RADAR BOGOR—Banyak umat Islam meninggal akibat gempa besar yang mengguncang Myanmar pada 28 Maret lalu. Pasalnya gempa terjadi saat umat muslim tengah menunaikan ibadha Salat Jumat.
Media di Myanmar melaporkan bahwa, gempa menyebabkan sekitar 60 masjid roboh. Lebih dari 700 orang meninggal dunia tertimbun reruntuhan.
Mereka adalah jemaah salat Jumat yang tertimbun di bawah reruntuhan masjid. Masjid-masjid itu terletak di Mandalay dan Sangaing Myanmar, keduanya terkena dampak gempa berkekuatan 7,7 SR.
Puluhan masjid runtuh karena sebagian besar sudah tua. Banyak masjid didirikan pada abad ke-19.
Masjid-masjid di Naypyitaw, Pyinmana, Pyawbwe, Yamethin, Thazi, Meiktila, Kyaukse, dan Paleik juga dilaporkan rusak, selain di Mandalay dan Sagaing.
Tim bantuan kemanusiaan dari Indonesia sudah tiba di Myanmar dan mulai menjalankan tugasnya.
Di lapangan, mereka langsung melihat beberapa bangunan masjid runtuh karena gempa. Mereka merasakan langsung kuatannya.
Prof. Noor Achmad, ketua Baznas, menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas musibah ini.
Mereka meminta umat Muslim Indonesia untuk bersatu untuk mendukung dan membantu saudara-saudara di Myanmar yang sedang mengalami kesulitan.
Bencana ini sangat memprihatinkan. Banyak saudara sesama Muslim kita tidak hanya kehilangan tempat ibadah mereka, tetapi juga kehilangan nyawa mereka.
"Kami merasa terpanggil untuk membantu mereka bangkit kembali karena kami mewakili masyarakat Indonesia," ujar Prof. Noor Achmad Sabtu (4/4/2025).
Dia menyatakan bahwa Baznas akan segera memulai proses pemulihan, terutama pembangunan kembali masjid yang rusak.
Namun, ia juga menegaskan bahwa upaya tersebut akan dilakukan dengan mempertimbangkan apa yang akan terjadi setelah bencana. Selain itu, kondisi politik dan keamanan Myanmar masih belum sempurna.
Noor menyatakan bahwa mereka akan mulai membangun kembali tempat ibadah yang hancur sesegera mungkin, tetapi tentu saja, mereka harus menunggu kondisi yang lebih kondusif agar prosesnya berjalan dengan aman dan lancar.
Pada awalnya, mereka mengirimkan tim bantuan kemanusiaan yang terdiri dari Tim Tanggap Bencana Baznas (BTB) dan tenaga medis dari Rumah Sehat Baznas (RSB) untuk mempercepat proses pemulihan setelah bencana.
"Alhamdulillah, tim kemanusiaan Baznas yang tergabung dalam Tim Pencarian dan Pertolongan Indonesia (INASAR) telah tiba di lokasi dan langsung bergerak membantu para korban," tuturnya.
Selain itu, tim Charlie, yang terdiri dari anggota INASAR, Baznas, dan Vertical Rescue, dikirim ke lokasi yang terkena dampak.
Untuk menentukan tindakan lanjut, mereka ditugaskan untuk melakukan asesmen dan melaporkan kondisi terbaru.
Noor juga meminta masyarakat Indonesia untuk membantu saudara Muslim di Myanmar. Dia mengatakan bahwa untuk mempercepat pemulihan dan rekonstruksi masjid yang hancur, donasi dan dukungan masyarakat akan sangat penting. (***)
Editor : Yosep Awaludin