengejar target penonton hingga tiga juta orang, ambisi mereka untuk viral justru berubah menjadi mimpi buruk ketika satu per satu anggota tim mulai menghilang secara misterius, sementara kamera tetap menyala merekam seluruh kejadian.
Salah satu daya tarik utama film ini adalah transformasi karakter yang dimainkan oleh Arbani Yasiz, yang dikenal luas melalui peran-peran protagonis bernuansa manis.
Baca Juga: 3 Rekomendasi Film Horor Indonesia Terbaru 2026 untuk Temani Momen Liburan Sekolah
Dalam film ini, karakter yang ia perankan dirancang jauh lebih kelam dan penuh misteri, menyimpan rahasia tersendiri yang diprediksi akan memancing rasa penasaran penonton sepanjang cerita berlangsung.
Jadwal Tayang
Film 402 Rumah Sakit Angker Korea dijadwalkan tayang serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia mulai 9 Juli 2026. Berikut beberapa poin penting mengenai film ini:
Remake terkenal: Merupakan adaptasi resmi dari Gonjiam Haunted Asylum, film horor Korea Selatan populer yang dirilis tahun 2018 dan terinspirasi kisah nyata rumah sakit jiwa terbengkalai di Gwangju.
Judul dan jadwal tayang: Berjudul 402 Rumah Sakit Angker Korea, tayang mulai 9 Juli 2026.
Nuansa lokal: Cerita disesuaikan dengan melibatkan sekelompok kreator konten remaja asal Indonesia yang nekat melakukan live streaming di lokasi angker tersebut.
Baca Juga: Daftar 5 Drama Korea yang Menyelipkan Unsur Indonesia dalam Cerita, Cocok untuk Mengisi Waktu Libur
Pemain dan sutradara: Disutradarai oleh Anggi Umbara, dibintangi Arbani Yasiz, Saputra Kori, Elang El Gibran, Tiandra Ageta, serta kreator konten Jang Hansol.
Lokasi produksi: Syuting dilakukan langsung di Korea Selatan untuk menghadirkan atmosfer yang autentik.
Pesaing horor 2026: Diproyeksikan menjadi salah satu film horor terkuat tahun ini mengingat basis penggemar cerita Gonjiam yang sudah sangat kuat di Indonesia.
Secara keseluruhan, film 402 Rumah Sakit Angker Korea berpotensi menawarkan teror intens ala found footage dengan sentuhan lokal Indonesia yang mengangkat fenomena live streaming horor di kalangan konten kreator muda.***
Editor : Eli Kustiyawati