RADAR BOGOR – Negara bagian Assam di timur laut India dilanda banjir besar yang disebut sebagai bencana terparah dalam enam dekade terakhir.
Hujan ekstrem yang mengguyur wilayah Assam, India tersebut sejak pertengahan Juli memicu meluapnya sungai-sungai besar sehingga banjir, serta tanah longsor yang mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan luas.
Berdasarkan data pemerintah India, sedikitnya 68 orang meninggal dunia dalam empat pekan terakhir akibat bencana banjir hingga longsor.
Dari jumlah tersebut, 58 korban dilaporkan meninggal hanya dalam sepekan terakhir. Selain itu, sekitar 40 orang masih dinyatakan hilang dan proses pencarian terus dilakukan.
Baca Juga: Ijazah Terjatuh ke Sumur, Pelajar di Ciampea Bogor Minta Bantuan Damkar
Bencana ini turut berdampak pada lebih dari 600 ribu warga. Puluhan ribu di antaranya terpaksa meninggalkan rumah dan mengungsi ke sejumlah tempat penampungan darurat akibat permukiman mereka terendam banjir.
Ketua Menteri Assam, Himanta Biswa Sarma, mengungkapkan curah hujan di wilayah Assam dan sekitarnya meningkat hingga 435 persen dibandingkan kondisi normal.
Akibatnya, Sungai Brahmaputra beserta puluhan anak sungainya meluap dan merendam kawasan permukiman.
Wilayah Assam bagian atas, seperti Distrik Jorhat, Sivasagar, dan Charaideo, menjadi daerah yang mengalami dampak paling parah. Sejumlah desa terisolasi setelah akses jalan terputus, sehingga menyulitkan tim penyelamat menjangkau warga yang masih terjebak.
Para ahli lingkungan menilai keparahan banjir tahun ini tidak hanya dipengaruhi oleh perubahan iklim, tetapi juga diperparah oleh penggundulan hutan di kawasan hulu serta pendangkalan sungai akibat sedimentasi yang mengurangi kapasitas aliran air.
Di tengah bencana, sejumlah kisah perjuangan warga turut menjadi sorotan. Seorang ibu bernama Rekhamoni Gogoi bersama putranya yang berusia tujuh tahun dilaporkan bertahan selama 12 jam di atas pohon mangga setelah banjir menerjang desa mereka pada malam hari.
Keduanya berhasil dievakuasi tim penyelamat keesokan harinya.
Sementara itu, Saline Patro (18), warga Distrik Jorhat, mengaku kehilangan rumah yang hanyut diterjang arus deras. Ia mengatakan banjir datang begitu cepat sehingga keluarganya tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga.
Pemerintah India telah mengerahkan tim tanggap darurat untuk mempercepat distribusi bantuan logistik, layanan kesehatan, serta pemulihan infrastruktur dasar di wilayah terdampak.
Baca Juga: Bupati Bogor Percepat Pendataan Aset Daerah, Jadi Fondasi Pembangunan yang Lebih Tepat Sasaran
Selain melanjutkan pencarian korban yang masih hilang, pemerintah juga mulai menyiapkan tahap rehabilitasi dan rekonstruksi guna membantu masyarakat bangkit pascabencana.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga