Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Gubernur Jawa Barat Ungkap di Jabar Ada Triliuner, Tapi Dedi Mulyadi Juga Temui 17 Orang Tinggal di Tanah Negara 3x4 Meter dan Terpaksa Tidur Giliran

Lucky Lukman Nul Hakim • Kamis, 10 April 2025 | 14:54 WIB
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi berdialog dengan para staf di lingkungan Pemprov Jabar.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi berdialog dengan para staf di lingkungan Pemprov Jabar.

RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengungkapkan, masih adanya ketimpangan taraf hidup masyarakat di Jawa Barat (Jabar).

"Saya biasa berkeliling bertemu dengan warga, ada orang yang kekayaannya mencapai triliunan, tetapi ada orang yang tidak punya satu jengkal tanah pun," ungkap Dedi Mulyadi ketika halal bihalal di hadapan para ASN.

Dedi Mulyadi mengungkapkan, orang miskin tersebut tinggal di 4x3 meter tanah negara yang hanya ditutup pakai bangunan plastik diisi oleh 17 orang dan hampir lima kepala keluarga.

"Dalam satu keluarga, kasurnya yang satu di sini, yang satu di sini mereka tidur bergiliran," kata Dedi Mulyadi.

"Kebayang lamun salaki hayang ka pamajikanana kan itu problem," sambung Dedi Mulyadi.

Problem tersebut, kata Dedi Mulyadi, tidak dibangun dalam siklus ikatan emosi terhadap lingkungan keterikatan diri dengan tanah, air, udara, matahari yang disebut Papat Kalima Pancer.

"Yang mungkin dulu disebutnya musyrik-musyrik, itu sesungguhnya adalah kerangka berpikir teologi orang Sunda yang mengajarkan manusia itu akan mengalami kedamaian, ketentraman, ketenangan dan kebahagiaan," jelas Dedi Mulyadi.

"Manakala dia bersatu dengan ekosistemnya, maka dia bahagia ciri bahwa manusia akan terikat pada ekosistem lingkungannya itu lebaran," sambung Dedi Mulyadi.

"Apa ciri lebaran? Anda sudah sukses di Bandung, menjadi eslon 2A, anda sukses di Jakarta menjadi eslon 1A, lebaran walaupun macet tetap ingin pulang ke kampung kenapa karena di situ cikal bakal Anda tumbuh di situ, ekosistem Anda hidup," jelas Dedi Mulyadi.

Lebih lanjut Dedi Mulyadi mengatakan, maka lebaran itu intinya adalah budaya membawa anak-anak bertemu dengan saudara-saudaranya, sesungguhnya adalah itu budaya membangun kembali ekosistem dalam sebuah komunitas hidup yang disebutnya paguyuban.

Baca Juga: Disdik Beberkan Maksud Rencana Sekolah Percontohan di Kabupaten Bogor, Begini Katanya

"Itu budayanya patembayan dan itu melahirkan ikatan emosi kekerabatan dari ikatan emosi kekerabatan itu akan lahir kepersaudaraan dan ikatan batin serta menjadi kekuatan politik yang sangat luar biasa," tutur Dedi Mulyadi.

"Siapa yang sudah melakukan itu? orang-orang Batak, orang Sulawesi Selatan karena dia punya ikatan emosi kekerabatan, budayanya, paguyuban walaupun di kita ini ada paguyuban tetapi mereka jauh lebih real dibanding kita," jelas Dedi Mulyadi.

"Sinaga sinaga sinaga hutapea hutapea hutapea hutagalung hutagalung hutagalung sampai kiamat dia tetap menjadi orang batak, ketika yang satunya berhasil maka komunitas itu, marga itu akan dengan mudah," kata Dedi Mulyadi.

"Saya hutabarat bertemulah pengacara, semuanya hutabarat nanti jadi HRD di perusahaan ya mana siapa yang ngelamar marganya sama dia, kita saudara kita saudara kita, saudara orang yang di perantauan bertemu dengan satu marga, maka dia akan ikatan emosional dan kerabatannya akan kuat sehingga yang tertinggal terbawa yang sama, yang maju beda dengan orang Sunda, makanya saya berulang-ulang ikatan kekerabatan ini penting," pungkas Dedi Mulyadi. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#dedi mulyadi #bogor #gubernur jawa barat #lebaran